A CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
USAHANYA memang tergolong simpel. Membuka usaha roti panggang dan kukus. Tapi jangan salah. Outletnya sudah tersebar di mana-mana. Selain di Kota Bengawan, juga sudah merambah Boyolali, Jogja, Ambarawa, Salatiga hingga Ungaran.
Dijumpai di salah satu outletnya di kawasan Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Eros terlihat sibuk memanggang roti pesanan pelanggan. Meski sudah memiliki karyawan, dia tidak canggung masih terlibat di urusan teknis.
Ya, Eros juga merupakan lulusan homeschooling. Alasannya dia masuk ke lembaga pendidikan non formal ini karena tidak suka dengan banyaknya aturan di sekolah formal. “Masuk ke homeschooling direkomendasilan sama mama. Jam belajarnya lebih fleksibel, jadi tertarik. Dulu masuk 2015 dan lulus 2017,” katanya.
“Dulu saya berpersepsi homeschooling itu belajarnya di rumah. Ternyata ada kelasnya juga. Lebih nyaman, karena pelajarannya tidak muluk-muluk, kemudian potensi non akademik juga ditonjolkan. Jadi saya ini sudah punya cita-cita usaha sejak sekolah. Di sana dikembangkan sama tutornya. Diarahkan masuk ekskul wirausaha, diikutkan seminar, diarahkan, sampai sekarang,” paparnya.
Ketika bersekolah di homeschooling itu dia menjadi tahu apa itu arti menghargai satu sama lain. Mengingat ada beberapa anak-anak homeschooling yang berkebutuhan khusus. “Rasa peka kita jadi teruji. Dan di sana itu, tidak ada kamu suku apa, agamamu apa, semua kita sama,” ujarnya.
Mendapat label negatif karena bersekolah di homeschooling kerap dia dengar. Bahkan, cap anak bermasalah bukan menjadi hal yang tabu lagi. Namun hal tersebut tidak dia gubris. Eros tetap bangga menjadi siswa homeschooling.
“Masih ada anggapan homeschooling itu sekolah buangan. Namun setelah melihat hasilnya sekarang, mereka yang dulu menjelek-jelekkan saya jadi berpikir ulang. Kalau sebenarnya sukses itu tidak perlu masuk sekolah unggulan, tapi non formal juga bisa,” katanya.
Benar saja, di usia mudanya saja, dalam sepekan omzet bersih yang didapat dari usahanya ini sudah mencapai Rp 25-30 juta. “Pertama tentu tidak jadi tanggungan orang tua, kemudian bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Kalau karyawan sendiri sekarang ada sembilan orang,” ucapnya.
Sebelum membuka usaha, dia juga sempat bekerja di beberapa perusahaan event organizer, namun karena berbasis usaha, tidak bertahan lama. “Kembali lagi jualan, karena lebih fleksibel, terus pendapatannya lebih banyak,” ujarnya. (*) Editor : Perdana Bayu Saputra