Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tradisi Unik Pengantin Kelilingi Sumur Tua Punden di Dusun Porodesan

Perdana Bayu Saputra • Senin, 7 Desember 2020 | 20:06 WIB
Pasangan pengantin mengelilingi sumur di Dusun Porodesan, Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten, kemarin.
Pasangan pengantin mengelilingi sumur di Dusun Porodesan, Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten, kemarin.
Ada tradisi menarik yang sudah berjalan turun-temurun di Dusun Porodesan, Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten. Bagi sepasang pengantin di dusun setempat wajib mengelilingi sebuah sumur tua sebelum acara resepsi berlangsung. Lantas apa makna tradisi ini?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

SEBUAH janur kuning melengkung diikuti suara gamelan mengiringi kemeriahan acara pernikahan di Dusun Porodesan, Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom pada Minggu (6/12) siang. Tampak pasangan pengantin, Septiyanti Restuningsih dan Heru Prasetyo mengenakan busana Jawa dalam acara resepsi tersebut.

Sejumlah rangkaian acara digelar usai mereka menjalankan ijab kabul. Termasuk pasrah manten dari pengantin pria ke pihak pengantin perempuan. Tetapi sebelum mereka diarak ke tempat duduk pelaminan maupun resepsi, keduanya harus menjalani tradisi unik yang sudah turun temurun ada di Dusun Porodesan. Yaitu mengelilingi sebuah sumur tua di tengah dusun setempat.

Kedua pengantin lantas diarak menuju ke sumur tua yang dikenal dengan sebutan Sumur Punden. Dari kediaman sang pengantin perempuan harus menempuh jarak sekitar 500 meter dengan urutan Septiyanti Restuningsih berada di depan. Sedangkan pasangannya Heru Prasetyo mengikuti tepat di belakangnya.

Mereka didampingi oleh keluarga masing-masing sambil dipayungi. Tepat di depan pintu gapura dari Sumur Punden itu sang sesepuh yang mimimpin upacara dengan menginjakkan kaki sebanyak tiga kali. Hal itu dilakukan sebagai ucapan salam karena diyakini leluhur sumur itu sudah ada sebelum ada permukiman warga

Lantas, rombongan dari pengantin mengelilingi sumur sebanyak tiga kali. Sumur tersebut memiliki kedalaman 30 meter dan tertutup bambu. Saat mengelilingi sumur itu, warga yang melihat meneriakkan kata toen berulang kali ke pangantin. Kata toen yang diungkapkan warga itu bermakna sebagai doa terbaik bagi pasangan suami-istri tersebut.

“Tentu saya sangat bahagia dalam menjalani tradisi ini. Apalagi sebelumnya hanya melihat saja. Tapi kali ini merasakan karena sebelumnya saya penasaran dari tradisi mengelilingi Sumur Punden,” ucap Septiyanti usai mengelilingi sumur tersebut.

Ketika mengelilingi sumur itu, di dalam hati Septiyanti terus memanjatkan doa untuk kehidupan barunya. Apalagi dia berharap segera mendapatkan momongan dari pernikahan dengan sang pujaan hatinya.

Kasi Kesejahteraan dan Pelayanan Pemdes Randulanang Hariyanto mengungkapkan, tradisi itu memang dijalankan, baik bagi pengantin perempuan maupun laki-laki yang berasal dari Dusun Porodesan. Menurutnya, apabila tidak menjalani tradisi tersebut pasti ada hal yang kurang dirasakan oleh pasangan pengantin.

“Jadi sumur ini ada sebelum permukiman warga. Digunakan oleh warga sebagai sumber air bila membutuhkan karena memang masih bisa dimanfaatkan. Apalagi dalam setahun sekali juga ada tradisi membersihkan Sumur Punden ini,” ucapnya.

Tradisi mengelilingi sumur itu dimaknai sebagai sumber kehidupan sehingga diharapkan pasangan pengantin semakin sejahtera. Maka dari itu, tidak heran sudah ada ratusan pasangan pengantin yang berasal dari dusun mengelilingi sumur tersebut. Baik sebanyak tiga kali maupun tujuh kali, yang terpenting dalam jumlah ganjil.

“Tradisi ini pasti dilakukan sebelum memasuki acara resepsi. Saat mengelilingi itu pula pengantin memanjatkan doa. Begitu juga warga yang menyaksikan tradisi ini langsung kompak berkata toen dengan nyaring sebagai ungkapan doa bagi pasangan pengantin. Misalnya semoga dapat momongan,” ujarnya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#klaten #pasangan pengantin #sumur tua #dusun porodesan #sumur punden #tradisi unik #mengelilingi