Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Telan Biaya Rp6,7 Miliar, Film Animasi Merah Putih: One For All Ketahuan Gunakan Aset 3D Animasi Murah

Nur Pramudito • Senin, 11 Agustus 2025 | 18:06 WIB
Film animasi Merah Putih: One For All dikritik netizen usai diduga gunakan aset 3D murah meski anggaran capai Rp6,7 miliar.
Film animasi Merah Putih: One For All dikritik netizen usai diduga gunakan aset 3D murah meski anggaran capai Rp6,7 miliar.

RADARSOLO.COM - Film animasi Merah Putih: One for All yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025, tengah menjadi sorotan panas di media sosial.

Alih-alih menuai pujian, film garapan Perfiki Kreasindo ini justru dibanjiri kritik setelah netizen menemukan dugaan penggunaan aset animasi stok yang dijual murah di platform Reallusion Content Store.

Sejumlah warganet memposting perbandingan karakter di film tersebut dengan model 3D yang dijual di Reallusion.

Beberapa karakter terlihat mirip dengan aset buatan desainer luar negeri, seperti Jayden karya Junaid Miran, Tommy dari Chihuahua Studios, serta Ned dan Francis yang langsung tersedia di Reallusion.

Makin mengejutkan harga aset-aset tersebut disebut hanya sekitar USD 43,50 atau Rp 700 ribuan per item.

Fakta ini memicu sindiran keras, apalagi anggaran produksi film dikabarkan mencapai Rp 6,7 miliar.

"Anggaran 6M, modal produksinya paling ga sampai 100jt, animasi beli template 10-20$ per item ditempel tempel doang," ujar @richgoddessdin.

"Ga heran karakternya style nya pada kek beda2," ujar Darknesa,

"terjawab pertanyaan gw, knapa gw mencium ada mismatch secara artstyle." ujar Bintang.

Beberapa karakter yang disorotnetizen dibuat olehJunaidMiran, seorang desainer 3D asal Pakistan yang aktif menjual aset kartun bergaya toon diReallusion.

Miran, pendiri Robust Films, telah merilis berbagai paket karakter seperti "The Smiths Family" dan "3D Stylized Toon Girls" melalui platform tersebut, dengan harga mulai dari USD 10-20 per item.

Temuan ini membuat warganet Tanah Air geram, karena film yang diklaim sebagai produk animasi nasionalis justru mengandalkan aset impor murah.

Akibatnya, akun YouTube Junaid Miran pun diserbu komentar dari netizen Indonesia.

"Karakter ini dibeli oleh seorang animator di Indonesia untuk membuat film yang akan ditayangkan pada Hari Kemerdekaan Indonesia. Sejujurnya, kualitasnya sangat buruk dan bahkan menuai kritik dari orang Indonesia, terutama di dunia maya. Namun, karakter Anda tidak. Dan ada yang bilang film ini menghabiskan banyak anggaran, yang agak lucu mengingat kualitasnya," ujar @aviationid0116.

Miran sempat menanggapi beberapa komentar darii warganet. Salah satunya memberikan jawaban harga jualnya ke Indonesia.

"sayangnya saya tidak menerima uang," ungkapnya.

Diketahui bahwa film animasi yang tengah menjadi kontroversi ini disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, sementara produsernya adalah Toto Soegriwo.

Lewat laman instagram-nya, @totosoegriwo, dibocorkan film ini menghabiskan biaya produksi mencapai Rp 6,7 miliar. Proses pengerjaannya makan waktu kurang dari satu bulan saja.

Produser Toto Soegriwo menanggapi kritikan tersebut dengan santai, bahkan terkesan "salty", ia menganggap kritikan netizen justru membuat filmnya menjadi viral.

"Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?," tulis Toto Soegriwo melalui akun Instagram-nya.

Editor : Nur Pramudito
#Merah Putih One for All #Film Merah Putih One for All #viral #aset 3d #film animasi