RAGIL LISTIYO, Solo, Radar Solo
BETON berpori ini dibuat dalam bentuk poriblok dan dirancang untuk lalu lintas rendah, seperti jalan-jalan lingkungan. Bahkan, sekarang mulai diaplikasikan untuk bahu jalan. Namun, untuk badan jalan belum diujicobakan. “Ini berkaitan dengan sustainable development (pembangunan berkelanjutan),” terang Ary Setyawan, kepala Program Studi Magister Teknik Sipil Fakultas Teknis Universitas Sebelas Maret.
Dalam pembuatan poriblok ini, Ary berkaca pada sustainable development. Di mana muka bumi ini akan dipenuhi oleh bangunan dan berpotensi menjadi hutan beton. Sehingga air hujan tidak bisa lagi meresap ke dalam tanah. Pihaknya lalu berinisiatif membuat perkerasan yang kuat, namun tetap bisa meloloskan air hujan. Dengan begitu, air bisa kembali meresap menjadi air tanah.
“Awalnya kami mencoba merancang aspal berpori. Dan, mengaplikasikannya sebagai bahu jalan pada kegiatan pengabdian kuliah kerja nyata mahasiswa UNS di Desa Kadokan, Grogol, Sukoharjo pada 2016. Namun, secara struktur lebih lemah daripada beton, maka diputuskan untuk mencoba membuat beton berpori,” katanya.
Ary mengamini jika penelitian yang dilakukan cukup lama. Pihaknya kemudian menuangkan ide beton berpori dengan membuat rancang bangun beton berpori pada skala laboratorium. Rancangan tersebut lantas diimplementasikan dalam beton berpori di bahu jalan Desa Kadokan. Baru pada tahun ini Ary dan tim mencoba memodifikasi beton berpori konvensional menjadi poriblok.
“Beton berpori di Desa Kadokan terbuat dari campuran agregat kasar bergradasi seragam, semen, air, sedikit pasir, dan additive untuk meningkatkan mutu beton tersebut. Campuran ini akan menciptakan struktur dengan rongga udara cukup besar atau sekitar 20 persen yang membiarkan air hujan menembus rongganya dan kembali terserap oleh tanah dasar,” katanya.
Sehingga poriblok tersebut lebih ramah lingkungan serta memiliki kekasaran yang baik dan bisa meminimalkan kecelakaan akibat tahanan tergelincir. Sleain itu, juga bisa dibongkar pasang. Pengaplikasian di Desa Kadokan dipilih karena secara gemometri jalannya menurun dan potensi kecelakaan akibat tergelincir tinggi. Meski sampai saat ini pengujian poriblok masih dilakukan.
Ary mengatakan, pengujian kekuatan tekanan, porositas serta permeabilitas masih dilakukan. Bahkan, material akan diuji dalam bentuk paving blok. Meski belum memperoleh hasil maksimal, pihaknya berharap ke depan terobosan ini bisa digunakan sebagai teknologi tepat guna di masyarakat.
“Secara umum, kelebihan beton berpori adalah mengurangi adanya cipratan ke samping dan semburan air ke belakang kendaraan. Serta merupakan konstruksi yang tidak berisik. Sehingga jika desainnya sudah memenuhi syarat, dapat digunakan untuk jalan perkotaan serta jalan antarkota,” ujarnya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra