Sering Dianggap Mulai Ditinggalkan, Kenapa Dangdut Masih Jadi Musik Favorit Orang Indonesia?

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 11:17 WIB
Ilustrasi Konser Dangdut. (AI Generated)
Ilustrasi Konser Dangdut. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Setiap beberapa tahun sekali, selalu ada genre musik yang mendominasi. Mulai dari pop, hip-hop, indie, hingga K-pop yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia.

Di tengah derasnya arus musik global, banyak yang menganggap dangdut mulai kehilangan tempatnya, terutama di kalangan anak muda.

Baca Juga: Sering Dipakai di Sekolah dan Kampus, Istilah Pendidikan Ini Ternyata Berasal dari Bahasa Belanda

Memang iya? Yok cek kebenarannya.

Faktanya, hasil survei Skala Survei Indonesia (SSI) menunjukkan bahwa dangdut masih menjadi genre musik yang paling disukai masyarakat Indonesia.

Sebanyak 58,1 persen responden memilih dangdut sebagai genre favorit, jauh di atas musik pop yang berada di posisi kedua dengan 31,3 persen.

Data ini menunjukkan bahwa meski tidak selalu mendominasi tangga lagu digital, dangdut masih memiliki basis pendengar yang sangat kuat.

Baca Juga: Kenapa Orang Indonesia Suka Dengerin Lagu Galau? Ternyata Bukan Cuma Soal Patah Hati

Meski begitu, ada satu hal yang menarik. Tingkat kesukaan terhadap dangdut ternyata berbeda di setiap kelompok pendidikan.

Sebanyak 67,3 persen responden yang belum atau tamat SD mengaku menyukai dangdut. Angka tersebut turun menjadi 62,8 persen pada lulusan SMP, 45,8 persen pada lulusan SMA, dan hanya 28,1 persen pada lulusan perguruan tinggi.

Baca Juga: Lebih Pilih Rebahan daripada Healing? Mungkin Kamu Seorang Homebody

Perbedaan ini menunjukkan bahwa selera musik tidak hanya dipengaruhi oleh usia, tetapi juga lingkungan sosial dan latar belakang pendidikan.

Meski sering diasosiasikan dengan generasi yang lebih tua, dangdut juga mulai menemukan cara baru untuk menjangkau pendengar muda. Data tren pencarian digital menunjukkan minat terhadap berbagai bentuk dangdut modern justru mengalami peningkatan.

Pencarian untuk Dangdut Cafe melonjak hingga 90 persen, sementara Popdut dan Konser Dangdut masing-masing naik 30 persen, serta Disco Dangdut meningkat 20 persen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda mungkin tidak selalu menikmati dangdut dalam bentuk klasik tetapi lebih tertarik pada versi yang telah beradaptasi dengan tren musik masa kini.

Kemampuan beradaptasi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa dangdut sulit tergeser. Sejak awal perkembangannya, dangdut telah menyerap berbagai pengaruh musik, mulai dari Melayu, India, hingga unsur pop dan elektronik.

Kini, perpaduan tersebut kembali berkembang melalui dangdut koplo, popdut, remix, hingga pertunjukan yang dikemas lebih modern.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Lagu Hits, Ini Alasan Grammy Awards jadi Penghargaan Musik Paling Bergengsi di Dunia

Selain itu, dangdut tidak hanya hidup di platform streaming. Genre ini masih menjadi bagian dari berbagai kegiatan masyarakat, seperti hajatan, festival daerah, konser, hingga perayaan lainnya.

Ketika banyak genre lebih sering dinikmati secara personal melalui earphone, dangdut justru memiliki kekuatan sebagai musik komunal yang mengundang orang untuk berkumpul, bernyanyi, dan berjoget bersama.

 

Editor : Kabun Triyatno
dangdut musik GenRe tren