RADARSOLO.COM - Lagu Dengarkan dengan Telinga Hati karya Agustina Rini resmi dirilis dalam video klip istimewa yang memadukan vokal, tari, dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).
Lagu ini didedikasikan untuk teman-teman tuli, karya ini menjadi wujud inklusi seni yang menyentuh hati.
Senyum penuh semangat dari tim Sandhya Production menyambangi kantor Jawa Pos Radar Solo.
Mereka datang bukan hanya untuk membawa kabar soal perilisan video klip baru, tapi juga menyuguhkan cerita menyentuh tentang kolaborasi, keberagaman, dan kekuatan pesan yang melampaui batas indera pendengaran.
“Pesan lagu ini sangat dalam, saya benar-benar ingin memahami dan menyampaikannya sebaik mungkin,” ujar Hana Wattimena, guru vokal yang menyumbangkan suara dalam versi terbaru lagu tersebut.
Awalnya ia ragu karena gaya vokalnya lebih pop daripada angelic choir seperti versi asli.
Namun setelah menyelami nada dan maknanya, Hana menerima tantangan itu dengan penuh keyakinan.
Berduet dengannya adalah Maria Agnes, pelajar kelas IX yang sejak awal telah mengenal lagu ini karena turut serta dalam perekaman versi orisinalnya.
Meski demikian, ia tetap harus menyesuaikan diri karena dalam versi klip, tempo dinaikkan dan gerak koreografi ditambahkan agar lebih mudah diakses oleh penyandang tuli.
Proses kreatif ini bukan hanya tentang suara. Dua penari muda, Regina Alena yang masih duduk di kelas 6 SD dan Elliana Armeylian, menjadi wajah ekspresi dari Bisindo yang menggantikan kata-kata.
Regina sempat kaget ketika tahu harus menari menggunakan bahasa isyarat, bukan gerak tari tradisional seperti biasanya.
Sementara Elliana tak hanya menari, tetapi juga menciptakan koreografi yang harus merepresentasikan makna dalam setiap lirik lagu.
“Akhirnya koreonya lahir spontan dari latihan. Ini pengalaman luar biasa,” ujar Lian.
Di balik layar, produser Antonia Filicia Esa Rindi menyampaikan bahwa karya ini adalah wujud dari visinya, yakni menjadikan seni sebagai medium yang inklusif, yang bisa dinikmati siapa saja, tak terkecuali teman-teman tuli.
Dirinya menyebut video klip ini sebagai karya penuh “art movement” yang berbicara dengan bahasa yang universal, empati, dan kasih.
“Inspirasi lagu ini datang dari sahabat saya. Saya merasa, ini bukan hanya lagu, tapi pesan kehidupan. Menyentuh siapa pun yang menyaksikan,” ujar Esa.
Proses produksinya melibatkan komunitas tuli, agar setiap isyarat dalam tarian dapat ditafsirkan dengan benar.
Dari ekspresi mata, lambaian tangan, hingga bahasa tubuh, semua dirancang untuk bisa “didengar” dengan hati.
Dengan merilis video ini pada momen Paskah, Sandhya Production menyampaikan pesan bahwa mendengar tidak selalu berarti menggunakan telinga.
Mendengar adalah soal rasa, dan memahami adalah tentang kepekaan hati. Lagu ini menjadi perwujudan nyata dari inklusi yang menyatukan suara, gerak, dan makna. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram