AHMAD KHAIRUDIN, Radar Solo
KONDISI rumah orang tua Zulkarnaen tampak sepi, pagi tadi (13/12). Namun, pintu depan terbuka lebar menandakan ada orang di rumah. Rumah ini berada di Dusun Gebang Wetan RT 14 Desa Gebang, Kecamatan Masaran.
Saat Jawa Pos Radar Solo hendak bertamu dan menyampaikan salam, muncul sosok perempuan tua berusia sekitar 70-an tahun. Perempuan ini biasa dipanggil Mbah Hadi Sholeh Putri oleh warga setempat. Dialah ibu kandung dari Zulkarnaen.
Melihat kedatangan Jawa Pos Radar Solo, Mbah Hadi Sholeh Putri mempersilakan masuk ke rumah dan duduk. Namun saat disampaikan maksud kedatangan kami adalah untuk menanyakan soal Zulkarnaen, raut wajahnya berubah. Lantas dia permisi untuk masuk ke dalam rumah untuk memanggil anaknya.
Selanjutnya, Mbah Hadi Sholeh Putri keluar dengan mengajak salah satu putranya. Namun saudara dari Zulkarnaen enggan menyebutkan namanya. Dia juga kurang berkenan dengan sejumlah pertanyaan soal Zulkarnaen. Bahkan, keluarga juga tidak mau bicara perihal hubungan mereka dengan Zulkarnaen.
”Mohon maaf, kami tidak bisa menyampaikan apapun. Selain itu, ibu baru saja terapi, mohon perhatikan kondisi kesehatannya,” ujar saudara dari Zulkarnaen itu.
Ketika ditanya terkait penangkapan Zulkarnaen yang diduga terlibat dalam serangan bom Bali I, pihak keluarga juga mengaku tidak tahu. Justru mereka mengaku baru mendengar dari wartawan. Tidak ada pemberitahuan dari pihak aparat maupun kepolisian setempat.
Terpisah, Ketua RT 14 Desa Gebang, Giyanto, 51, mengaku belum mendapat kabar jelas soal penangkapan warganya oleh Detasemen Khusus (Densus 88) Antiteror. ”Dari kabar-kabar di internet sepertinya tertangkap, tapi di berita televisi saya belum lihat. Warga juga kurang memperhatikan itu,” ungkapnya.
Giyanto lantas menjelaskan jika keluarga Zulkarnaen yang tinggal di Gebang selama ini hidup normal dan cukup baik. Baik orang tua maupun keluarga lain juga tak ada masalah dalam sosialisasi. Mereka juga rutin mengikuti kegiatan warga.
Giyanto sendiri merupakan teman SD Zulkarnaen dan masih satu angkatan. Mereka satu sekolah di SD 02 Gebang. ”Waktu itu masih SD memang teman satu angkatan. Menurut saya ya biasa saja, memang masih anak-anak. Setelah lulus, lost kontak. Saya tidak tahu SMP-nya di mana, sampai sekarang,” ujar dia.
Sementara itu, Kades Gebang Jumanto menjelaskan, nama asli Zulkarnaen di KTP adalah Arif Sunarso. Arif Sunarso sampai kini masih tercatat sebagai warga Desa Gebang Kidul RT 14, Masaran, Sragen. Namun, yang bersangkutan telah lebih dari 20 tahun pergi dari Masaran. Bahkan, jika warga Gebang bertemu, mungkin sudah tidak mengenal lagi.
”Semenjak pergi, dia (Zulkarnaen) tidak pernah kembali pulang ke Masaran. Bahkan saat ayahnya, Mbah Hadi Sholeh meninggal sekitar 3 tahun silam juga tidak pulang,” ungkap Jumanto.
Sebagai informasi, sebelumnya Kadiv Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono menyampaikan, telah melakukan penangkapan tanpa perlawanan terhadap DPO Zulkarnaen. Zulkarnaen merupakan buronan terkait kasus bom Bali I tahun 2002 dan juga panglima askari Jamaah Islamiyah.
Terduga teroris asal Sragen itu memiliki kemampuan lengkap sebagai seorang teroris. Mulai dari merakit bom, ahli fisika untuk meramal efek ledakan, ahli kimia untuk menciptakan bahan-bahan bom, hingga melakukan perekrutan anggota teroris.
Zulkarnaen juga disebut-sebut sosok yang senantiasa memberikan persetujuan terhadap setiap operasi Jamaah Islamiyah hingga 2010. Beberapa serangan bom yang mendapatkan restu Zulkarnaen, yaitu bom di di Bursa Efek Jakarta pada 2000, bom Bali I pada 2002 yang menewaskan 202 orang, hingga di Hotel JW Marriott pada 2003, serta peledakan bom di Kedutaan Besar Australia, Jakarta pada September 2004. (din/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra