Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Pecas Ndahe Bertahan dari Gempuran Pandemi

Perdana Bayu Saputra • Senin, 29 Maret 2021 | 16:52 WIB
Grup musik humor kota Solo Pecas Ndahe
Grup musik humor kota Solo Pecas Ndahe

Harus Siap Jadi Penonton, Pemain, dan Apa saja




Selama 27 tahun membuat ger…geran audience-nya, Pecas Ndahe tak pernah kehabisan ide. Penampilan grup musik humor yang digawangi Lik Doel, Max Yaqi, Yoik , Kocrit, Mas Pendek, Nurul, Toni, serta Tomo ini selalu fresh. Seperti disampaikan Lik Doel dan Mas Pendek kepada Jawa Pos Radar Solo di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)






Apa kabar Lik Doel dan Mas Pendek, sibuk apa di masa pandemi ini? 




Sedang sibuk menyibukan diri, hahaha…... Nongkrong begini juga menyibukan diri lho. Ngumpul sama pekerja seni lain. Bagaimanapun kalau nggak sibuk, ya menyibukan diri. Karena kalau nggak menyibukan diri, dadi abot pikiran e (jadi berat pikirannya). Sekarang memang (personel Pecas Ndahe) sedang disibukkan proyek masing-masing.




Seperti apa dampak pandemi terhadap aktivitas Pecas Ndahe? 

Berdampak sekali. Benar-benar tiarap. Awal pandemi banyak (event) yang cancel. Tapi sekarang mulai bergeliat. Kami sudah tiga kali manggung secara virtual di televisi nasional, manggung hajatan dua kali, dan terakhir pas ultah ke-27 Pecas Ndahe yang digelar dengan penonton terbatas. Kami sering nongkrong dengan teman-teman pekerja seni. Mereja juga terdampak.

Kangen ingin pentas secara live tidak? 

Pasti kangen banget. Yang bikin kangen itu ngecrohi (guyonan dengan) penonton.

Nah selama ini kan terbiasa pentas secara live, lalu di masa pandemi dengan virtual, tantangannya seperti apa?    

Sebagai pelaku seni, ketika pentas tanpa penonton (virtual), kami juga harus siap menjadi penonton, pemain, dan apa saja. Rasane abot (rasanya berat). Tapi pas tampil di ulang tahun Pecas Ndahe, kami semua bisa all out. Meski terbatas, bisa keluar semua emosinya.

Bagaimana mengemas materi humor saat tampil virtual?

Pokoke gayeng dewe (Pokoknya seru sendiri). Walaupun tidak tahu apakah penonton tertawa atau tidak, pokoke gayeng dewe. Sak karepmu (terserah penonton). Tapi ternyata tembus. Dilihat di YouTube, juga bisa membuat tertawa penonton. Itu karena humor keluar dari jiwa kami. Menjadi diri sendiri. Sebelumnya juga disiapkan garis besar materi yang akan ditampilkan. Eksekusinya di panggung.

Ketika personel sibuk dengan aktivitasnya masing-masing di masa pandemi, apakah masih sering berkomunikasi? 

Awal pandemi itu kami benar-benar cuma bisa komunikasi daring. Karena yang luar kota nggak bisa masuk Solo. Seperti Mas Tomo di Jogja, Mas Yoik di Pati dan lainnya. Sekarang pun kami jarang bertemu. Paling sebulan dua kali. Pas bertemu pertanyaannya aneh-aneh. Seperti kami sehat nggak? Kolesterolmu berapa? Utangmu sudah lunas belum dan lainnya. Jadi kunci silaturahmi, ya nagih utang. Dengan memperbanyak utang, tiap personel ada kerinduan ditagih. Ngko lak do tekok dewe-dewe (nanti pasti tanya sendiri-sendiri) hahahahaha…….

Bagaimana Pecas Ndahe menjaga kekompakan? 

Ya dengan ngrasani kancane (mengguncing teman) di grup WhatsApp. Nah itu menjadikan kerinduan kan. Saling bercanda, ngejek. Lalu pasti nyeletuk, yuk kapan kita ketemu. Akhirnya ketemu, ngumpul lagi. Selain itu, kami juga terang-terangan masalah honor. Karena biasanya sensitif. Banyak (grup musik) yang hancur karena ujung-ujungnya uang. Makanya kami padang-padangan (transparan) masalah itu. Sama-sama tahulah pembagiannya.  Waktu ngumpul itu, kami juga membuat video pendek. Elek-elekan (asal bikin) nggak masalah. Kami juga menjajaki karakter tiap personel agar saling paham. Yang penting obah (berkarya).

Perkembangan musik humor di tanah air, khususnya Kota Solo seperti apa? Regenerasinya bagaimana? 

Saya lihat menurun. Karena mikirnya masing-masing. Kalau kami, meski tidak bisa bertemu, tetap memikirkan ide buat kelangsungan grup. Seperti membuat podcast, video pendek di YouTube. Masalah eksis, ya tetap eksis. Tapi nek payu ne mbuh (tapi laku tidaknya, tidak tahu) hahahaha…... Kami pikir hampir sama dengan kesenian lainnya. Turun semua karena pandemi. Namun, kalau regenerasi grup musik humor banyak. Kami bangga Pecas Ndahe jadi salah satu referensi mereka dalam berkarya. Senang-senang saja dengan banyaknya musik humor di Solo. Jadi akeh kancane (banyak teman). Sekarang ada Owah Band, Nyiur Melambai, Aurat Sarap, Padat Karya, Rasa Susu Jahe, The Garangan, dan lainnya.

Harapannya apa saja?

Pagebluk ini cepat hilang. Karena menyengsarakan satu dunia. Maju terus pantang mundur. Pemerintah diharapkan memberikan keluasaan untuk menggelar pentas dengan protokol kesehatan. Jadi kami bisa pentas meski timik-timik (pelan-pelan). Karena selama ini kegiatan sosial budaya dihentikan. Kami terdampak pertama, tapi recovery-nya terakhir. (rgl/wa)



(rs/rgl/per/JPR)
Editor : Perdana Bayu Saputra
#musikhumor #musik #konsermusikvirtual #seniman #Pecasndahe #grupbandlegendsolo #pentasmusik