Dia dengan telaten merestorasi Mercedez Bens L911 Mini Truck Series selama kurun tujuh bulan. Proyek besar ini dimulai sejak akhir 2019. Namanya juga warisan ortu, Budi ogah menyerahkan restorasi ke tangan para builder sembarangan. Semua dikerjakan dengan tangan sendiri. “Saya modif sendiri di rumah. Habisnya sekitar Rp 70 juta-Rp 80 juta,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Restorasi diawali dari mesin. Kesulitan mencari piston orisinal, Budi terpaksa memensiunkan mesin bawaan Mercy Bagong bertenaga 2.800cc. Diganti mesin Toyota Kijang. “Supaya pas dan presisi, chasis asli juga saya ganti. Pakai chasis Kijang tapi dipotong supaya pas dengan kabin dan bak Mercy Bagong,” imbuhnya.
Transformasi selanjutnya di bak. Menambah kesan elegan, Budi memilih material kayu cemara. Agak mahal memang dibanding kayu jati atau yang lainnya.
“Saya pilih cemara karena bentuk serat kayunya bagus. Lain dari kayu-kayu lainnya. Belinya di pasar loakan di Mojosongo (Jebres) dan Pasar Notoharjo (Semanggi, Pasar Kliwon). Saya panggil tukang kayu buat bantu potong dan pasang ke bak,” ungkapnya.
Bodi semok Mercy Bagong ditopang velg bawaan Suzuki Jimny R14. Mengejar lebar bodi, velg di-custom agak lebar. Dibalut ban ban besutan Corsa MT 195/70 R14. Biar nyaman dikendarai, Budi tambahkan power steering milik Toyota Crown 1981. “Lubang baut aslinya kan lima, saya ganti jadi empat. Otomatis PCD-nya berubah dari 126 jadi 114,” bebernya.
Soal interior kabin, Budi ogah rombak sana-sini. Pilih pertahankan orisinalitas kabin. Termasuk panel-panel dan stir.
Supaya sedap dipandang mata, seluruh bodi Mercy Bagong hanya diguyur cat Nippon warna krem. “Tapi yang mahal itu clear-nya. Saya pakai yang kelasnya paling bagus. Yang ngecat ada tukang sendiri. Saya panggil ke rumah,” ujarnya bangga. (mg1/mg9/ryn/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra