ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Begitu masuk di show room milik kelompok batik tulis di Klaten ini terasa lengang. Tidak tampak pengunjung yang memilih deretan kain batik tulis dengan beragam motif. Hanya terdapat tiga perajin berada di sisi samping sedang membatik di atas kain.
Pandemi Covid-19 memang memberikan dampak pada penjualan batik tulis yang dibuat ibu-ibu di Desa Kebon, Kecamatan Bayat tersebut. Sebagai gambaran sebelum pandemi mereka biasa mengerjakan batik tulis hingga 150 potong kain. Bahkan jelang mendekati Lebaran bisa tembus hingga 500 potong.
Kini kondisinya jauh berbeda. Dalam waktu sebulan hanya mengerjakan paling banyak 20 potong saja. Begitu juga jelang Lebaran terasa sepi pesanan karena daya beli masyarakat sedang menurun. Hal ini membuat ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Batik Tulis Kebon Indah mencari tambahan lainnya dengan berjualan kuliner.
Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan agar para perajin ini bisa bangkit kembali. Salah satunya dengan membuat motif batik tulis Covid-19 yang sempat kebanjiran pesanan hingga 100 potong. Terutama penjualan saat awal pandemi hingg sampai saat ini masih menjadi andalan.
Motif batik tulis Covid-19 ini tercipta pada tahun lalu. Bermula saat menerima pemesanan dari tenaga kesehatan berupa batik dengan motif bakteri pada Januari 2020. Tak lama kemudian dilanda pandemi sehingga perajin mengembangkan batik bermotif Covid-19. Berupa lingkaran yang didalam terdapat beberapa lingkaran kecil dan bagian luarnya berbentuk memanjang tetapi tumpul.
“Saya yakin setiap pembuatan motif batik itu punya filosofi seperti nenek moyang kita dahulu. Begitu juga pada motif batik Covid-19 ini sebenarnya kita berharap virus ini hanya menempel di kain saja. Tetapi sekarang sudah menjangkiti banyak orang,” ucap salah satu perajin batik tulis, Arini ditemui di show room.
Arini merasakan betul respons pasar saat itu yang memesan motif batik Covid-19 begitu tinggi. Meski saat itu dibanderol Rp 450 ribu per potong dengan ukuran 2,5 meter x 110 cm. Tetapi dia berharap motif batik tulis itu sebagai peringatan saja tetapi jauh dari itu dirinya berharap pandemi segera berakhir.
Siasat untuk bertahan di tengah pandemi terus dilakukan dengan melahirkan motif batik tulis berupa masker. Arini menyebut jika motif batik itu dihadirkan sebagai pasangan dari motif Covid-19 yang sudah ada.
Sayang, saat Jawa Pos Radar Solo ke show room sudah tidak persediaan karena sudah terjual sehingga tidak bisa melihat langsung motifnya. Selain berkreasi melalui motif, siasat bertahan dilakukan dengan memanfaatkan media sosial untuk berjualan secara online.
Begitu juga dengan menitipkan ke sejumlah toko batik dilakoni pula. Harapannya batik tulis yang dihasilkan ibu-ibu itu laku sehingga bisa menggerakan perekonomian keluarga.
“Agar bisa jalan terus, harapan kita sebagai pembatik agar pemerintah daerah bisa menggunakan seragam batik yang diproduksi para perajin. Setidak batik tulis maupun batik cap, jangan printing. Ini agar UKM batik tetap bisa jalan terus,” ucap Dalmini yang merupakan pimpinan Kelompok Batik Tulis Kebon Indah.
Dalmini menyadari jika dalam kondisi pandemi Covid-19 pembelian batik bukan hal prioritas, melainkan memenuhi kebutuhan sembako terlebih dahulu. Tetapi dengan berbagai siasat yang dilakukan serta didukung kebijakan pemkab, dirinya menyakini UKM batik di Desa Kebon bisa bertahan. (*/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra