Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Persiapan New Normal di Taman Kanak-Kanak

Perdana Bayu Saputra • Sabtu, 13 Juni 2020 | 00:07 WIB
Photo
Photo
Oleh: Atik Setyowati, M. Pd., Guru TK Islam Terpadu Ukhuwah Islamiyah Kalasan, Sleman

COVID-19 telah membawa dampak pada seluruh sektor kehidupan manusia, tak terkecuali pada sektor pendidikan. Sudah beberapa bulan sekolah-sekolah harus melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring. Namun, khusus untuk pendidikan pra sekolah atau taman kanak-kanak, dinas pendidikan mengeluarkan kebijaksanaan untuk meliburkan total.

Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada Jumat 15 Mei 2020 menyebutkan bahwa kehidupan pasti akan berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru.

Pernyataan presiden tersebut mengharuskan semua pihak untuk bersiap pada tahap new normal. Nah, bagaimana dengan pendidikan taman kanak-kanak mengikuti tatanan kehidupan baru ini dan apa yang harus dipersiapan?

Pendidikan di taman kanak-kanak memang berbeda dengan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi. Karakter anak-anak yang khas sangat membutuhkan pendampingan dan bimbingan orang dewasa di sekitarnya. Perlu kerja keras untuk bisa menerapkan new normal pada pendidikan anak.

Berikut beberapa hal yang dapat dipersiapkan untuk menghadapi tatanan kehidupan baru di taman kanak-kanak. Pertama, menciptakan lingkungan yang aman untuk anak dan pendidik.

Bagaimana lembaga TK dan pendidik dapat menyediakan pelayanan yang aman selama pandemi? Hal yang perlu dilakukan yakni membatasi rombel (rombongan belajar) maksimal 10 anak per rombel. Setiap rombel tetap pada rombelnya dan tidak berpindah-pindah. Bila ada lebih dari satu rombel, maka setiap rombel harus berada di ruang yang berbeda.

Pendidik yang mengampu, tidak melakukan perpindahan dari rombel satu ke rombel yang lain. Selain itu, fasilitas harus mengikuti pedoman standar untuk mencegah penyebaran virus, seperti pengaturan tempat duduk dengan jarak yang dianjurkan, fasilitas cuci tangan dan menjaga kebersihan semua peralatan yang digunakan anak.

Melakukan social/physical distancing di taman kanak-kanak. Hal yang dapat dilakukan yakni membatasi jumlah anak maksimal 10 anak per rombel dalam satu kelas. Mengatur ruang kelas, mengatur jarak minimal enam kaki di setiap pusat kegiatan anak, meja, dan kursi anak.

Meniadakan kegiatan yang memberi kemungkinan anak berdekatan dan mencegah berbagi mainan dan bahan. Setiap anak bisa dibagikan tas ransel atau bok untuk menaruh masing-masing bahan anak. Kembangkan kegiatan dengan model dan menerapkan praktik kebersihan dan social/physical distancing yang baik.

Gunakan bahan-bahan ruang kelas untuk membantu anak-anak memvisualisasikan jarak enam kaki antara orang yang diperlukan. Ingatkan anak-anak untuk tidak berbagi makanan, minuman, peralatan main kepada temannya. Pengaturan social distancing orang tua anak saat jam antar dan jemput sekolah.

Memang sepertinya sulit memberlakukan social distancing di taman kanak-kanak, mengingat kegiatan di TK yang biasa dilakukan secara berkelompok. Namun, selama masa pandemi semua kegiatan harus menekankan pada aktivitas secara individual.

Beberapa kegiatan individual yang bisa dijadikan alternatif dalam pembelajaran misalnya mewarnai, melukis, memasang puzzle, bermain bongkar pasang lego dan aktivitas lainnya yang biasa dilakukan sendiri. Selain itu ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan bersama namun dengan tetap menjaga jarak dan tidak melibatkan kontak fisik, misalnya menyanyi, bertepuk tangan dan bercerita.

Persiapan kedua yakni, melakukan skrining kesehatan dan menjaga kebersihan. Skrining dilakukan kepada semua orang yang terlibat dalam pendidikan terutama guru dan  karyawan sekolah, anak didik, dan orang tua anak. Skrining bisa dimulai sebelum meninggalkan rumah, apakah ada gejala-gejala yang dicurigai terinfeksi Covid-19.

Jika terdapat gejala, disarankan untuk tetap berada di rumah. Selain itu, pengukuran suhu badan saat memasuki lingkungan sekolah juga harus dilakukan.

perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah hal wajib yang harus dilakukan di lingkungan sekolah untuk mencegah penularan virus. Upaya yang dapat dilakukan dalam menerapkan perilaku PHBS antara lain mewajibkan semua anak, guru,  karyawan dan orang tua untuk memakai masker dan penutup muka.

Fasilitas yang memadai dan mudah dijangkau untuk mencuci tangan. Ajari anak cara cuci tangan yang benar. Kebersihan lingkungan sekolah, ruang kelas dan peralatan yang digunakan juga harus rutin dilakukan. Penyemprotan disinfektan pada permukaan yang sering dipegang, seperti gagang pintu, gagang keran, mainan dan sebagainya.

Menurut Ketua Jurusan S1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Amir Syamsudin (dalam wawancara bertema new normal di taman kanak-kanak), Covid-19 menular antarindividu yang berkerumum. Solusi sederhana jika tidak ingin terlular adalah hindari kerumunan. Definisi kerumunan berbeda-beda. Kalau pakai contoh di Australia, boleh berkumpul maksimum sepuluh orang dalam satu ruang atau lingkungan yang sama.

Untuk penerapkan di lembaga TK juga harus melakukan social distancing, gunakan masker, cuci tangan dan bersihkan sarana publik yang sering di sentuh.

Berbagai upaya terbaik untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 harus dilakukan semua pihak, termasuk lembaga tamak kanak-kanak. Selanjutnya, bagi orang tua apakah akan menyekolahkan anaknya di masa pandemi atau akan mendidiknya sendiri di rumah tentu hal tersebut menjadi keputusan mutlak orang tua. Apapun keputusan orang tua hendaknya dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan memperhatikan kebutuhan tumbuh kembang anak. (*) Editor : Perdana Bayu Saputra
#persiapan #new normal #taman kanak kanak