Kenapa Musisi Sekarang Membangun “Dunia” Sendiri di Balik Musiknya?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:55 WIB
Fandom
Fandom 'Carat' saat menyaksikan pemutaran konser Seventeen di Solo. Foto: Inayah Choirunisa

RADARSOLO.COM – Ketika seorang musisi merilis lagu baru, perhatian penggemar kini tidak selalu berhenti pada musik. Ada sampul album, video musik, warna visual, karakter, merchandise, cerita di balik lagu, hingga konsep tur yang ikut membentuk identitas seorang artis.

Musisi semakin sering membangun apa yang dapat disebut sebagai “dunia” mereka sendiri. Lagu menjadi salah satu bagian dari pengalaman yang lebih besar, sementara penggemar diajak mengikuti berbagai elemen yang saling terhubung.

Baca Juga: Spotify Punya 300 Juta Pelanggan Premium, Mengapa Orang Mau Membayar Musik yang Bisa Didengar Gratis?

Lagu Bukan Lagi Satu-Satunya Produk

Perubahan ini berkaitan dengan cara industri musik membangun hubungan dengan penggemar.

Laporan Digital Media Trends 2026 dari Deloitte menunjukkan bahwa pemilik fandom kuat semakin berupaya menjaga keterlibatan penggemar sepanjang tahun, termasuk melalui konten media sosial di antara periode perilisan dan musim pertunjukan.

Artinya, hubungan artis dengan penggemar tidak harus berhenti setelah sebuah lagu dirilis.

Ada konten yang bisa terus diproduksi, cerita yang dapat dikembangkan, serta aktivitas komunitas yang membuat penggemar tetap mengikuti perjalanan sang artis.

Baca Juga: Agustus Tiba, “august” Taylor Swift Kembali Menghantui Media Sosial

Dari Era hingga “Lore”

Salah satu bentuknya terlihat dari konsep era.

Seorang musisi dapat menggunakan warna, busana, gaya visual, dan tema tertentu untuk membedakan satu periode karya dengan periode berikutnya.

Ada pula artis yang membangun lore, yaitu rangkaian cerita atau detail yang membuat penggemar merasa terdapat dunia tertentu di balik karya mereka.

Penggemar kemudian tidak hanya mendengarkan lagu, tetapi juga mencari makna dari video musik, membaca teori, memperhatikan simbol, atau menghubungkan satu karya dengan karya lainnya.

Fandom Menjadi Bagian Penting

Media sosial membuat proses tersebut semakin kuat. Penggemar dapat mendiskusikan teori, membuat karya penggemar, menyebarkan potongan video, dan menciptakan percakapan sendiri.

Bahkan, laporan Deloitte menyebut fandom sebagai salah satu peluang penting bagi perusahaan media untuk mempertahankan keterlibatan audiens dan menghasilkan nilai di luar perilisan utama.

Bagi musisi, komunitas seperti ini dapat menjadi kekuatan besar. Penggemar bukan hanya pendengar, tetapi ikut memperluas jangkauan karya melalui percakapan dan konten yang mereka buat.

Musik Menjadi Sebuah Pengalaman

Perubahan tersebut membuat industri musik semakin mirip dengan industri hiburan lainnya. Sebuah album dapat memiliki cerita, identitas visual, merchandise, pertunjukan langsung, hingga komunitas penggemar yang terus berkembang.

Musik tetap menjadi pusatnya. Namun, artis kini memiliki lebih banyak cara untuk membuat penggemar tinggal lebih lama di dalam dunia yang mereka ciptakan.

Pada akhirnya, musisi tidak hanya bersaing untuk membuat lagu yang didengar. Mereka juga berusaha membangun identitas yang membuat penggemar ingin terus mengikuti perjalanan mereka.

Sebab, di tengah begitu banyak lagu yang dirilis setiap hari, memiliki musik yang bagus mungkin belum cukup. Memiliki dunia yang membuat orang ingin tinggal di dalamnya bisa menjadi pembeda. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa penggemar musik musisi karya