RADARSOLO.COM – Kepergian aktor senior Epy Kusnandar pada Rabu (3/12/2025) menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan dunia hiburan Tanah Air.
Namun di balik kabar duka tersebut, terungkap fakta bahwa pemeran Kang Mus itu pernah menitipkan sebuah wasiat kepada sang istri lima bulan sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Meninggal Didampingi Keluarga
Kabar duka ini meninggalnya aktor senior pemeran Kang Mus di sinetron Preman Pensiun itu pertama kali disampaikan istri sekaligus manajernya, Karina Ranau.
Melalui akun Instagram-nya, Karina mengunggah momen terakhir ketika Epy terbaring lemah dengan ditemani anak-anaknya.
Epy Kusnandar dinyatakan meninggal dunia pada Rabu pukul 14.42 WIB.
Jenazahnya kemudian dibawa ke rumah duka di Harmony Residence 88, Jagakarsa, Jakarta Selatan sebelum prosesi pemakaman.
Sampaikan Wasiat saat Sakit
Lima bulan sebelum meninggal, tepatnya Juli 2025, Epy sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Di momen kritis itu, ia menyampaikan wasiat pribadi kepada Karina.
Apa isi wasiat tersebut?
Wasiat Epy Kusnandar terungkap saat dia hadir pada pemutaran perdana Film Selepas Tahlil.
Ya, meski belum sepenuhnya pulih dari sakit, aktor berusia 61 tahun itu memang masih sangat bersemangat berkarya, termasuk menghadiri pemutaran film.
Saat itu, dengan suara lirih Epy mengatakan wasiatnya adalah jika meninggal, dia ingin dimakamkan di Garut, Jawa Barat, tanah kelahirannya.
“Saya ingin dimakamkan di Garut, di tempat saya lahir,” ujar Epy kala itu.
Ia bahkan menegaskan ingin dikuburkan dekat makam ibunya.
“Berdampingan dengan ibu saya, enggak berdampingan juga enggak apa-apa. Karena kuburannya sudah penuh,” lanjutnya.
Alasan Ingin Dimakamkan di Tanah Kelahiran
Epy mengungkap bahwa keinginannya pulang ke Garut bukan hanya soal tanah kelahiran, tetapi juga harapan agar keluarganya tetap rukun.
“Saya ingin berdekatan, saya punya adik. Saya ingin akur," ucap dia.
Oleh karena itu, menurut Epy, jalan satu-satunya agar bisa kumpul di kampung adalah dimakamkan di tanah kelahirannya.
Perjalanan Panjang Melawan Penyakit
Perjuangan kesehatan Epy bukan hal baru. Pada 2010, ia pernah divonis mengidap tumor otak dan diprediksi hanya memiliki sisa hidup empat bulan.
Kondisinya saat itu sangat berat, setengah tubuhnya tak bisa digerakkan, penglihatan buram, bahkan nyaris tidak bisa melihat.
“Awalnya didiagnosa tipus. Tapi setelah CT-scan, ternyata ada tumor di otak dan harus segera dioperasi,” kata Epy saat menceritakan masa kritisnya.
Meski dokter menyarankan operasi, Karina memilih membawa Epy pulang dan menjalani pengobatan alternatif.
Hal itu ternyata justru membawanya pada pemulihan yang tidak terduga, hingga ia dapat kembali berkarya hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria