RADARSOLO.COM – Bayangkan menonton film lebih dari 100 tahun lalu. Belum ada komputer, green screen, CGI, atau perangkat lunak untuk membuat manusia terbang dan benda menghilang. Namun, penonton pada masa itu ternyata sudah bisa melihat adegan orang menghilang, muncul kembali, berubah menjadi benda lain, hingga melakukan perjalanan ke bulan.
Di balik “sulap” tersebut ada nama Georges Méliès, seorang pesulap Prancis yang kemudian beralih menjadi pembuat film.
Méliès dikenal sebagai salah satu pelopor terbesar dalam penggunaan efek visual pada masa awal sinema. Ia bahkan kerap disebut sebagai salah satu “bapak” efek visual karena eksperimennya menjadi bagian penting dari sejarah VFX.
Baca Juga: Aktor Lama Kembali ke Waralaba, Comeback “Wajah Lama” Jadi Daya Tarik Film
Sebelum terjun ke dunia film, Méliès merupakan pesulap panggung. Pada 1888, ia membeli Théâtre Robert-Houdin di Paris, sebuah teater yang memang terkenal dengan pertunjukan ilusi. Ketika film mulai berkembang pada akhir abad ke-19, Méliès melihat sesuatu yang mungkin belum terpikirkan banyak orang saat itu.
Baginya, kamera tidak harus sekadar merekam kenyataan.
Gagasan itulah yang kemudian membuat film-filmnya berbeda dari banyak film awal yang umumnya merekam kejadian sehari-hari atau pertunjukan secara langsung. Méliès mulai bereksperimen dengan berbagai teknik untuk membuat sesuatu yang mustahil terlihat nyata di layar.
Salah satu teknik yang terkenal adalah stop trick atau substitution splice. Secara sederhana, kamera dihentikan sementara, objek dalam adegan diubah atau dipindahkan, kemudian kamera kembali merekam. Ketika hasil rekamannya diputar, perubahan tersebut terlihat seperti terjadi secara ajaib.
Baca Juga: “Matilah Kau Mati”, Lagu yang Membawa Kembali Luka “Laut Bercerita”
Méliès kemudian mengembangkan berbagai teknik lain, termasuk double exposure, superimposition, dissolve, split screen, serta berbagai manipulasi gambar lainnya. Teknik-teknik tersebut memungkinkan satu aktor terlihat muncul beberapa kali dalam satu layar atau membuat objek seolah-olah tiba-tiba menghilang.
Yang menarik, sebagian efek tersebut tidak membutuhkan komputer sama sekali. Méliès mengandalkan kamera, film, pencahayaan, properti, latar yang dilukis, serta ketelitian dalam proses pengambilan gambar.
Eksperimennya mencapai salah satu titik paling terkenal melalui A Trip to the Moon atau Le Voyage dans la Lune yang dirilis pada 1902.
Film tersebut menceritakan sekelompok astronom yang melakukan perjalanan menuju bulan menggunakan kapsul yang ditembakkan dari sebuah meriam. Salah satu gambarnya yang paling ikonik memperlihatkan kapsul tersebut menancap tepat di mata “Man in the Moon”.
Untuk ukuran film pada zamannya, visual tersebut sangat tidak biasa. Méliès menggabungkan latar panggung, miniatur, teknik kamera, efek optik, serta penyuntingan untuk menciptakan dunia fantasi yang tidak mungkin direkam secara biasa.
Méliès juga dikenal sangat produktif. Sepanjang masa kariernya, ia membuat ratusan film dan mengembangkan gaya trick film yang menjadikan efek visual sebagai bagian penting dari pengalaman menonton.
Tentu saja, VFX modern sudah berkembang jauh. Film masa kini dapat menciptakan monster digital, menghancurkan gedung, membuat aktor terlihat berada di planet lain, bahkan membangun dunia yang sepenuhnya virtual.
Namun, prinsip dasarnya masih terasa sama, membuat penonton percaya pada sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi di depan kamera.
Bedanya, Méliès melakukan “sulap” tersebut ketika teknologi sinema masih sangat muda. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno