RADARSOLO.COM – Dunia musik Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya.
Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah atau lebih dikenal dengan nama Acil Bimbo, meninggal dunia pada Senin (25/8/2025) pukul 22.22 WIB di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Ia wafat di usia 82 tahun.
Jenazah disemayamkan di rumah duka, Jalan Biologi Nomor 4, Bandung, Jawa Barat.
Profil Singkat Acil Bimbo
Acil lahir di Bandung pada 20 Agustus 1943. Ia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Raden Dajat Hadjakusumah dan Uken Kenran.
Sang ayah pernah menjabat Kepala Biro LKBN Antara Jawa Barat.
Riwayat pendidikannya cukup panjang. Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran pada 1974, lalu melanjutkan pendidikan kenotariatan di kampus yang sama pada 1994.
Acil menikah dengan Ernawati dan dikaruniai empat anak serta sejumlah cucu.
Publik mengenal dua cucunya, Adhisty Zara dan Hasyakyla Utami, yang pernah tergabung dalam grup idola JKT48.
Karier Musik: Acil Bimbo dan Lagu Abadi
Nama Acil tak bisa dilepaskan dari Bimbo, grup musik legendaris asal Bandung yang ia dirikan bersama Sam Bimbo, Jaka Bimbo, dan Iin Parlina pada 1966.
Lagu-lagu Bimbo sarat makna, puitis, dan religius, menjadikannya abadi lintas generasi.
Beberapa karya yang melekat di hati masyarakat antara lain Tuhan, Sajadah Panjang, Melati dari Jayagiri, Flamboyan, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, Ummat Manusia Bergembira, hingga Rindu Rosul.
Kepedulian Acil Bimbo pada Budaya dan Lingkungan
Selain bermusik, Acil dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap kebudayaan Sunda.
Ia pernah menyayangkan minimnya buku sejarah dan referensi tentang kesundaan, karena budaya lisan lebih dominan ketimbang budaya tulis.
"Dewasa ini bangsa Indonesia sakit keras, yang nyaris seluruh tatanan sosial kehidupan berjalan abnormal, sebagai dampak terjadinya kemunduran budaya daerah," tegas Acil dalam sebuah seminar budaya di Garut pada 2015.
Ia juga mengkritisi lunturnya nilai tradisional Sunda yang dulu identik dengan keramahan dan gotong royong.
Menurutnya, masyarakat harus kembali menjaga nilai leluhur dengan prinsip ngajaga lembur (menjaga kampung), akur jeung dulur (bersahabat dengan siapa pun), dan panceug dina galur (patuh pada aturan dan etika).
Tak hanya budaya, Acil juga vokal terhadap isu lingkungan. Ia menyoroti kerusakan hutan di kawasan Tangkuban Parahu yang masuk dalam Kawasan Bandung Utara (KBU).
Ia menekankan pentingnya pembangunan yang memperhatikan ekologi serta kearifan lokal.(np)
Editor : Nur Pramudito