Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Sudarsono, 45 Tahun Kumpulkan 4.600 Fosil dari Bengawan Solo

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 19 Juni 2020 | 21:01 WIB
Sudarsono memperlihatkan koleksi fosilnya di rumahnya Sambungmacan, kemarin (18/6). (AKHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
Sudarsono memperlihatkan koleksi fosilnya di rumahnya Sambungmacan, kemarin (18/6). (AKHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
Wilayah Sragen memang layak disebut perpustakaan purba. Lantaran sebagian besar fosil manusia, hewan, dan tumbuhan purba terarsipkan dengan baik oleh alam. Temuan fosil tidak hanya di sekitar Sangiran, tapi juga di Sambungmacan. Sudarsono, salah satu yang mengoleksi fosil-fosil ini?

AHMAD KHAIRUDIN, Solo, Radar Solo

MASUK ke ruang tamu milik Sudarsono, benda-benda purba terpajang dengan rapi. Dia mengumpulkan sejumlah fosil itu sejak dibuatnya sudetan proyek Sungai Bengawan Solo. Saat ini sudah sekitar 4.000 potongan fosil yang dikumpulkan. Dari jumlah itu, 2.000 fosil sudah diidentifikasi dan disimpan di rak etalase, sementara 2.000 lainnya belum diidentifikasi.  Selain itu, sekitar 600 fosil sudah dibawa ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) sebagai pengelola museum purba Sangiran.

Meski hanya lulusan SMP, Sudarsono mampu mengidentifikasi mana benda yang termasuk batu biasa atau fosil. Dia mengaku belajar dari para tamu-tamu peneliti yang datang untuk mengidentfikasi fosil. Apalagi rumahnya hanya sekitar 100 meter dari lokasi yang banyak ditemukan fosil binatang purba.

Dia mengaku sering mendapat tawaran untuk menjual fosil-fosil koleksinya. Namun karena merasa sayang, dia enggan melepasnya. ”Memang ada yang ditawar jutaan hingga puluhan juta dari kolektor. Kalau saya lepas nanti habis. Saya sudah mengumpulkan sebanyak ini,” ujarnya.

Temuan fosil di sekitar Sambungmacan ini sebagian besar berupa fosil binatang. Saat ini fosil yang dikumpulkan jauh lebih rapi disimpan di ruang tamunya. Sebelumnya benda-benda bersejarah ini hanya ditempatkan di halaman. Setelah mendapat bantuan di era Bupati Agus Fatchur Rahman berupa rak, baru dia memindahkan benda-benda koleksinya itu di rak.

Sudarsono mengaku pemerintah setempat sudah pernah mengusulkan ke pemerintah pusat soal temuan fosil di Sambungmacan ini agar tetap ditempatkan di sekitar daerah penemuan, bukan dibawa ke Sangiran.

”Justru yang banyak protes itu yang berkunjung dari luar negeri ke sini. Tempat seperti ini kenapa tidak dikelola dengan baik,” tuturnya.

Kepala Desa (Kades) Sambungmacan Bondan Pratiwi menyampaikan, pengumpul fosil di Sambungmacan hanya Sudarsono. Ada rencana untuk pengembangan. Pihaknya sudah mengirim surat ke Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengkaji potensi desa setempat.

”Pengembangannya ke desa wisata, di dekat rumah Sudarsono. Bengawan Solo ada pulau tersendiri yang bisa jadi potensi wisata. Kita harus buat paket, kalau itu (fosil) saja, kan kurang,” ujarnya. (din/ria)  Editor : Perdana Bayu Saputra
#Sambungmacan. #kisah #kolektor fosil #pengumpul fosil #sudarsono #sungai bengawan solo