Kepala Bagian (Kabag) Kaderisasi dan Dakwah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Mahasri Shobahiya menjelaskan, ada beberapa gambaran waktu yang merujuk doa mustajab.
Doa mustajab, lanjut Mahasri, ada urutannya. Yakni mengucap istighfar, memuji Allah SWT, dan salawat. Baru kemudian menyampaikan hajat atau kebutuhan yang diminta.
“Yakni antara adzan sampai iqomah, dan setelah salat wajib. Kemudian saat menjelang Subuh serta di sepertiga malam akhir. Termasuk doa saat wukuf (ibadah haji). Apalagi saat ini bulan puasa Ramadan. Bisa memanfaatkan waktu selama sahur hingga berbuka untuk berdoa kepada Allah SWT,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (18/4).
Direktur Pusat Pengkajian Masyarakat dan Pendidikan Islam Nusantara (PPM-PIN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta Abdullah Halim mengklasifikasikan doa mustajab menjadi tiga. Yakni berdasarkan pribadi seseorang, tempat, dan waktunya.
“Doa yang diijabah Allah SWAT ada kalanya karena faktor manusianya. Misal nabi, orang-orang sholeh, waliullah, maupun ulama,” terang Halim.
Kemudian faktor tempat berdoa. Contohnya di masjid, Makkah Al Mukarromah, dan Madinah Al Munawaroh. “Ada waktu yang doanya diijabah. Seperti bulan Ramadan, sepertiga malam, salat dhuha, antara adzan dan iqomah, serta setelah salat Jumat dan fardhu,” imbuhnya.
Terkait adab dan etika agar doa diijabah, seperti disebutkan Syekh Muhammad Al-Maliki dalam kitab Abwabul Faroj. Yakni waktu Jumat, Arafah, Ramadan, menjelang iqomah, duduk di antara dua khutbah, dan sebagainya. Kemudian berdoa menghadap kiblat sembari mengangkat tangan.
“Dilakukan dengan ketulusan dan penuh pengharapan kepada Allah SWT. Saat berdoa, dianjurkan secara lirih, penuh khidmat, dan rendah hati. “Berdoa dengan khusyuk dan penuh harap. Sekaligus takut kepada Allah SWT,” urainya.
Halim menambahkan, doa diucapkan secara rutin dan berulang-ulang. Sebagai tanda kesungguhan memohon kepada Allah SWT. “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai.” (HR. Tirmidzy).
“Berdoa perlu awalan menyebut asma Allah atau bismillah, hamdalah, sholawat nabi, baru doa yang dipanjatkan. Doa boleh pakai semua bahasa. Juga diperlukan taubat kepada Allah SWT serta menjauhi sifat kedzaliman. Dalam hati kita tidak boleh kosong. Harus merasa bahwa kita khusyuk agar doa dikabulkan,” tandasnya. (mg1/ryn/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra