SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
KEPERCAYAAN pihak keraton kepada Hartoyo untuk mempersiapkan busana raja bukan terjadi secara tiba-tiba. Semuanya berkat kemampuan dalam bidang tata rias hingga akhirnya terdengar oleh petinggi Keraton Kasunanan pada 1985.
Kala itu, Hartoyo masih berusia 29 tahun. Berprofesi sebagai penari dan penata rias di Pura Mangkunegaran. Usai merampungkan pendidikan tari di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) yang kini menjelma jadi menjadi Instintut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
“ISI ini kan nama sekarang. Awalnya itu ASKI sampai berubah menjadi STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) sekitar 1988. Nah waktu saya sekolah di sana sekitar 1979, lokasinya masih di Sasana Mulya, kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Setelah lulus dari sana saya masuk menjadi penari dan perias di Pura Mangkunegaran,” jelasnya ditemui di kediamannya Perumahan RC Jalan Sinom No. 10, Ngringo, Kabupaten Karanganyar, Minggu (16/2).
Seni merias dipelajari Hartoyo secara otodidak sejak belia. Ketika kemampuannya terasah, dia dipercaya menjadi perias dan penata busana putra-putri dalem Pura Mangkunegaran. Berlanjut ditarik untuk menjadi perias di Keraton Kasunanan Surakarta.
“Di Mangkunengaran itu saya kan menari sekaligus merias. Nah pertengahan 1985, disuwun (diminta) sama Keraton Kasunanan untuk merias di dalam keraton. Awalnya sempat ragu, tapi tetap harus maju karena itu sudah seperti perintah buat saya,” bebernya.
Kali pertama, Hartoyo diminta merias sejumlah putri kerajaan yang mengemban misi penyebaran kebudayaan tradisi ke Benua Biru, Eropa. Edisi long trip selam tiga bulan menjadi tantangan perdana menjadi perias dan penata busana di Keraton Kasunanan.
“Kala itu ada misi budaya di Eropa. Semua gusti-gusti (keluarga raja) saya yang dandani. Waktu itu jumlah penari ada sembilan orang dan lima gusti-gusti, busana dodotnya pun dodot gede. Saya sendiri tidak ada yang membantu,” kenangnya.
Keluarga besar Keraton Kasunanan puas dengan hasil riasan Hartoyo dalam misi kebudayaan di Eropa. Keahliannya kembali digunakan saat pihak keraton mengikuti misi kesenian ke Jerman dan Belanda 1993, berlanjut ke Jepang pada 1994-1995, dan Inggris 1997 di Inggris, Belanda 1998, Austria 2000, dan terakhir di Prancis pada 2009.
Pria kelahiran Purworejo 5 Juli 1956 itu akhirnya menjadi satu-satunya kaum Adam yang dipercaya menangani riasan wajah putri-putri raja Kasunanan Surakarta.
“Sebelumnya perias (keluarga raja) perempuan semua. Baru saya perias pria yang mendapat kepercayaan. Buat saya ini sungguh spesial. Termasuk tantangan bisa mengabdi untuk keraton. Di Kasunanan suasananya tintrim (sakral),” ujarnya. Bersambung. (*/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra