MEMILIKI kemampuan bela diri, namun tidak disalurkan ke hal positif bisa mengarah ke perilaku tawuran dan tindak kriminal. Namun jika dikelola dengan benar, bisa menjadi hal yang membanggakan.
Itulah yang mendasari Amriza Khoirul Fachri mendirikan sasana MMA. Pria yang berprofesi sebagai advokat ini mengaku awalnya sering adu jotos karena darah muda yang masih berapi-api. Seiring berjalannya waktu, dia sadar tindakan itu bisa merugikan diri sendiri, bahkan berurusan dengan hukum. Amriza lantas mendirikan sasana beladiri untuk menyalurkan hobinya. Tepatnya 2016 lalu, dia merintis sasana MMA Joglo Camp.
Tak disangka, saat ini terus berkembang dan peminatnya cukup banyak. Bahkan jika serius mendalami, ada juga yang sampai ke jenjang petarung profesional. Amriza mengaku saat masih sekolah dan kuliah dirinya cukup bengal dan bandel.
”Dulunya memang dari hobi berantem, sampai akhirnya bisa membentuk MMA seperti ini,” jelasnya saat ditemui Radar Solo, Jumat (17/4).
Dengan sasana ini bisa menyalurkan hobi banyak orang. Bisa menjadi olahraga ceria, maupun olahraga profesional. Bahkan ada yang menjadi mata pencaharian jika menekuni ke jenjang profesional. Dia beranggotakan petarung amatir sampai profesional. Motivasi mereka gabung juga beragam. Ada yang sekadar ingin diet, membentuk otot hingga menjadi atlet MMA professional.
”Jadi wajar kalau anggotanya berbagai kalangan dan usia. Tidak mengenal latarbelakang pekerjaan, usia maupun gender. Banyak juga petarung wanita,” imbuh dia.
Sementra jenis bela diri yang dipelajari juga beragam. Seperti muay thai, brazilian jujitsu, MMA dan sebagainya. ”Lebih banyak menerima berbagai macam olahraga bela diri, tidak berafiliasi dengan suatu organisasi,” ujarnya.
Amriza menyampaikan sasana Joglo Camp ini sudah ada di Jogja sejak tahun 1980. Namun seiring waktu mulai mengadopsi berbagai olahraga beladiri dan menaungi petarung MMA.
”MMA baru saja masuk ke Indonesia sekitar 6 tahun terakhir. Di Sragen sendiri ada ratusan juga yang hobi. Yang sudah jadi atlet pro ada tiga. Meraka asli Sragen semua,” bebernya.
Diakui dia ada banyak tawaran untuk mengembangkan cabang ke beberapa daerah di luar Sragen. Namun dia belum berminat dan lebih hati-hati.
”Ada tawaran mendirikan karena melihat banyak potensi atlet profesional dan amatir. Tapi sementara belum. Karena kami bukan bergerak sebagai ormas, khawatirnya dicampur adukkan, atau malah dipolitisasi,” terangnya.
Amriza mengatakan karena wabah Covid-19, kegiatan sementara terhenti. ”Mau tidak mau, sementara lockdown dulu. Karena ini butuh interaksi fisik. Tapi menjaga tubuh ya latihan mandiri di rumah, tidak ada aktivitas sama sekali,” terangnya.
Petarungnya juga aktif memberi perhatian dengan mengadakan Bakti Sosial (Baksos). Seperti membagikan masker dan sembako semampunya pada warga kurang mampu.
Instruktur Joglo Camp, Rully Trianjaya mengatakan, seni bela diri MMA bisa dipelajari semua kalangan. Jadi wajar jika ada petarung amatir. Bahkan orang awam yang belum punya basic bela diri sekalipun. Dalam MMA ada dua materi. Pertama yakni stand up fighting. Terdiri dari pukul dan tendang untuk pertarungan di atas.
”Stand up ini bisa diawali dari muay thai, silat, taekwondo, dan tinju,” terangnya.
Sedangkan materi kedua adalah ground fighting. Bisa belajar dari judo, brazilian jujitsu, dan yongmudo. Namun pihaknya cukup menguasai brazilian jujitsu.
”Anak-anak usia 10 -13 tahun juga banyak yang tertarik. Ada sekitar 40 an yang ikut belajar. Kalau dalam latihan saya tekankan untuk serius dan disiplin. Selepas latihan boleh bercanda,” ujar anggota Polri ini. (din/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra