RADARSOLO.COM - Drama Korea terbaru Netflix, Genie, Make a Wish, yang dibintangi Kim Woo Bin dan Suzy, awalnya disambut antusias oleh para penggemar K-drama.
Serial ini menandai reuni keduanya dalam genre fantasi-romansa setelah sempat beradu akting di Uncontrollably Fond.
Namun, euforia tersebut seketika berubah menjadi kontroversi besar setelah tayang perdananya pada Jumat, 3 Oktober 2025.
Drama dengan total 13 episode ini langsung menuai kritik tajam dan seruan boikot dari komunitas Muslim di berbagai negara.
Penyebabnya, jalan cerita dan penggambaran karakter utama dinilai menyinggung ajaran Islam serta dianggap sebagai bentuk cultural insensitivity dari tim produksi dan Netflix.
Akar Kontroversi Drama Korea Genie, Make A Wish
Tokoh utama pria yang diperankan Kim Woo Bin digambarkan sebagai genie atau jin yang bangkit setelah seribu tahun tertidur.
Ia menawarkan tiga permintaan kepada seorang wanita bernama Ka Young (diperankan Suzy), yang memiliki kepribadian psikopat.
Namun, di balik tawaran itu, Genie ternyata memiliki niat tersembunyi: membuktikan keserakahan manusia dan menjerumuskan mereka ke neraka.
Masalah muncul karena dalam beberapa adegan, Genie digambarkan sebagai makhluk "yang diciptakan dari api tanpa asap", sementara manusia disebut terbuat dari tanah liat.
Bahkan ada dialog yang berbunyi, "Aku diciptakan dari api tanpa asap. Aku tidak bisa tunduk pada manusia yang hanya terbuat dari tanah liat."
Kisah tersebut dinilai sangat mirip dengan kisah Iblis dalam ajaran Islam, yang menolak bersujud kepada Nabi Adam dan akhirnya diusir dari surga.
Drama Korea Genie, Make A Wish Dinilai Meniru Kisah Iblis dalam Islam
Penonton Muslim menilai drama ini bukan sekadar menggunakan konsep jin dalam mitologi umum, melainkan mengambil langsung narasi Al-Qur’an tentang Iblis.
Dalam Islam, Iblis bukan sosok dongeng atau genie pengabul permintaan, melainkan personifikasi kejahatan dan pembangkangan terhadap Tuhan.
Karena itu, banyak penonton menilai Genie, Make a Wish telah mendistorsi makna Iblis menjadi karakter romantik yang menawan dan bahkan berpotensi membuat penonton bersimpati terhadap sosok "iblis" tersebut.
"Bahkan belum dua menit menonton, dan saya harus menerima bahwa Iblis dijadikan karakter utama? Mengapa mereka mengambil konsep langsung dari ajaran kami?" tulis seorang warganet di X (Twitter).
Penggunaan istilah dan konsep yang sangat dekat dengan ajaran Islam dalam konteks hiburan ringan dianggap melecehkan nilai teologis yang sakral.
Baca Juga: Genie, Make a Wish Kapan Tayang? Drama Korea Terbaru yang Dibintangi Suzy dan Kim Woo Bin
Reaksi Penonton dan Seruan Boikot Drama Korea Genie, Make A Wish
Kemarahan penonton Muslim dengan cepat memuncak di media sosial.
Tagar #BoikotGenieMakeAWish menjadi trending topic di sejumlah negara dengan populasi Muslim besar.
Banyak warganet menilai drama ini sebagai bentuk misrepresentation dan cultural appropriation terhadap agama Islam.
“Agama saya bukan kostum Anda,” tulis seorang pengguna X.
“Genie, Make a Wish telah melewati batas. Kata-kata Qur’ani digunakan seenaknya, dan Iblis diromantisasi. Ini penghinaan terang-terangan terhadap agama kami,” tulis yang lain.
Sejumlah warganet juga mengecam Netflix karena dinilai tidak belajar dari kasus serupa sebelumnya dan kembali menayangkan konten yang tidak sensitif terhadap nilai-nilai agama.
Mereka menuntut permintaan maaf resmi serta revisi atau penghapusan adegan yang dianggap menyinggung.
Netflix Belum Beri Tanggapan Drama Korea Genie, Make A Wish Diboikot
Hingga kini, baik Netflix maupun pihak produksi Genie, Make a Wish belum memberikan pernyataan resmi menanggapi kritik tersebut.
Sementara itu, diskusi dan kecaman terhadap serial ini terus bergulir di berbagai platform media sosial.
Banyak penonton yang sebelumnya menantikan reuni Suzy dan Kim Woo Bin kini justru menyatakan kekecewaannya dan memilih untuk tidak menonton serial tersebut.
Kontroversi Genie, Make a Wish bermula dari penggambaran karakter jin yang memiliki kemiripan mencolok dengan kisah Iblis dalam Islam.
Penggunaan istilah keagamaan dan elemen yang dianggap sakral untuk kepentingan fantasi-romantis membuat drama ini dinilai menghina Islam dan memicu gelombang boikot global.(np)
Editor : Nur Pramudito