RADARSOLO.COM – Film Indonesia tidak hanya hidup di layar bioskop dalam negeri. Sejumlah karya sineas Indonesia justru membawa cerita dan gaya sinema Nusantara ke berbagai festival film bergengsi dunia.
Beberapa di antaranya bahkan berhasil membawa pulang penghargaan internasional dan mendapat perhatian dari industri perfilman global.
Berikut lima film Indonesia yang mencatat perjalanan penting di festival film internasional.
Baca Juga: Bukan Cuma Musik Klasik, Ini yang Bikin Orkestra Menarik
1. The Raid: Redemption
Film garapan Gareth Evans yang dibintangi Iko Uwais ini menjadi salah satu karya Indonesia yang paling dikenal di industri film internasional.
Dirilis pada 2011, film tersebut memperkenalkan gaya laga Indonesia melalui koreografi silat yang intens. Kesuksesannya di festival internasional dan pasar global turut membuka perhatian terhadap film laga Asia Tenggara.
Pengaruhnya kemudian terasa dalam industri film aksi internasional. Gaya pertarungan yang mengandalkan koreografi fisik, kamera dekat, dan adegan panjang menjadi salah satu kekuatan yang membuat The Raid berbeda dari film aksi Hollywood pada masa itu.
Baca Juga: Kenapa Musisi Sekarang Membangun “Dunia” Sendiri di Balik Musiknya?
2. Prenjak (In the Year of Monkey)
Film pendek karya Wregas Bhanuteja ini hanya berdurasi sekitar 12 menit. Namun, durasinya yang singkat tidak menghalangi film tersebut mencatat prestasi besar.
Prenjak memenangkan Semaine de la Critique Canal+ Award di Festival Film Cannes 2016.
Film tersebut bercerita tentang transaksi korek api yang digunakan sebagai metafora untuk membicarakan tubuh, ekonomi, dan relasi kuasa.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting bagi film pendek Indonesia di Cannes.
3. Marlina the Murderer in Four Acts
Karya Mouly Surya ini membawa kisah dari lanskap Sumba ke panggung festival internasional.
Baca Juga: Beda Zaman, Beda Sebutan, Istilah Mana yang Masih Kamu Kenal?
Marlina the Murderer in Four Acts diputar di Festival Film Cannes 2017 dalam program Directors' Fortnight.
Film yang dibintangi Marsha Timothy tersebut memadukan drama, thriller, dan elemen western dengan latar budaya Sumba. Gaya visualnya yang khas membuat Marlina mendapatkan perhatian dari berbagai festival film internasional.
4. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Film karya Edwin ini mencatat prestasi besar ketika memenangkan Golden Leopard di Locarno Film Festival 2021.
Penghargaan tersebut merupakan salah satu pencapaian tertinggi dalam festival film kelas A tersebut.
Diadaptasi dari novel Eka Kurniawan, film ini membawa cerita mengenai kekerasan, maskulinitas, cinta, dan trauma melalui gaya penceritaan yang tidak konvensional.
5. Autobiography
Film garapan Makbul Mubarak ini menjadi salah satu karya Indonesia yang mendapat perhatian besar di festival internasional.
Autobiography tayang perdana di Venice Film Festival 2022 dalam program Orizzonti dan kemudian berkeliling ke berbagai festival internasional.
Baca Juga: Kamera HP Makin Canggih, Kenapa Kamera Digital Jadul Malah Kembali Dicari?
Film tersebut mengikuti Rakib, seorang pemuda yang bekerja sebagai penjaga rumah milik seorang pensiunan jenderal. Hubungan keduanya kemudian berkembang menjadi persoalan mengenai kekuasaan, loyalitas, dan politik.
Kelima film tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan film Indonesia di luar negeri tidak selalu bergantung pada produksi dengan anggaran raksasa.
Cerita lokal, aktor Indonesia, bahasa daerah, hingga latar tempat yang mungkin terasa sangat dekat bagi penonton dalam negeri justru dapat menjadi kekuatan ketika dibawa ke festival internasional.
Sebab, yang membuat sebuah film mampu melintasi batas negara bukan berarti ceritanya harus dibuat semakin “internasional”. Kadang justru ketika sebuah film berani menjadi sangat Indonesia, dunia mulai tertarik untuk melihatnya. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno