RADARSOLO.COM— Kota Solo tak hanya soal langgam Jawa atau syahdunya Keroncong. Di bawah lampu remang Koridor Gatot Subroto (Gatsu) hingga riuh rendahnya lantai 2 Pasar Gede, melodi improvisasi musik Jazz kini rutin menyapa warga.
Adalah Pilipe (Solo Jazz Activity), komunitas yang selama sembilan tahun terakhir konsisten menjadi oase bagi para pecinta Jazz di Kota Bengawan.
Street Jazz Gatsu: Jazz yang Membumi di Hari Buruh
Momen Hari Buruh, Jumat malam (1/5/2026), menjadi bukti betapa inklusifnya pergerakan Pilipe.
Baca Juga: Popda Surakarta 2026 Jadi Panggung Atlet Gulat Muda, PGSI Bidik Prestasi hingga Nasional
Alunan melodi dari tuts piano Aditya Ong berpadu apik dengan betotan bas yang hangat, memecah riuh rendah keramaian di Koridor Gatsu Surakarta.
Pertunjukan bertajuk Street Jazz ini diprakarsai oleh Pilipe bekerja sama dengan manajemen Solo Is Solo.
Kawasan ikonik tersebut mendadak berubah menjadi panggung megah, membuktikan bahwa Jazz tak harus selalu dinikmati di tempat eksklusif atau hotel berbintang.
Nama Pilipe sendiri merupakan akronim dari "Pinggir Kali Pepe", lokasi awal di mana komunitas ini pertama kali lahir dari semangat romantis para musisinya.
Romantisme Era 60-an dan Semangat Edukasi
Founder Pilipe, Sukat Puspaningrat, mengungkapkan bahwa komunitas ini lahir untuk menghidupkan kembali memori kejayaan big band jazz di Solo pada era 60-an.
Baginya, Jazz bukan sekadar hiburan telinga, melainkan musik yang edukatif.
"Jazz itu butuh proses belajar, bahkan untuk mendengarkannya pun kita perlu berpikir. Itulah mengapa kami ingin mengajak masyarakat Solo lebih mengenal genre ini. Kuncinya cuma satu: cinta dulu. Kalau sudah cinta, teknik bisa dipelajari lewat YouTube," ujar Sukat yang akrab disapa "Eyang" oleh para anggota muda.
Jam Session: Panggung Spontan Tanpa Sekat
Berbeda dengan konser formal, Pilipe mengandalkan konsep Jam Session. Bendahara Pilipe, Maryati Sitorus, menjelaskan bahwa di sinilah letak keseruan Jazz yang sesungguhnya.
Baca Juga: Dua Mahasiswa Raih Gelar Doktor, UNU Surakarta Cetak Doktor ke-50 dan 51
Musisi lintas instrumen—mulai dari piano, drum, hingga vokal—bisa naik ke panggung dan berkolaborasi secara spontan mengikuti harmoni tanpa perlu latihan formal sebelumnya.
"Pilipe mewadahi musisi yang haus panggung aktualisasi. Siapa saja boleh ikut, bahkan yang awalnya cuma nonton seringkali berani ikut bernyanyi lewat sesi open mic," kata Maryati saat ditemui di Kedai Nyonya, lantai 2 Pasar Gede Solo.
Regenerasi Eyang ke Cucu: SMKI hingga Mahasiswa
Optimisme besar menyelimuti masa depan Pilipe. Sukat merasa bangga karena saat ini komunitasnya sudah memasuki generasi ketiga.
Menariknya, peminat Jazz di Solo kini justru didominasi oleh anak muda, mulai dari pelajar SMKI Solo hingga mahasiswa.
Akses belajar yang mudah lewat media sosial dan YouTube membuat teknik-teknik sulit seperti avant-garde kini bisa dikuasai lebih cepat oleh anak muda.
Hal ini menjadi sinyal positif bahwa Jazz di Solo tidak akan "mati obor".
Jadwal Rutin Pilipe
Bagi kamu yang ingin merasakan vibe Jazz di tengah pasar, catat jadwalnya:
• Waktu: Hari Selasa (Minggu ke-1 dan ke-3 setiap bulannya).
• Lokasi: Kedai Nyonya, Lantai 2 Pasar Gede (Pasar Buah) Solo.
• Agenda: Jam Session & Open Mic.
Pilipe bukan hanya sekadar komunitas musik, tapi bukti nyata bahwa semangat kolaborasi dan inklusivitas bisa tercipta indah di ruang publik yang paling merakyat sekalipun. (dam)