RADARSOLO.COM - Dunia maya tengah dihebohkan dengan hadirnya film animasi Merah Putih: One for All, karya yang digadang-gadang mengusung semangat nasionalisme untuk menyambut HUT ke-80 RI.
Alih-alih mendapat sambutan hangat, film ini justru banjir kritikan pedas dari berbagai sisi — mulai dari kualitas visual, alur cerita, hingga proses produksinya yang dinilai jauh dari ekspektasi.
Melalui akun Instagram resminya (@doesofficial) yang berkolaborasi dengan akun @Erixsoekamti, DOES University memberikan pernyataan resminya.
“Sebelumnya, selamat atas hadirnya film animasi Merah Putih: One for All di layar lebar. Maaf untuk teman-teman yang sudah banyak DM/mention kami. Sebagai informasi, kami tidak terlibat dalam pengerjaan film ini, bahkan tidak tahu adanya proyek ini sebelumnya,” tulis pernyataan resmi DOES.
Berdasarkan informasi yang beredar dan didapat DOES, proses pengerjaan film kabarnya dimulai sekitar Juni 2025 dan dijadwalkan tayang di bioskop pada minggu depan. Cukup mengejutkan melihat durasi pengerjaannya yang cukup cepat.
Padahal, menurut DOES, umumnya produksi film animasi memerlukan waktu bertahun-tahun.
Selain itu, DOES menilai aset yang digunakan dalam film ini diduga dibeli dari situs penyedia layanan animasi, yang memicu pertanyaan publik.
Walau begitu, DOES University tetap memberi semangat kepada para animator tanah air:
“Teruntuk teman-teman animator, jangan menyerah dan teruslah berkarya dengan hati. Teruslah yakin bahwa animasi Indonesia akan terus berkembang baik,” ujarnya.
DOES University sendiri adalah sekolah gratis yang didirikan oleh Erix Soekamti, bassist band Endank Soekamti.
Erix dikenal ikut aktif berkontribusi dalam industri film animasi Indonesia.
Dengan pernyataan ini, DOES menegaskan tak ikut terlibat dalam pembuatan film animasi Merah Putih: One for All tersebut.
Proyek yang Disebut Dadakan
Sebelumnya, film Merah Putih: One for All disebut-sebut sebagai proyek “dadakan”. Informasi dari akun Instagram @movreview, yang berkolaborasi dengan produser Toto Soegriwo (@totosoegriwo), menyebut film ini dikerjakan kurang dari satu bulan sejak Juni 2025.
Meski berdurasi 70 menit, biaya produksinya mencapai Rp 6,7 miliar.
Film ini disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, dengan Toto Soegriwo sebagai produser, serta Sonny Pudjisasono sebagai produser eksekutif.
Judul Film Jadi Sorotan
Kontroversi tak berhenti di kualitas film. Judul Merah Putih: One for All juga menuai perdebatan di media sosial.
Banyak netizen mempertanyakan penggunaan frasa bahasa Inggris pada film yang mengusung semangat nasionalisme.
Publik menilai ada ketidaksesuaian antara pesan persatuan yang ingin disampaikan dengan pilihan judul berbahasa asing.
Apalagi, film ini diklaim dibuat untuk memperkuat jiwa nasionalisme, terutama menjelang perayaan HUT ke-80 RI.
Berbagai komentar pedas pun membanjiri media sosial, sebagian menyayangkan keputusan tim produksi yang dinilai kurang peka terhadap makna simbolis bahasa Indonesia dalam karya bertema kebangsaan. (nik)
Editor : Niko auglandy