RADARSOLO.COM – Pernah mendengar sebuah lagu lalu merasa yakin penyanyinya mengucapkan kata tertentu, padahal setelah melihat lirik aslinya ternyata berbeda? Fenomena semacam ini ternyata punya nama, yakni mondegreen.
Fenomena tersebut belakangan ikut membawa lagu berbahasa Jawa “Kicau Mania” milik Ndarboy Genk dan Banditoz Yaow 86 menjadi perhatian warganet mancanegara.
Lagu yang dirilis pada Januari 2026 tersebut sebelumnya telah ramai digunakan sebagai sound di TikTok, mulai dari video jedag-jedug hingga berbagai konten hiburan. Video musik resminya juga telah ditonton jutaan kali di YouTube.
Namun, pada akhir Juli, lagu tersebut mendapat perhatian dari pengguna TikTok luar negeri karena adanya salah dengar terhadap penggalan liriknya.
Baca Juga: Dari Balap Karung ke Lip Sync Battle, Lomba 17 Agustus yang Makin Bervariasi
Terdengar Seperti Bahasa Inggris
Sejumlah kreator asing menangkap bunyi salah satu bagian lagu seolah-olah menyerupai kalimat bahasa Inggris “get yo money up”.
Padahal, lagu tersebut menggunakan bahasa Jawa dan memiliki lirik yang berkaitan dengan kehidupan para kicau mania, sebutan bagi penghobi burung kicau. Perbedaan antara bunyi yang sebenarnya dinyanyikan dan bunyi yang ditangkap pendengar inilah yang kemudian menjadi bahan tren di TikTok.
Menariknya, kesalahan tersebut justru tidak membuat orang berhenti mendengarkan lagu. Sebaliknya, pengguna media sosial ikut menggunakan audio tersebut untuk membuat video tarian, lip sync, hingga berbagai konten lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah lagu tidak selalu harus dipahami secara tepat untuk bisa menarik perhatian pendengar.
Baca Juga: Kenapa Musisi Sekarang Membangun “Dunia” Sendiri di Balik Musiknya?
Kenapa Kita Bisa Salah Mendengar?
Mondegreen terjadi ketika seseorang menangkap rangkaian bunyi dalam ucapan atau nyanyian sebagai kata atau kalimat lain.
Hal tersebut dapat terjadi karena bunyi dalam percakapan maupun lagu tidak selalu terdengar secara terpisah. Otak justru berusaha menyusun bunyi yang samar menjadi sesuatu yang paling masuk akal berdasarkan bahasa dan kosakata yang sudah dikenal pendengar.
Itulah sebabnya pendengar yang berbeda bahasa dapat menangkap bunyi yang sama dengan cara berbeda.
Dalam kasus Kicau Mania, pendengar yang tidak memahami bahasa Jawa dapat mencoba mencocokkan bunyi yang mereka dengar dengan kosakata bahasa Inggris yang sudah familiar. Hasilnya, muncul interpretasi yang berbeda dari lirik sebenarnya.
Salah Dengar Berubah Menjadi Tren
Biasanya, salah dengar lirik hanya menjadi pengalaman lucu yang dibagikan kepada teman. Media sosial membuat fenomena tersebut memiliki kehidupan yang jauh lebih panjang.
Ketika satu orang mengunggah interpretasinya, pengguna lain dapat membuat video dengan audio yang sama. Kesalahan pendengaran kemudian berubah menjadi lelucon bersama dan akhirnya menjadi bagian dari tren.
Dalam kasus Kicau Mania, fenomena tersebut juga secara tidak langsung memperkenalkan lagu berbahasa Jawa kepada pengguna media sosial yang sebelumnya mungkin tidak mengenalnya.
Pada akhirnya, viralnya Kicau Mania memperlihatkan bahwa bahasa yang tidak dipahami sekalipun tetap dapat menarik perhatian ketika bunyinya terasa familiar. Di era media sosial, salah dengar yang biasanya dianggap sebagai kekeliruan justru dapat menjadi pintu masuk bagi sebuah lagu untuk menjangkau pendengar yang lebih luas. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno