IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo
SYARIFAH Pinaka Baladika Waskito, mahasiswi S-1 Jurusan Chinese Education di Jinan University asal Wonogiri ini menceritakan, saat ini kondisi tempat-tempat umum di Kota Guangzhou lengang.
“Sekarang libur Imlek, jadi banyak warga yang kembali ke kampung halamannya. Ditambah ada wabah korona membuat aktivitas warga di kota makin sepi,” katanya.
Syarifah mengatakan, meski jarak Kota Guangzhou dengan Kota Wuhan cukup jauh, dia tetap mengaku waswas ketika beraktivitas di luar ruangan. Pemerintah setempat merekomendasikan penggunaan masker apabila akan beraktivitas di luar ruangan. Masker yang disarankan oleh pemerintah adalah masker yang memiliki tiga sampai empat lapisan. Namun, stok masker saat ini juga mulai habis. Di apotek atau pusat perbelanjaan sangat sulit menemukan masker. “Misal ada, harganya juga sangat mahal,” tambahnya.
Pada awal kemunculan virus korona di akhir tahun lalu, warga Lingkungan Sukorejo, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri ini biasa saja. Tidak merasakan kecemasan apapun. Namun, belakangan dia mulai waswas dengan adanya virus tersebut.
“Akhir-akhir ini kalau mau keluar dari apartemen pikir-pikir dulu. Pakai masker tidak ya? Tapi akhirnya pakai masker juga buat jaga-jaga,” katanya.
Tidak hanya masker, beberapa waktu lalu stok makanan sempat menipis. Banyak orang berebut mendapatkan di mal. Namun saat ini sudah mulai terisi kembali. Dia mengaku sempat takut berdesak-desakan di kerumunan orang.
“Sopir transportasi umum berhak menolak penumpang yang tidak menggunakan masker. Meski begitu, tak sedikit orang nekat tidak mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.
Syarifah sebenarnya sudah lulus pada akhir tahun lalu, namun saat ini dia masih bertahan di Tiongkok. Gadis 23 tahun ini masih menikmati waktu bersama teman-teman satu apartemennya yang juga berasal dari Indonesia.
“Rencananya 13 Februari nanti pulang. Sempat berencana pulang lebih cepat karena ada virus korona yang menghebohkan. Setelah dipikir lebih jauh lagi masih ingin di sini dulu,” katanya.
Dorongan terkuat untuk segera pulang adalah rasa khawatir dari keluarganya. Namun, dia berhasil meyakinkan orang tuanya bahwa saat ini kondisinya baik-baik saja dan tetap akan kembali ke Wonogiri sesuai jadwal awalnya. (*) Editor : Perdana Bayu Saputra