RADARSOLO.COM – Tidak banyak film Indonesia yang membuat perdebatan di masyarakat meluas hingga ke persoalan agama. Salah satunya adalah ? (Tanda Tanya), film garapan Hanung Bramantyo yang dirilis pada 2011.
Film ini mempertemukan sejumlah karakter dengan latar belakang agama dan etnis berbeda. Melalui kehidupan mereka, Hanung mengangkat persoalan pluralisme, toleransi, konflik antarumat beragama, hingga diskriminasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, keberanian tersebut justru membuat film ini menuai kontroversi.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Makin Dominan, tapi Bahasa Daerah Masih Dipakai 73,82 Persen Penduduk
Sejak sebelum dan setelah penayangannya, ? (Tanda Tanya) mendapat kritik dari sejumlah kelompok yang menganggap film tersebut membawa gagasan pluralisme dan sinkretisme agama. FPI dan MUI termasuk pihak yang pada masa itu menyuarakan keberatan terhadap film tersebut.
Kontroversi bahkan tidak berhenti pada perdebatan di media.
Film tersebut juga sempat menghadapi persoalan dalam penayangannya di televisi. Sejumlah bagian yang dianggap sensitif harus mengalami penyesuaian ketika film ditayangkan melalui televisi.
Baca Juga: Apa Itu Vacuum of Power? Kekosongan Kekuasaan yang Jadi Momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Adegan yang Jadi Perdebatan
Salah satu bagian yang paling banyak diperbincangkan adalah penggambaran anggota Banser yang melindungi jemaat gereja ketika terjadi aksi bom.
Dalam film, seorang anggota Banser bernama Surya digambarkan bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi orang-orang yang sedang menjalankan ibadah.
Adegan tersebut menjadi simbol yang kuat mengenai gagasan kemanusiaan yang ingin disampaikan film.
Namun, bagi sebagian pihak, penggambaran tersebut justru dianggap bermasalah karena dinilai terlalu jauh membawa pesan pluralisme ke dalam persoalan agama.
Di sisi lain, film tersebut memang tidak berusaha membuat persoalan menjadi hitam-putih.
Karakter-karakternya memiliki keyakinan, kepentingan, dan persoalan masing-masing. Konflik muncul bukan hanya karena perbedaan agama, tetapi juga karena prasangka yang tumbuh di antara masyarakat.
Mengapa Sensitif pada 2011?
Untuk memahami kontroversinya, film ini perlu ditempatkan dalam situasi sosial Indonesia pada awal 2010-an.
Persoalan mengenai hubungan antarumat beragama, pendirian rumah ibadah, konflik berbasis identitas, serta perdebatan mengenai toleransi masih menjadi isu yang sensitif.
Baca Juga: Underconsumption Core, Tren yang Mengajak Kita Berhenti Belanja Berlebihan
Karena itu, ketika ? (Tanda Tanya) membawa persoalan tersebut ke layar lebar, film ini tidak hanya dipandang sebagai hiburan.
Film tersebut ikut masuk ke dalam perdebatan yang sudah berlangsung di masyarakat.
Hanung sendiri memang dikenal kerap mengangkat persoalan sosial dan agama melalui filmnya. Dalam ? (Tanda Tanya), perbedaan tidak hanya ditampilkan sebagai latar cerita, tetapi menjadi pusat konflik para tokohnya.
Akibatnya, film ini berada di posisi yang sulit: bagi sebagian penonton, ia dianggap berani membicarakan toleransi dan keberagaman. Bagi pihak lain, pesan yang dibawa justru dianggap melampaui batas.
Kontroversi tersebut menunjukkan bahwa film tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Ketika sebuah cerita menyentuh persoalan yang dekat dengan identitas masyarakat, layar bioskop dapat berubah menjadi ruang perdebatan sosial.
Lebih dari satu dekade setelah dirilis, ? (Tanda Tanya) masih menarik dibicarakan bukan hanya karena kontroversinya, tetapi karena memperlihatkan satu hal: film dapat menjadi cermin masyarakat, tetapi kadang-kadang masyarakat tidak selalu suka melihat pantulan dirinya sendiri. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno