RADARSOLO.COM — Pihak Pura Mangkunegaran Solo akhirnya mengambil tindakan tegas guna merespons kehebohan di media sosial terkait aksi nyeleneh seorang influencer pria dalam ritual Kirab Malam 1 Suro Be 1960 yang digelar Selasa (16/6/2026) lalu.
Langkah ini diambil setelah ruang publik dipenuhi kritik tajam atas pelanggaran tatanan busana adat sakral istana.
Oknum pria bernama Rahadian M. Saputra mendadak panen kecaman lantaran hadir mengikuti prosesi Kirab Malam 1 Suro dengan menggunakan kebaya hitam yang diperuntukkan bagi perempuan, lengkap dengan konde sanggul di kepalanya.
Di tengah derasnya protes dari para pencinta budaya, pihak otoritas istana Mangkunegaran mengeluarkan pernyataan resmi untuk meluruskan simpang siur izin berpakaian tersebut.
Mangkunegaran Bantah Beri Izin Spesial
Melalui keterangan tertulis yang dikeluarkan pada Kamis (18/6/2026), Pengageng Kawedanan Panti Budaya Pura Mangkunegaran GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo menegaskan bahwa pihak istana sama sekali tidak pernah melegalkan penggunaan pakaian yang melabrak aturan formal adat tersebut.
Gusti Sura—sapaan akrabnya—menyatakan bahwa regulasi mengenai pakaian resmi (ageman) untuk kelengkapan ritual suci sudah digariskan secara hitam di atas putih oleh panitia.
“Mangkunegaran telah mengeluarkan panduan ageman untuk ritual adat 1 Sura, panitia penyelenggara 1 Sura Be 1960 tidak pernah memberikan izin, dispensasi, ataupun perlakuan khusus kepada pihak mana pun,” tulis Gusti Sura.
Pernyataan tegas dari putri Mangkunegaran ini secara otomatis mematahkan klaim sepihak yang sempat dilontarkan oleh rekan Rahadian.
Sebelumnya, aktris Paola Serena sempat berdalih di kolom komentar bahwa tindakan rekannya diperbolehkan karena mendapat lampu hijau dari panitia acara.
Duduk Perkara yang Memicu Kemarahan Netizen
Badai kontroversi ini pertama kali ditiupkan lewat sebuah untaian keresahan dari akun Threads @mbulnyandul pada Rabu (17/6/2026).
Akun tersebut memprotes keras kehadiran Rahadian yang dinilai bersikap nirempati dan menjadikan upacara sakral sebagai ajang bersolek semata.
"Tolong ini anaknya ditegur. Dikasih tahu mana yang patut mana yang tidak. Acara sakral, bukan acara mejeng-mejeng," tulis akun @mbulnyandul yang langsung memention akun Gusti Sura.
Kekesalan masyarakat makin memuncak tatkala Rahadian lewat akun pribadinya, @rahadianms, membalas kritikan netizen dengan kalimat yang dianggap meremehkan pakem kebudayaan Jawa.
Dengan enteng, ia menyebut bahwa pakaian tidak memiliki gender.
"Karena pakaian tidak punya kelamin kawan," dalih Rahadian.
Baca Juga: Dilewati Truk ODOL, Jalan Menuju Sekolah Rakyat di Sragen Bakal Diintervensi Pusat
Momentum Refleksi Diri dan Menjaga Warisan Leluhur
Terlepas dari riuhnya perdebatan busana tersebut, Gusti Sura mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengembalikan fokus peringatan Tahun Baru Jawa Be 1960 ini sebagai sarana perenungan batin yang luhur.
Pihak Mangkunegaran pun menyampaikan apresiasi yang tinggi atas besarnya atensi warga yang ikut serta menjaga kelangsungan acara adat ini.
“Semoga semangat refleksi, ketertiban, dan saling menghormati yang hadir dalam peringatan Malam 1 Sura Be 1960 dapat terus menjadi bagian dari kehidupan bersama serta memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi,” pungkas Gusti Sura.
Editor : Syahaamah Fikria