COVID-19 telah mengubah tatanan hidup dunia berubah. Perkembangan Covid-19 di Indonesia sampai 18 Juni ini sudah tembus 42.762 kasus positif. Jumlah ini cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, sejak temuan kasus pertama 2 Maret lalu di Depok, Jawa Barat.
Pemerintah telah melakukan langkah-langkah penanganan untuk menekan virus ini agar tidak meluas. Tak terkecuali di Kota Solo. Sosialisasi masif pun terus digaungkan pemerintah kota setempat kepada masyarakatnya agar mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 seperti yang telah ditetapkan pemerintah.
Kondisi masyarakat Kota Solo yang heterogen tentu butuh komunikasi yang tepat agar sosialisasi pencegahan Covid-19 ini benar-benar bisa diterima dan dijalankan semua lapisan masyarakat.
Komunikasi Wali Kota Solo melalui slogan “Do Manuto” salah satu contoh komunikasi yang tepat. Selain dicerna, slogan ini memiliki pesan sangat kuat terkait pencegahan Covid-19. Tak heran slogan ini kemudian makin populer di masyarakat Kota Solo.
Komunikasi Strategis
Menurut Patterson dan Radtke (2009), komunikasi strategis merupakan tindakan yang didorong oleh misi, berfokus pada audiens, dan berorientasi pada tindakan. Lebih lanjut ditegaskan komunikasi strategis ini merupakan kunci keberhasilan perubahan sosial.
Wali Kota Solo telah melakukan komunikasi strategis berupa slogan “Do Manuto”. Tujuannya agar masyarakat Solo semakin patuh pada protokol kesehatan sehingga pandemi segera berakhir. Komunikasi strategis “Do Manuto” adalah seni mengekspresikan ide yang dikombinasikan dengan penyampaian informasi yang berpotensi sangat dapat diterima di masyarakat Solo karena disampaikan dalam bahasa Jawa dan memiliki filosofi makna yang sangat dalam.
Slogan “Do Manuto” disusun untuk memotivasi dan mengedukasi masyarakat agar bertindak dengan cara yang diinginkan, yaitu manut atau menuruti anjuran Pemerintah Kota Solo dalam menghadapi pandemi Covid-19.
“Do Manuto” merupakan pesan yang membuat publik fokus, yaitu pesan yang singkat dan mudah dipahami sehingga mudah tertanam di benak masyarakat. Ternyata “Do Manuto” memiliki arti sangat bermakna yaitu “Dumadakan Ono Memolo Anyar Nungul Urip Tanpo Ono Obate”, yang kurang lebih berarti mendadak ada penyakit baru yang belum ada obatnya.
Sebagai bentuk penyampaian informasi, pada 10 Juni 2020 melalui akun IG @fx.rudyatmo, wali kota membagikan sebuah posting yang mengajak masyarakat untuk “Ayo Maskeran”. Masker sendiri merupakan kependekan dari “mau aman semua wajib tegakkan kedisiplinan etika rasa”. Tindakan yang dilakukan oleh wali kota ini merupakan suatu usaha dalam mengajak masyarakat untuk selalu patuh dalam mengenakan masker terutama saat berada di tempat umum.
Fenomena lain tentang masker adalah ketika wali kota menggunakan masker yang bergambar kumis yang selama ini menjadi ciri khasnya. Masker kumis tersebut merupakan simbol bahwa wali kota memberi teladan untuk mengenakan masker.
Upaya komunikasi yang dilakukan wali kota merupakan bukti nyata bahwa Pemerintah Kota Solo serius dalam menghadapi Covid-19 dan sangat berharap masyarakat menjadi mitra yang disiplin dalam bekerja sama menghadapi wabah ini.
Namun, fakta yang terjadi di Kota Solo, masih terdapat masyarakat yang tidak mengenakan masker. Masih ada pengendara motor di jalanan, petugas parkir, pedagang, dan orang-orang melakukan pekerjaan tanpa mengenakan masker.
Selain itu, pada beberapa titik tempat umum masih terdapat sekumpulan orang. Mereka asyik mengobrol dan saling berdekatan tanpa menghiraukan social distancing, bahkan mereka juga tidak mengenakan masker. Fenomena ini menjadi potret yang menggambarkan masyarakat Solo belum sepenuhnya berubah mengikuti anjuran pemerintah untuk disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.
Berdasarkan pernyataan yang dikutip dari Halodoc, fase The New Normal dinilai bisa menjadi boomerang dengan kemungkinan adanya gelombang kedua virus corona. Karena itu sangat penting bagi masyarakat untuk berdisiplin mengikuti anjuran pemerintah dalam menjalankan protokol kesehatan demi keselamatan bersama.
Sudahkah “Do Manuto” Efektif?
Untuk mengetahui keberhasilan komunikasi strategis yang telah dilakukan pemerintah kota, perlu dilakukan evaluasi. Dengan demikian dapat diketahui sejauh aman ini efektif bagi masyarakat. Apa yang perlu diubah, harus ditinggalkan, dan solusi perbaikan dari komunikasi tersebut. Terkait dengan evaluasi komunikasi “Do Manuto”, apakah masyarakat Kota Solo sudah manut pada anjuran Pemerintah Kota Solo?
Kembali lagi kepada tujuan dari komunikasi strategis, yaitu untuk mencapai perubahan pada masyarakat. Sudahkah tercipta perubahan pada masyarakat atas pesan “Do Manuto?” Tentunya jawabanya adalah sudah terdapat perubahan berarti, tetapi masih ada sebagian belum berubah. Apakah yang perlu dilakukan agar masyarakat yang belum mematuhi protokol kesehatan bisa berubah menjadi manut?
Pemerintah Kota Solo sebenarnya sudah menyampaikan pesan imbauan ini melalui berbagai media komunikasi, antara lain tatap muka, media cetak, dan komunikasi elektronik. Dalam segala kesempatan wali kota juga selalu mengenakan masker dan “Do Manuto”. Ini sebagai pesan agar masyarakat selalu mematuhi protokol kesehatan.
Namun, hal lain yang tidak kalah penting adalah kesadaran pribadi masyarakat dalam mematuhi anjuran ini. Pada dasarnya sumber perubahan itu adalah berada pada setiap orang. Ketika seseorang mempunyai niat kuat untuk berubah, pasti dia akan berusaha keras berproses dalam perubahan meski itu tidak mudah.
Setiap orang diharapkan memiliki rasa yang mau mementingkan kepentingan bersama. Menjaga diri sendiri saat pandemi Covid-19 sama dengan menjaga semua orang di sekitar kita. Semua harus saling peduli terhadap keselamatan sesama.
Komunikasi dari mulut ke mulut atau dalam bahasa jawa “getok tular” mungkin akan sangat efektif bagi keberhasilan komunikasi “Do Manuto”. Diharapkan setiap orang saling mengedukasi orang lain. Yang paling gampang jika dalam keluarga ada anggota yang mau keluar rumah, anggota keluarga lain memberi pesan agar selalu mengenakan masker, menjaga jarak, dan selalu mencuci tangan. Dengan tindakan nyata yang sederhana seperti itu diharapkan setiap orang menjadi patuh pada protokol kesehatan.
Dengan upaya tersebut masyarakat Solo diharapkan benar-benar “Do Manut”, sehingga tujuan komunikasi strategis untuk perubahan sosial tercapai, yaitu masyarakat disiplin melaksanakan protokol kesehatan dan Kota Solo bisa meminimalkan risiko Covid-19 serta memiliki kebiasaan hidup sehat. (*) Editor : Perdana Bayu Saputra