SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
DITEMUI di rumahnya Jalan Gotong Royong Nomor 03, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, kemarin, gadis 12 tahun ini sedang sibuk merampungkan tugas sekolah. Ya, selama pandemi Covid-19 siswa harus belajar di rumah.
Saat belajar di rumah ini muncul ide Katarina untuk melakukan sesuatu di tengah pandemi Covid-19. Pilihan dia adalah membuat kue lalu dijual. Nah, hasilnya ini dia sumbangkan semua demi kemanusiaan.
“Awalnya diskusi sama mama akhirnya muncul ide buat kue ini. Dan hasilnya disumbangkan untuk dibelikan mainan anak,” ucap siswa SMP Regina Pacis Solo yang akrab disapa Arin ini.
Dibantu ibunya Yurika Kusumatuti, 37, Arin lalu mulai menyiapkan segala perlengkapan untuk memasak kue itu. Mula-mula, berbagai perlengkapan masak seperti mixer, loyang, dan lainnya disiapkan. Kemudian bahan utama untuk membuat cupcake seperti tepung, telur, air, dan gula dicampur jadi satu.
Saat adonan sudah menyatu dengan sempurna, baru dimasukkan ke masing-masing cetakan cupcake hingga akhirnya dimasak dalam oven selama beberapa menit. “Sebetulnya sempat bingung mau bikin kue apa? Akhirnya pilihan jatuh ke cupcake karena bikinnya lumayan mudah. Ternyata percobaan pertama langsung jadi, hasilnya juga matang sempurna. Enak,” kata gadis kelahiran Jakarta, 23 Mei 2007 itu.
Mengingat percobaan pertama berhasil, Arin bersama adiknya langsung membuat poster untuk promosi. Setelah jadi, dia meminta bantuan keluarganya untuk mempromosikan cupcake buatannya. Tanpa diduga orderan yang masuk terus bertambah banyak. Dari sana hampir sebulan ini Arin sibuk menjadi “chef” untuk kue buatannya itu. “Pertama sebenarnya untuk tugas sekolah dibuat akhir April lalu. Tapi sampai sekarang ternyata yang pesan makin banyak,” jelas Arin.
Gadis satu ini pun terbilang jeli dalam melihat pangsa pasar. Agar pelanggannya tak bosan, dia sengaja menjual cupcake buatannya itu secara polos. Artinya, cupcake itu belum diberi toping. Dan membebaskan si pembeli untuk berkreasi dalam menghias cupcake yang diinginkan. “Saya jual per paketnya Rp 75 ribu, isi enam cup cake. Nanti di dalamnya dilengkapi dengan frosting berbagai rasa. Jadi bisa berkreasi sendiri," kata Arin.
Dua pekan menjual cupcake buatannya itu, Arin berhasil mengumpulkan dana Rp 920 ribu. Lumayan, untuk anak seusianya kemampuan membuat kue dan promosi itu bisa dijadikan modal untuk rencana jangka panjang di masa depan. Tapi namanya bocah, Arin pun tak begitu memikirkan soal bisnis barunya itu. “Uang hasil jualan kue saya sumbangkan. Tapi belum tahu mau disumbangkan ke mana,” jelas dia.
Sempat ada pemikiran akan dibelikan sembako dan dibagikan pada orang-orang di sekitar tempat tinggalnya atau disalurkan melalui salah satu komunitas agar diberikan kebutuhan pokok dan lain sebagainya. Namun, pilihannya jatuh pada sebuah komunitas yang bergerak khusus untuk anak-anak di Kota Solo.
“Setelah cari-cari ke mana mau disalurkan, akhirnya ada masukan dari mama untuk disalurkan ke komunitas yang mengurusi anak. Komunitas ini sering membagikan mainan untuk anak-anak yang membutuhkan,” kata Arin.
Alhasil, uang Rp 920 ribu dari hasil jualan kue itu disumbangkan ke komunitas tersebut. Arin berharap uang yang tidak seberapa itu bisa memberikan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak seperti dirinya. “Saya merasa sudah beruntung karena hidup berkecukupan. Tapi banyak anak-anak seusia saya atau di bawah saya yang hidup susah di luar sana. Misalnya anak-anak yang orang tuanya sudah tidak bisa bekerja karena di-PHK atau kesulitan makan. Mungkin dengan sedikit bantuan ini mereka bisa mendapatkan mainan agar tidak murung di saat-saat seperti ini," beber dia. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra