OPI OCTA-TEDIAN, Solo, Radar Solo
Lantunan ayat suci Alquran menggema di dalam Masjid Al Mukaromah, Banyuanyar, Banjarsari, Solo, pekan lalu. Dibawakan seorang ustad mengenakan baju koko dan peci warna gelap. Sesekali, dia memberikan tausiyah kepada para jamaah dari atas mimbar masjid.
Ya, dia tak lain Sri Mulyono alias Ustad Jabrix. Di masjid tersebut, dia berkesempatan mengisi rangkaian acara buka bersama (bukber) yang diinisiasi komunitas Ekspreso.
Siapa sangka, Sri Mulyono di masa mudanya dikenal sebagai preman berdarah dingin. Tercatat sudah tujuh kali keluar-masuk bui.
“Saya pernah masuk penjara tujuh kali. Di Solo saya ditahan tiga kali, Sragen satu kali, Jogja satu kali, dan dua kali di Jakarta. Mulai dari kenakalan remaja hingga perampokan,” ucap Sri Mulyono kepada Jawa Pos Radar Solo.
Salah satu kasus paling berat, yakni saat Sri Mulyono terlibat dalam komplotan perampok “Slamet Gundul”. Pembina Ekspreso ini ikut andil beberapa kasus perampokan bersenjata. Bahkan sempat masuk daftar pencarian (DPO) polisi. Namun petualangannya berhenti saat dibekuk polisi pada 1998 silam. “Saya kena hukuman empat tahun penjara. Saya ditahan di Lapas Cipinang Jakarta,” ujarnya.
Selama jadi penghuni lapas, Sri Mulyono mendapat pengalaman baru: bermusik. Usai bebas, dia mencoba peruntungan, bergelut di dunia entertainment sebagai pemusik. Sebagai musisi, dia biarkan rambutnya panjang menjuntai.
Terjun di dunia hiburan, perangainya tak berubah. Justru kian menjadi. Judi, minuman keras (miras), hingga narkoba jadi makanan sehari-hari.
“Sebenarnya saya merasa kasihan sama orang tua. Saya sudah masuk keluar penjara tujuh kali ditambah dua tahun kecanduan narkoba,” imbuhnya.
Selama jadi pecandu barang haram, Sri Mulyono sering merasakan paranoid. Muncul rasa curiga dan ketakutan berlebihan.
“Selalu muncul niatan berbuat kejahatan. Ya maling, judi, sampai mabuk-mabukan. Tapi di lubuk hati paling dalam, saya ini Islam. Tapi mengapa selalu meninggalkan salat,” kenangnya.
Di awal 2000-an, Sri Mulyono mulai mendapat hidayah. Suatu ketika, dia berniat salat Duhur berjamaah di Masjid Agung Surakarta. Dia rela jalan kaki sejauh 3 kilometer (km) dari rumah ke masjid. Usai salat, dia mendengar tausiyah tentang perampok yang taubat dan menjadi seorang ulama.
Dari kajian itu, muncul keinginan Sri Mulyono untuk hijrah. Dunia hitam perlahan ditinggalkan. Awalnya berat. Karena dia justru dijauhi teman-temannya.
“Tapi saya bertahan, hingga akhirnya pada 2012 ada titik terang. Itu ketika saya ditunjuk jadi panitia penggalangan dana pembangunan Masjid Al Anshor di Kalangan, Jagalan, Solo,” terangnya.
Sejurus kemudian, Sri Mulyono mulai memperdalam ilmu agama. Dia putuskan kuliah di usia 46 tahun. Di dua tempat sekaligus. Yakni Sekolah Tinggi Islam Al-Mukmin (STIM) Ngruki mengambil jurusan Bahasa Arab. Disambi kuliah di Ma’had Abu Bakar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Mulai 2017 hingga lulus dengan predikat sarjana pendidikan.
“Dulu saya ini perampok, penjudi, pemabuk, dan pakai narkoba. Sekarang saya jadi guru agama Islam di salah satu SD Islam. Dulu sarapan saya sabu. Sekarang sarapan saya mengajari anak-anak membaca Alquran,” papar bapak lima anak tersebut.
Nah, di bulan suci Ramadan 1442 H ini, Sri Mulyono mengisinya dengan berbagai amalan. Menyambangi masjid satu ke masjid lainnya di Kota Bengawan. Bersama anggota komunitas Ekspreso lainnya. “Selain bukber, juga adakan sahur on the road, kajian, dan masih banyak lagi,” bebernya. (*/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra