Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Pertahankan Tradisi Lacen Sekaligus Jaga Alam

Perdana Bayu Saputra • Minggu, 20 Desember 2020 | 23:17 WIB
Photo
Photo
Di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb), ada aktivitas masyarakat setempat yang dilakukan turun-temurun. Lacen namanya, yakni sebuah aktivitas perumputan yang dilakukan masyarakat di kawasan TNGMb.

LACEN ini dilakukan lantaran ketersediaan pakan rumput untuk hewan ternak di kawasan pedesaan tidak mencukupi, sehingga masyarakat harus mengambil atau memanfaatkan rumput di kawasan hutan.

Lacen adalah istilah lokal yang digunakan masyarakat sekitar kawasan TNGMb. Lacen berarti laci. Adalah suatu kotak atau lokasi di TNMGb yang sudah terbagi oleh masyarakat sekitar. Kemudian masyarakat melakukan kegiatan aktivitas merumput di sana. Istilah tersebut sudah ada dan hidup sejak zaman dahulu sebelum kawasan Gunung Merbabu dikelola TNGMb.

“Lacen juga bentuk interaksi masyarakat dengan TNGMb. Lokasi lacen ini kami batasi di zona-zona tradisional. Tujuannya untuk mengakomodasi lacen ini,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai TNGMb Nurpana Sulaksono kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Nurpana menyebut tidak ada batas pasti dari lokasi-lokasi lacen. Alias, batasnya imajiner. Tidak ada patok dan sebagainya untuk memberi tanda lokasi lacen satu dengan lainnya. Hanya para pelacen saja yang paham batas lokasi lacen masing-masing.

“Karena tidak ada batas, jadi yang tampak ya hanya hamparan hutan. Kemudian nanti mereka (pelacen) melakukan kegiatan pengambilan rumput di bawah pohon-pohon di hutan. Jadi lacen ini bentuknya tidak jauh beda dengan hutan. Bedanya, di kawasan hutan itu, di bawah pohon, tumbuh rumput. Itulah yang diambil oleh masyarakat,” beber dia.

Pada 2019, Balai TNGMb telah memetakan sejumlah 50 hektare lacen di wilayah Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, sehingga wilayah lacen ini sudah bekerja sama dengan pemerintah desa setempat. Kerja sama tersebut dalam bentuk kesepakatan.

“Masyarakat bisa mengelola lacen di dalam TNGMb. Tapi mereka juga diharapkan ikut bertanggung jawab terhadap lokasi yang sedang mereka manfaatkan itu. Seperti menjaga dari kebakaran, dari pencurian, dan dari kerusakan. Ini bentuk interaksi positif yang sedang kami bangun dengan masyarakat sekitar kawasan Gunung Merbabu,” bebernya.

Kerja sama yang dilakukan Balai TNGMb dengan para pelacen ini merupakan salah satu bentuk pengakuan terhadap aktivitas lacen yang telah turun-temurun.

Ditambahkan Nurpana, aktivitas pemanfaatan lacen sudah dilakukan sejak lama hingga saat ini. Bahkan luas lacen yang dimanfaatkan masing-masing pelacen bervariasi.

“Kami tidak menentukan luasnya. Tapi lebih pada ke pencatatan. Kami rapikan. Agar nanti ada petanya. Baru kami inisiasi dengan kerja sama kemitraan. Memberikan akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan rumput di kawasan TNGMb. Karena rumput ini bernilai ekonomis tinggi, agar tidak disalahgunakan,” tandasnya. (aya/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra
#lacen #Taman Nasional Gunung Merbabu