IWAN ADI LUHUNUNG, Wonogiri, Radar Solo
BERAWAL dari eksperimen membuat karya seni berbahan sampah plastik, lukisan Ninik Suryani ternyata malah banyak diminati. Sampah plastik yang dianggap tak berguna menjadi kerajinan seni kolase yang bernilai jual tinggi.
"Saya sudah lama membuat kerajinan dari limbah plastik. Tapi baru seminggu ini mencoba membuat lukisan dari sampah plastik. Setelah itu saya coba share, ternyata ada yang pesan,” ungkapnya, kemarin.
Ninik mendapatkan ide untuk membuat karya kolase ini dari hasilnya menjelajahi media sosial dan diskusi dengan sesama perajin lainnya. Dia yang biasanya juga membuat kerajinan dari sampah plastik ini pun mencoba mengeksekusi ide tersebut.
Warga Dusun Ngerjopuro RT 03 RW 03, Desa Slogohimo, Kecamatan Slogohimo ini mengaku awalnya dia membuat lukisan itu dengan contoh fotonya sendiri. “Ternyata bagus juga dari plastik, coba dikembangkan saja,” jelasnya.
Naluri bisnisnya langsung peka dengan peluang tersebut. Dia yang biasanya membuat kerajinan lain, seperti vas bunga, dompet hingga tas dari plastik itu pun berinisiatif menjual lukisan bernilai seni tersebut.
Ninik mengatakan, harga jual lukisan tersebut lebih tinggi dari kerajinan lain yang dibuatnya. “Kalau yang lain rentang harganya Rp 10 ribu sampai Rp 70 ribu. Kalau lukisan ini Rp 150 ribu untuk ukuran F4 lengkap dengan bingkainya. Ada order, baru dibuat,” kata Ninik.
Selain menggunakan plastik, dia juga bisa membuat lukisan dari kain. Kain yang digunakan pun kain perca atau kain sisa. Lukisan tersebut, menurut perempuan kelahiran 44 tahun silam ini, adalah pengembangan dari produk-produknya terdahulu. Peminat dari produknya mayoritas adalah warga Wonogiri kalangan menengah ke atas.
Apakah waktu yang dibutuhkan untuk membuat lukisan ini lama? Ternyata tidak, pembuatan lukisan ini cukup cepat. “Bisa dikerjakan sehari. Paling lama dua hari. Yang agak susah itu cari material lukisan untuk bagian wajah. Kalau untuk proses membuatnya tidak ada masalah,” kata dia.
Menurut Ninik, area wajah harus menggunakan plastik yang berwarna lebih soft. Dia pun memilih untuk menggunakan bungkus salah satu kopi bermerek karena warnanya dianggap pas untuk area wajah.
Dia bisa mendapatkan sampah plastik dari tetangga sekitar rumah dan kenalannya. Kebetulan juga ada beberapa pedagang kaki lima yang sampahnya bisa dimintanya secara cuma-cuma.
Sebagai pembuat kerajinan, dia mengaku sangat terdampak dengan adanya pandemi ini. Biasanya dia sering diminta dinas-dinas terkait untuk memberikan pelatihan membuat kerajinan. Namun, sekarang job tersebut hilang.
“Makanya ini buat inovasi. Harus bisa mengembangkan produk, pembeli kan juga bosen produknya itu-itu saja. Kalau di Wonogiri belum ada. Ada lukisan bambu dari teman-teman difabel, ini alternatifnya lah,” tutur Ninik. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra