Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Komunitas Oemah Ulo Gratiskan Layanan Evakuasi Ular

Perdana Bayu Saputra • Senin, 30 Desember 2019 | 00:21 WIB
TERLATIH: Anggota komunitas Oemah Ulo peragakan cara penanganan ular.
TERLATIH: Anggota komunitas Oemah Ulo peragakan cara penanganan ular.
Beberapa hari terakhir, di sejumlah daerah digegerkan dengan kasus ular masuk ke permukiman. Mengamankan binatang berbisa itu tidak bisa sembarangan. Butuh skill khusus.

A.CHRISTIAN, Sukoharjo, Radar Solo

DI Kota Makmur, ada sebuah komunitas yang menamakan dirinya Oemah Ulo. Mereka rela tak dibayar meskipun harus bertaruh nyawa untuk mengevakuasi ular dari rumah warga.

Ditemui di basecamp Oemah Ulo Purbayan, RT 03 RW 01 Kelurahan Singapuran, Kecamatan Kartasura, para anggota komunitas sedang bersantai. Di antaranya, Samudra Budi.

Setelah panjang lebar bercerita tentang pengalaman menangani ular, Samudra lalu praktik di hadapan Jawa Pos Radar Solo. Ada dua alat bantu yang digunakan, yakni snake hook dan grab stick. Tongkat sepanjang satu meter itu berfungsi menjaga posisi ular jauh dari posisi tubuh si rescuer. “Grab stick bisa untuk menjepit tubuh ular. Namun tidak menyakiti,” katanya.

Apabila tidak memiliki alat tersebut, peralatan rumah tangga seperti sapu dan pel bisa dijadikan penggantinya. Setelah pada posisi aman, jepit badan ular menggunakan gagang sapu lalu dimasukkan ke dalam karung.

“Yang paling mudah, kalau ada ular ambil ember besar. Perlahan tutup ular dengan ember. Setelah itu, beri pemberat agar ember tak terguling. Baru panggil orang berpengalaman untuk mengevakuasi ular,” paparnya.

Ada pula cara menangkap ular dengan menutup bagian kepala hewan melata itu dengan karung atau kain. Cara itu dikenal dengan sebutan matador. Namun, sangat berisiko.

“Karena kita tidak tahu, ketika kain diangkat, apakah saat itu ular mengangkat kepala atau sedang mangap (membuka mulut). Ketika hal itu terjadi, ular rentan menggigit. Saya pernah mengalaminya,” ujar dia.

Keistimewaan komunitas ini adalah enggan menerima bayaran setelah mengevakuasi ular di permukiman. Sebab, tujuan awal dibentuknya Oemah Ulo adalah membantu masyarakat. “Kita 24 jam on call. Terbaru, kami mengevakuasi ular dari pukul 22.00 sampai 02.00,” jelas koordinator komunitas Oemah Ulo Bintang Putra Dewa.

Saat ini, tercatat ada 30 anggota komunitas yang tersebar di sejumlah wilayah eks Karesidenan Surakarta. Mereka dibagi menjadi beberapa rayon penanganan. Antara lain Kota Solo, Mojosongo, Karanganyar, Kartasura, Colomadu, Laweyan, Sragen, Gawok, Solo Baru, Donohudan, hingga Temanggung.

Dalam sehari, sedikitnya ada tiga ekor ular yang mereka evakuasi. Di musim penghujan seperti sekarang, paling banyak anak kobra. lisodon, serta ular pelangi. Meski ukurannya hanya sekitar telunjuk orang dewasa, anakan kobra lebih berbahaya dibandingkan kobra dewasa. Sebab mereka belum bisa mengontrol keluarnya bisa.

“Yang dewasa ada yang namanya dry bite atau gigitan tanpa bisa. Kemapuan itu belum bisa dilakukan anakan kobra. Sejak menetas mereka sudah memiliki bisa,” jelasnya.

Kenapa ular marak masuk permukiman? Bintang menuturkan karena pada Desember-Januari merupakan musim menetas telur ular. Kondisi tersebut diperparah mulai langkanya predator ular kobra seperti musang, biawak, garangan, burung elang, dan burung hantu.

“Kita juga menangkar biawak, sehingga bisa dilepas ke lingkungan permukiman dengan harapan mengurangi populasi kobra secara alami,” tuturnya.

Setelah dievakuasi, imbuh Bintang, ular dikarantina sebelum dilepasliarkan di lingkungan yang jauh dari permukiman. “Lokasinya kita rahasiakan untuk menjaga populasi. Karena ular juga termasuk rantai makanan. Kalau hilang, maka keseimbangan alam akan terganggu,” ucap dia.

Komunitas Oemah Ulo juga mengedukasi masyarakat tata cara mengamankan ular. Cara yang paling mudah adalah menjaga kebersihan rumah. Selanjutnya, letakkan kapur barus atau bahan dengan bau menyengat lainnya. “Yang jelas jangan menyebar garam, percuma. Ular tidak takut,” terangnya. (*/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra
#komunitas #evakuasi ular #oemah ulo