Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Filosofi Siraman yang dilakukan Luna Maya sebelum Menikah dengan Maxime Bouttier: Konon para Bidadari Turut Mandi

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 6 Mei 2025 | 20:16 WIB
Artis Luna Maya dimandikan menggunakan air dari 7 sumber mata air yang dicampur bunga dalam prosesi siraman di Bali, Selasa (6/5/2025).
Artis Luna Maya dimandikan menggunakan air dari 7 sumber mata air yang dicampur bunga dalam prosesi siraman di Bali, Selasa (6/5/2025).

RADARSOLO.COM–Artis Luna Maya menggelar prosesi siraman jelang pernikahannya dengan Maximte Bouttier di Bali, Selasa (6/5/2025).

Prosesi siraman Luna Maya menghadirkan dekorasi yang memadukan unsur budaya Jawa, Bali, dan sentuhan Eropa yang elegan.

Tidak hanya mandi kembang, terdapat makna mendalam di prosesi siraman.

Dikutip dari tulisan Waryunah Irmawati dari UIN Raden Mas Said Surakarta berjudul Makna Simbolik Upacara Siraman Pengantin Adat Jawa, Siraman, dari kata siram yang artinya mengguyur atau mandi.

Hakikat dari mandi (siraman) dalam upacara pengantin adat Jawa tidak hanya sekedar membersihkan wadag badan. Tetapi juga membersihkan jiwa.

Membersihkan diri dari noda dan dosa serta sifat-sifat yang kurang baik.

Membersihkan segala gangguan agar supaya pada saat prosesi ijab qabul tidak lagi ada aral yang melintang.

Pengantin agar dapat memulai hidup baru dengan keadaan yang bersih dan suci.
Filsafat Jawa adalah ngudi kawicaksanan dengan mengetahui awal dan akhir kehidupan sehingga akan mencapai tujuan sangkan paraning dumadi.

Untuk sampai sangkan paraning dumadi maka manusia wajib melakukan penyucian dan pembersihan.

Bersih yang dimaksud adalah bersih dari segala dosa artinya harus melakukan piwulang-piwulang keutamaan dengan tidak lupa pada Tuhan.

Secara rasional siraman (mandi) mempunyai pengaruh secara fisik, badan yang loyo akan menjadi segar apabila terkena siraman air.

Indera penciuman akan terpuaskan dengan wanginya bunga-bunga sritaman.

Baca Juga: Kejar Tunggakan Vendor Masjid Agung Madaniyah, Kejari Karanganyar Bakal Panggil PT MAM Energindo

Indera peraba dapat menikmati segarnya air yang menyapu tubuh, indera penglihatan menjadi bahagia melihat air yang diberi berbagai macam bunga.

Islam tidak mengenal istilah siraman, tetapi istilah mandi (ghusl) ada dalam ajaran Islam.
Mandi (ghusl), menurut syariat ialah meratakan air pada seluruh badan untuk ṭaharah dari hadas besar.

Mandi dalam konteks Islam dan siraman dalam pandangan filsafat memiliki relasi yang sangat sinergis.

Kedua-duanya memiliki makna bahwa baik mandi maupun siraman berusaha menghilangkan kotoran, dalam Islam disebut hadas sedangkan dalam pemaknaan filsafat disebut kotor/dosa.

Tujuan dari keduanya sama yaitu untuk mencapai kesucian, dalam Islam agar syah untuk melakukan ibadah shalat, puasa dan haji, sedangkan untuk filsafat agar suci untuk dapat sangkan paraning dumadi.

Pelaksanaan Upacara Siraman Upacara siraman dilakukan antara pukul 10.00 – 15.00 sehari sebelum upacara panggih.

Konon para bidadari turun mandi bersama bersuka ria kira kira pukul 11.00 pagi.

Agar dapat secantik dan seceria bidadari, maka calon pengantin mandi pukul 11 siang.

Namun, ada pula calon pengantin yang mandi sekitar pukul 15.00 demi kepraktisan.

Pengantin diibaratkan sebagai seorang yang cantik menawan, sehingga untuk mandi saja waktunya disamakan dengan bidadari.

Makna visual bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihatnya, menentramkan hati setiap memandangnya.

Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus, memiliki akhlak yang mulia.

Dalam pemikiran orang Islam, bidadari adalah penghuni surga yang merupakan hadiah bagi wanita shalehah, istri shalehah.

Baca Juga: Tiga Kemenangan Beruntun Bisa Buat Persika Karanganyar Promosi ke Liga 3, Sanggupkah? Ini Jawaban Sang Pelatih

Laki-laki yang mati syahid dijanjikan mendapatkan bidadari di surga.

Waktu antara pukul 10.00 - 15.00 adalah waktu setiap hari dimana pengaruh matahari paling besar.

Mandi di udara terbuka diharapkan dapat menyerap energi matahari, semangat dan stamina untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi prosesi ritual pernikahan yang panjang.

Tujuan siraman adalah memohon berkah dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa agar calon pengantin dibersihkan dari segala godaan dan pengaruh buruk, sehingga dapat melaksanakan upacara hingga selesai dengan lancar dan selamat.

Selain itu, calon pengantin juga selamat dalam membangun rumah tangga dan dapat mencapai tujuan pekawinan.

Hal ini sesuai dengan filsafat Jawa yang berdasarkan pada tiga aras yaitu aras dasar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia. (wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Maxiem Bouttier #luna maya #pernikahan #siraman #artis