RADARSOLO.COM - Setelah resmi bercerai, Raisa Andriana dan Hamish Daud memilih langkah dewasa dalam mengasuh putri mereka, Zalina Raine Wyllie.
Pasangan ini sepakat menerapkan pola co-parenting, bentuk kerja sama orangtua pasca-perceraian yang kini dianggap solusi ideal bagi anak-anak.
Setelah 8 tahun membangun rumah tangga, Raisa dan Hamish Daud kini mengumumkan kabar perpisahan mereka.
Meski hubungan sebagai pasangan suami istri telah berakhir, keduanya menegaskan komitmen untuk tetap bekerja sama sebagai orangtua bagi putri tunggal mereka, Zalina Raine Wyllie.
“Hubungan kami tetap baik, meski berubah. Yang tidak akan berubah adalah cinta kami kepada Zalina. Itu adalah tugas seumur hidup kami untuk menjaganya,” tulis Raisa dan Hamish dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu (25/10/2025).
Mereka menambahkan bahwa keputusan untuk berpisah diambil dengan penuh kesadaran, tanpa pertengkaran, dan semata-mata demi kebaikan anak.
“Kami akan terus hadir bersama sebagai co-parents untuk memastikan Zalina tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang,” lanjut keduanya.
Apa Itu Co-Parenting?
Istilah co-parenting sempat ramai dibicarakan di media sosial, termasuk saat perceraian aktris Acha Septriasa dan Vicky Kharisma terungkap beberapa waktu lalu.
Saat itu, Acha juga sempat menuliskan tagar co-parenting dalam unggahan di akun Instagram-nya.
"love you Brie! #newLife #newhome #newday #coparenting #MommiesDuty #parentsdutyneverends," tulis @septriasaacha pada Rabu (6/8/2025).
Konsep ini kembali menjadi sorotan setelah Raisa dan Hamish memilih menerapkannya dalam pengasuhan Zalina.
Secara sederhana, co-parenting adalah pola pengasuhan anak yang dilakukan oleh dua orangtua yang sudah tidak hidup bersama.
Meski telah bercerai, mereka tetap berkolaborasi dan berbagi tanggung jawab untuk tumbuh kembang anak, baik secara emosional, finansial, maupun moral.
Pola ini dinilai sangat penting agar anak tetap merasakan kehadiran kedua orangtuanya secara seimbang.
Dengan begitu, anak tidak merasa kehilangan sosok ayah atau ibu setelah perceraian terjadi.
Kenapa Co-Parenting Jadi Penting?
Dilansir dari Hello Sehat, angka perceraian di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya.
Data BPS mencatat, sebagian besar perceraian merupakan gugatan cerai istri kepada suami.
Di tengah tren perceraian yang meningkat, penerapan co-parenting dianggap solusi bijak untuk meminimalkan dampak psikologis pada anak.
Mengutip dari Help Guide, berikut beberapa manfaat penting dari penerapan co-parenting:
1. Memberi Rasa Aman
Anak merasa dicintai dan dilindungi oleh kedua orangtua, meski keduanya tak lagi hidup serumah.
2. Membentuk Kedisiplinan dan Arah Hidup
Pola pengasuhan yang stabil membantu anak lebih mudah menyesuaikan diri dan memahami nilai tanggung jawab.
3. Mengajarkan Penyelesaian Masalah
Anak belajar bahwa perbedaan tidak selalu berarti permusuhan, melainkan kesempatan untuk bekerja sama.
4. Menjadi Teladan Hubungan Sehat
Melalui kerja sama ayah dan ibu pasca-perceraian, anak mendapat contoh bagaimana menjaga hubungan dengan penuh rasa hormat.
5. Menjaga Kesehatan Mental Anak
Anak dari keluarga co-parenting umumnya lebih tangguh secara emosional dan terhindar dari depresi akibat kehilangan figur orangtua.
Bagaimana Cara Menerapkan Co-Parenting?
Membangun pola co-parenting yang sehat tentu tidak mudah. Dibutuhkan kedewasaan emosional dari kedua belah pihak.
Berikut beberapa prinsip yang bisa diterapkan, seperti disarikan dari pakar pengasuhan anak:
1. Kendalikan Emosi dan Utamakan Anak
Keberhasilan co-parenting sangat bergantung pada kemampuan kedua orangtua menahan amarah dan menurunkan ego.
Ingat, tujuan utama kerja sama ini bukan untuk memperbaiki hubungan pribadi, melainkan demi tumbuh kembang dan kebahagiaan anak.
Jika perasaan marah atau kecewa masih sering muncul, sebaiknya jangan melampiaskannya di depan anak.
Carilah cara sehat untuk menyalurkannya, seperti berolahraga, berbicara dengan teman dekat, atau berkonsultasi dengan profesional agar emosi lebih stabil.
2. Jangan Jadikan Anak Penengah Masalah
Walau hubungan Anda dengan mantan pasangan belum sepenuhnya baik, hindari menyeret anak dalam konflik.
Anak tidak seharusnya menanggung beban pertikaian orangtuanya.
Co-parenting bertujuan menciptakan lingkungan yang aman dan netral bagi anak.
Bila ada hal yang perlu diselesaikan, komunikasikan langsung dengan mantan pasangan tanpa melibatkan si kecil sebagai perantara atau “penyampai pesan.”
3. Tahan Diri untuk Tidak Menjelekkan Mantan
Hindari menjelekkan mantan pasangan di depan anak, sekecil apapun alasannya.
Sikap seperti itu hanya akan menimbulkan kebingungan emosional dan membuat anak merasa harus berpihak.
Anak berhak memiliki hubungan baik dengan kedua orangtuanya.
Tugas Anda adalah memastikan komunikasi dan kehangatan itu tetap terjaga, tanpa pengaruh negatif dari pihak mana pun.
4. Belajar untuk Lebih Fleksibel
Dalam pengasuhan bersama, penyesuaian jadwal terkadang tak terhindarkan.
Bisa saja ada situasi mendesak yang membuat salah satu pihak perlu menukar waktu bersama anak.
Cobalah untuk tidak kaku. Ingat bahwa yang terpenting adalah kebutuhan anak, bukan ego pribadi.
Dengan saling memahami dan bersikap lentur terhadap perubahan rencana, suasana co-parenting akan jauh lebih harmonis.
5. Bangun Kerja Sama sebagai Tim
Co-parenting bukan tentang siapa yang lebih dominan, melainkan bagaimana Anda berdua bisa menjadi satu tim yang solid dalam mengambil keputusan penting untuk masa depan anak.
Mulailah dengan komunikasi yang terbuka dan saling jujur, terutama saat membahas hal-hal krusial seperti pendidikan atau kesehatan anak.
Jangan terlalu mempermasalahkan hal kecil yang bisa menimbulkan kelelahan emosional.
Bila terjadi perbedaan pendapat, segera bicarakan dengan tenang dan profesional. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria