“Lobang Buaya,” Ketika Horor Dipakai untuk Mengulik Luka Sejarah Indonesia

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 09:52 WIB
Film Lobang Buaya (1 Oktober 2026) karya Hanung Bramantyo memadukan genre horor-misteri dengan trauma sejarah 1965.
Film Lobang Buaya (1 Oktober 2026) karya Hanung Bramantyo memadukan genre horor-misteri dengan trauma sejarah 1965.

RADARSOLO.COM – Bagaimana jika rasa takut terhadap sejarah diterjemahkan menjadi film horor? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan yang dibawa sutradara Hanung Bramantyo melalui film Lobang Buaya yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.

Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Films ini mengambil latar 1964, setahun sebelum peristiwa tragis 1965. Ceritanya mengikuti Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra ketika menyelidiki rangkaian pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya.

Baca Juga: Bagaimana jika Sejarah Indonesia Diceritakan Lewat Kisah Perempuan? 6 Buku ini Menjawabnya

Korban terus berjatuhan setiap tanggal 30 sehingga masyarakat mulai diliputi ketakutan.

Namun, Lobang Buaya tidak sekadar menggunakan sejarah sebagai latar cerita. Hanung justru menjadikan rasa takut terhadap sejarah itu sendiri sebagai sumber horor.

Ketakutan Tidak Hanya Datang dari Hantu

Dalam keterangan yang dikutip ANTARA, Hanung mengatakan dirinya mempertanyakan kembali perasaan masyarakat ketika mendengar peristiwa 1965. Jawabannya adalah horor.

Baca Juga: Film “Rumah Singgah” Kisah Pejuang Kanker yang Memilih Merayakan Hidup

Karena itu, ia memilih genre horor bukan hanya untuk membuat penonton takut terhadap teror dalam cerita, tetapi juga untuk menggambarkan ketakutan yang muncul dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan penindasan manusia terhadap manusia lainnya.

Pendekatan tersebut membuat film tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa pelaku pembunuhan. Ketakutan dalam cerita juga dapat dibaca sebagai gambaran masyarakat yang hidup dalam situasi penuh ketegangan dan ketidakpastian.

Sejarah Tidak Diceritakan Secara Gamblang

Alih-alih membuat film sejarah konvensional, Lobang Buaya menggunakan misteri pembunuhan dan elemen supranatural sebagai pintu masuk.

Dalam materi promosinya, penonton diajak mengikuti penyelidikan Soegeng untuk menemukan dalang di balik pembunuhan yang terjadi secara berulang. Di sisi lain, Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset juga mengalami teror dari sosok arwah perempuan.

Dengan cara tersebut, sejarah menjadi sesuatu yang dirasakan melalui atmosfer, bukan hanya disampaikan melalui dialog atau penjelasan kronologis.

Sudah Dibawa ke Festival Internasional

Sebelum ditayangkan di Indonesia, film ini telah melakukan perjalanan ke sejumlah festival internasional.

Film dengan judul internasional The Hole, 309 Days to the Bloodiest Tragedy tersebut melakukan pemutaran perdana dunia di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026. Setelah itu, film masuk program B Extreme dalam Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026 di Korea Selatan.

Kehadiran di festival tersebut juga menunjukkan bahwa kisah yang berangkat dari sejarah Indonesia dapat dikemas melalui bahasa genre yang lebih universal, yakni horor dan misteri.

Ketika Sejarah Menjadi Sumber Kengerian

Pada akhirnya, Lobang Buaya tidak hanya menawarkan pertanyaan tentang siapa pembunuh di balik teror Desa Lobang Buaya.

Film ini juga mengajak penonton melihat bahwa sesuatu yang paling menakutkan tidak selalu berupa hantu atau makhluk gaib. Kekuasaan yang disalahgunakan, manusia yang saling menindas, serta trauma sejarah yang belum sepenuhnya selesai juga dapat menjadi sumber ketakutan.

Lewat horor, Hanung mencoba menghadirkan kembali rasa tersebut ke layar. Bukan untuk memberikan satu jawaban mengenai masa lalu, tetapi untuk mengajak penonton merasakan kembali ketakutan yang mungkin selama ini hanya mereka kenal dari cerita sejarah. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa film GenRe horor sejarah