RADARSOLO.COM - Nada-nada yang menghidupi film-film Miles Films selama tiga dekade kini dirayakan dalam pameran “Musik Miles Films: 30 Tahun Mendengar Terdengar” di Ruang Pamer Temporer Lokananta. Dibuka mulai 26 Januari. Pameran ini mengajak publik menelusuri jejak bunyi, musik, dan proses kreatif yang membentuk identitas Miles Films sejak 1995.
Pameran ini menghadirkan arsip rilisan musik, lirik dan notasi, instalasi interaktif, hingga ruang rekaman imersif yang memungkinkan pengunjung merasakan bagaimana suara dan gambar berpadu dalam film. Dirancang oleh .this/PLAY Studio, ruangnya disusun sebagai pengalaman tematik yang merangkum perjalanan musikal Miles Films dari era analog hingga digital.
“Musik dalam film memegang peran penting sebagai elemen yang menyatu dengan dialog dan desain suara, membangun emosi dan ritme serta mendukung adegan. Nada-nada dalam film-film Miles bukan sekadar pelengkap, melainkan unsur penting yang membentuk pengalaman emosional penonton dan menandai zamannya,” ujar Creative Director Miles Films Riri Riza.
Salah satu momen paling membekas dalam perjalanan itu adalah “Petualangan Sherina” (2000)—film yang bukan hanya membuka kembali ruang musikal anak di layar lebar, tetapi juga menjadi landasan memori bagi generasi milenial.
Lagu-lagunya, adegannya, hingga energinya membentuk nostalgia kolektif sebuah generasi yang tumbuh bersama film tersebut. Bagi banyak milenial, musik Petualangan Sherina menjadi pintu pertama yang memperkenalkan mereka pada film musikal Indonesia modern.
Selama tiga dekade, Miles Films menggandeng komponis dan musisi ternama seperti Elfa Secioria, Djaduk Ferianto, Melly Goeslaw & Anto Hoed, Indra Lesmana, Aksan Sjuman, hingga Sherina Munaf. Band dan musisi populer seperti Mocca, Float, Nidji, Gigi, Endah N Rhesa, RAN, dan Iwa K juga turut melahirkan lagu-lagu ikonis yang melekat dalam budaya populer Indonesia.
Produser Miles Films Mira Lesmana berharap, pameran ini memberi ruang bagi publik untuk memahami proses penciptaan musik yang menyertai setiap film.
“Pencarian musik untuk film adalah proses panjang yang dilakukan sejak awal menggagas film bersama para musisi. Semoga lewat jejak bunyi, nada, dan gambar dalam pameran ini, publik bisa merasakan bagaimana proses kreatif yang menantang sekaligus menyenangkan itu berlangsung,” terangnya.
Pemilihan Lokananta sebagai lokasi pameran membawa makna historis tersendiri. CEO Lokananta Wendi Putranto menyebut kolaborasi ini sebagai kehormatan.
“Selama tiga dekade, Miles Films telah menjadi zeitgeist perfilman Indonesia. Kami mengundang publik untuk mendengar kembali, memahami ulang, dan merayakan jejak kreatif Miles Films,” ujarnya.
Pameran ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi—Generasi X dan milenial yang akan mengenang memori layar lebar mereka, serta Gen Z yang bisa menyelami proses kreatif di baliknya. Lewat instalasi dan arsip yang terus berkembang sepanjang pameran, “Musik Miles Films: 30 Tahun Mendengar Terdengar” merayakan bagaimana musik dan film bersatu menjadi identitas yang melekat dalam ingatan penonton Indonesia. (san/nik)
Editor : Niko auglandy