Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Mengapa Bulan Suro Tidak Boleh Menikah? Ungkap Mitos dan Kisah di Balik Larangan Gelar Hajatan saat Tahun Baru Jawa

Syahaamah Fikria • Jumat, 27 Juni 2025 | 21:54 WIB
Keraton Kasunanan Surakarta menggelar ritual doa sebelum Kirab Pusaka Malam 1 Suro, Kamis (26/6/2025).
Keraton Kasunanan Surakarta menggelar ritual doa sebelum Kirab Pusaka Malam 1 Suro, Kamis (26/6/2025).

RADARSOLO.COM – Bagi masyarakat Jawa, Suro dipercaya sebagai bulan yang bisa membawa karma buruk. Banyak yang masih percaya dengan larangan menikah di bulan Suro demi menghindari kesialan.

Mitos seputar larangan menikah di bulan Suro telah berakar kuat dalam budaya Jawa dan masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat hingga saat ini.

Kepercayaan ini mengklaim bahwa menggelar pernikahan atau hajatan lainnya di bulan Suro dapat mendatangkan kesialan atau karma buruk bagi pasangan dan keluarganya.

Asal-usul Istilah Suro

Istilah "Suro" adalah sebutan Jawa untuk bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah.

Kata ini diambil dari "Asyura" dalam bahasa Arab.

Sebutan "Suro" menjadi lebih dikenal luas di Jawa berkat inisiasi Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam pada abad ke-17, yang menggabungkan penanggalan Hijriah dengan Tarikh Saka untuk menyatukan perayaan keagamaan.

Dalam Primbon Jawa dan kepercayaan Islam-Jawa, Bulan Suro dipandang sebagai bulan yang paling keramat dan mulia dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Ini adalah waktu di mana alam semesta diyakini mengalami pergeseran energi signifikan, menjadikan suasana terasa lebih peka dan membuka celah antara dunia gaib dan manusia.

Mitos Larangan Menikah di Bulan Suro

Ada beberapa faktor yang mendasari mitos larangan menikah di bulan Suro:

 

1. Bagian dari Adat dan Norma Leluhur

Menurut Masrukan Maghfur dan Ahmad Hafid Safrudin dalam publikasi ilmiah berjudul Pantangan Melakukan Perkawinan pada Bulan Suro di Masyarakat Adat Jawa Perspektif Hukum Islam, larangan ini dihormati sebagai bagian integral dari norma atau adat istiadat yang telah diwariskan turun-temurun.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa melanggar adat ini bisa mendatangkan kemalangan, sehingga mereka enggan menentang tradisi yang sudah ada.

Adat ini merujuk pada petuah leluhur yang disampaikan secara lisan.

2. Bulan untuk Introspeksi dan Spiritual

Dalam pandangan Islam-Jawa, bulan Suro dianggap terlalu mulia dan sakral untuk diisi dengan perayaan yang bersifat hura-hura seperti pernikahan.

Masyarakat Jawa percaya bulan ini lebih cocok untuk prihatin, tirakat (ritual spiritual), perenungan, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Ini adalah waktu bagi orang biasa untuk meniru laku spiritual para raja dan leluhur.

3. Keterkaitan dengan Peristiwa Sejarah Pilu

Beberapa mitos juga mengaitkan larangan menikah di bulan Suro dengan peristiwa sejarah tragis.

Salah satunya adalah kisah pembunuhan Nabi Ibrahim AS yang terjadi pada tanggal tiga belas Suro (meskipun dalam narasi Islam, Nabi Ibrahim tidak dibunuh).

Kepercayaan ini, meski mungkin adaptasi, tetap menyebabkan masyarakat Islam-Jawa menghindari kegiatan sakral lain yang dianggap kurang selaras dengan suasana duka atau introspeksi di bulan tersebut.

 

4. Bulan "Milik" Keraton

Sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa bulan Suro adalah bulan khusus untuk acara keraton, seperti Kirab Pusaka dan jamasan.

Oleh karena itu, orang biasa sebaiknya menghindari kegiatan besar seperti pernikahan atau hajatan agar tidak bersaing atau mengganggu kemuliaan acara keraton.

Pada intinya, larangan menikah di bulan Suro bukan karena bulan tersebut membawa petaka secara inheren.

Melainkan karena kemuliaan dan kesakralannya bagi masyarakat Jawa. Menjadikan waktu ini lebih cocok untuk kegiatan spiritual dan perenungan.

Meski tidak semua orang percaya, tradisi ini tetap menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#menikah #larangan menikah #Mitos bulan suro #Tahun baru Jawa #suro #muharram