RADARSOLO.COM - Nama Rahadian M Saputra mendadak menjadi perbincangan hangat publik setelah aksinya dalam Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran viral di media sosial.
Dalam momen tersebut, sosok yang kemudian disebut sebagai Pira Berkebaya itu tampil mengenakan kebaya hitam lengkap dengan sanggul, yang memicu pro dan kontra di ruang publik.
Aksi tersebut akhirnya berkembang menjadi polemik luas hingga berujung pada permintaan maaf secara terbuka.
Berikut Kronologi Lengkap peristiwa yang membuatnya menjadi sorotan dalam perayaan Malam 1 Suro tersebut.
Awal Kejadian di Kirab Malam 1 Suro
Peristiwa bermula saat Rahadian mengikuti kirab budaya dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa di kawasan Pura Mangkunegaran.
Dalam sejumlah dokumentasi yang beredar luas, ia terlihat mengenakan kebaya hitam, kain batik, serta tatanan sanggul.
Penampilan tersebut berbeda dari peserta laki-laki pada umumnya yang biasanya mengenakan busana adat seperti beskap, jarik, dan blangkon.
Perbedaan inilah yang kemudian memicu perhatian publik dan menjadikannya viral di berbagai platform media sosial.
Viral dan Tuai Pro Kontra Publik
Setelah foto dan video beredar luas, istilah Pira Berkebaya ramai diperbincangkan. Banyak warganet menyoroti pilihan busana tersebut dalam konteks acara adat yang dianggap sakral.
Sejumlah budayawan dan pemerhati budaya Jawa turut memberikan tanggapan.
Mereka menilai bahwa persoalan bukan sekadar pakaian, melainkan kesesuaian dengan aturan dan tata krama dalam prosesi adat Malam 1 Suro yang memiliki nilai tradisi kuat.
Muncul Klaim Soal Izin Penyelenggara
Di tengah polemik yang berkembang, muncul klaim bahwa Rahadian disebut telah mendapatkan izin dari pihak penyelenggara untuk mengenakan kebaya saat kirab.
Namun, informasi tersebut tetap memicu perdebatan baru. Sebagian pihak mempertanyakan kejelasan izin tersebut, sementara lainnya menilai bahwa izin tidak serta-merta menghapus perdebatan soal kepatuhan terhadap aturan adat.
Tak hanya itu, pernyataan yang menyebut “busana tidak memiliki jenis kelamin” juga turut memperluas diskusi publik, antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap tradisi budaya.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Setelah polemik berlangsung beberapa hari, Rahadian akhirnya menyampaikan klarifikasi.
Ia mengaku telah menerima berbagai masukan dari masyarakat dan mencoba memahami perspektif yang berbeda terkait tindakannya di Kirab Malam 1 Suro.
Ia juga menyadari bahwa apa yang dilakukan menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap nilai budaya yang dijunjung dalam prosesi tersebut.
Akhirnya, melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.
“Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita pada acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu. Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Mangkunegaran, budayawan, masyarakat Jawa, dan masyarakat Indonesia yang merasa tersinggung.
Janji Tidak Mengulangi Kesalahan
Dalam pernyataan penutupnya, Rahadian menegaskan bahwa kritik yang diterima akan dijadikan pelajaran berharga.
Ia berjanji tidak akan mengulangi tindakan serupa di kemudian hari.
“Kritik dan saran akan saya jadikan pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Dengan demikian, polemik Pira Berkebaya di Malam 1 Suro Pura Mangkunegaran Viral ini resmi berakhir dengan permintaan maaf terbuka dari yang bersangkutan.
Editor : Nur Pramudito