RADARSOLO.COM - Film animasi Merah Putih: One for All yang dijadwalkan tayang untuk menyambut HUT ke-80 RI, tak habis-habisnya tuai kritikan tajam dari publik.
Kualitas visualnya yang dianggap di bawah standar menjadi sorotan utama. Bahkan, netizen membandingkannya dengan kualitas video game dari era PlayStation 2.
Tak hanya itu, kritikan juga dilontarkan untuk poster film, judul, alur cerita hingga tagline.
Tagline "Film Animasi Anak Indonesia Pertama Bertema Kebangsaan", membuat publik geram.
Netizen kemudian mengingatkan bahwa film seperti Battle of Surabaya sudah lebih dulu ada dengan tema serupa.
Lebih lanjut, judul film yang menggunakan bahasa Inggris juga menjadi bahan perdebatan.
Banyak yang menganggap hal ini tidak konsisten dengan tema nasionalisme yang diusung.
Isu lain yang memicu perbincangan adalah waktu pengerjaan yang sangat singkat, hanya sekitar dua bulan.
Warganet menduga film ini dibuat terburu-buru dengan skema sistem kebut semalam (SKS). Padahal, anggaran produksinya disebut mencapai Rp6,7 miliar.
"Katanya film tentang nasionalisme, eh dari judulnya aja sudah pake bahasa asing...kliatan banget gak ke riset dengan bener dan cenderung SKS (sistem kebut semalam)," komentar @adr******.
Netizen Ramai-ramai Curhat ke Sutradara Film Jumbo
Dengan beragam kontroversinya, publik pun membandingkan Merah Putih: One for All dengan film animasi Jumbo, yang sebelumnya sukses membuat jatuh cinta penonton Tanah Air.
Jumbo yang juga film animasi karya anak bangsa ini meraih sukses besar dan menjadi film animasi terlaris sepanjang masa di Asia Tenggara.
Mengumpulkan lebih dari 9 juta penonton usai 49 hari tayang.
Netizen yang telanjur kecewa dengan kualitas film Merah Putih: One for All pun ramai-ramai membanjiri akun X Ryan Adriandhy, sutradara film Jumbo, untuk curhat dan berkeluh kesah.
Apalagi sebelumnya, Ryan sempat membuat cuitan di akun X-nya, menyinggung soal usaha keras dan tulus demi membuat karya berkualitas.
"Kita upayakan terus yang bagus semampunya. Terus, terus, sampai akhirnya, yang dibuat dengan niat tidak tulus dan cara asal-asalan semakin tersingkirkan dan tidak punya alasan untuk minta didukung," tulis Ryan.
"Memang perlu yang gelap untuk tahu masa depan animasi Indonesia bisa terang," imbuh dia.
Cuitan itu pun diduga untuk menyindir heboh film Merah Putih: One for All.
"Lu kesel gak sih bang? Lu coba naikin animasi Indonesia, eh anj**gg malah dirusak sama animasi jelek burik kek gitu mana plotnya gaje banget," komen @hey******.
"Aku yg cmn penontonnya ja kesel kak, kek udah bagus" animasi indo akhirnya bangkit dgn adanya jumbo, eh diancurin sm proyek korup elah. Macem d*sney ja mana mampu bikin animasi cmn sebln njir," tulis @chc*****.
"Berasa mundur lagi ya Bang. Bikin kelas animasi Bang, cari bakat2 negri di bidang animasi,"kata @kit******.
Ada juga yang mengatakan, semestinya bisa mengajak Ryan Adriandhy dan tim lain yang sudah terbukti kualitasnya, untuk membuat karya bagus untuk masyarakat Indonesia.
"Padahal bisa loh gaet bang Ryan dan teman-teman lainnya yang berkecimpung di dunia animasi, kenapa selalu memilih jalan yang jelas akan mendatangkan hujatan?" tulis @esp******.
"Semangat bang, thanks udah menghadirkan film jumbo, yg sekiranya bisa jadi pemantik utk lebih giat membuat film animasi yg tentunya bagus ya, bukan yg asal2, bukan yg cuma jadi propaganda ultra nasionalis palsu dari pemerintah," komen @Kun*****. (ria)