A CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
Sudah sejak kecil Endah Dwi Palupi mencintai anjing. Sebab sudah menjadi peliharaan keluarga besarnya. Kala masih kecil, dia sering ditingal tugas oleh sang ayah yang merupakan salah seorang guru besar di Universitas Sebelas Maret.
“Terus milih anjing sebagai peliharaan segaligus untuk jaga rumah kalau ditinggal pergi. Waktu itu berbagai jenis anjing saya pelihara. Terus waktu SMP jatuh hati sama kintamani. Karena meski anjing lokal, bentuknya, bulunya, warnanya tidak kalah cantik dengan anjing ras luar,” kata perempun yang akrab disapa Iin ini.
Ada cerita dibalik Iin jatuh cinta pada anjing ini. Hal ini yang membuatnya semakin menyayangi anjing kintamani. Saat itu, dia sedang patah hati setelah rencana pernikahan yang tinggal beberapa bulan batal.
Tentu dia mengalami perasaan sedih luar biasa hingga membuatnya mengurung diri di dalam kamar selama sebulan. Bahkan dia sampai mogok makan dan menolak bertemu dengan siapapun, bahkan oleh pihak keluarga.
“Sampai suatu ketika ayah saya mencari cara agar saya tidak sedih lagi. Saya diajak ke Bali untuk mencari kintamani yang paling bagus. Ya sudah saya mau disogok pakai anjing supaya tidak sedih lagi,” kelakarnya.
Dia pun bergegas berangkat ke Bali dengan adiknya. Di sana mereka menemui seorang dokter hewan yang merupakan rekan ayahnya. Beruntung, di Bali dia menemukan anjing kintamani yang menjadi ikon. Bahkan, dia sangat mengenali anjing juara bernama Susi Moza. Dia sempat pesimistis bisa membawa pulang Susi Moza karena banyak orang yang memperebutkan anjing itu.
“Saya menghubungi rekan ayah di Bali, sampai akhirnya saya berhasil membawa Susi Moza. Harganya saat itu Rp 20-an juta, tetapi ayah tegas kalau melihat saya menangis lagi, Susi Moza bakal diambil lagi,” ujar Iin.
Namun, dia tidak bisa langsung menghentikan kesedihannya setelah membawa Susi Moza pulang ke ke rumahnya di Kampung Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. Dia tetap menangis di lokasi bermain anjing tanpa sepengetahuan ayahnya. Sembari melihat Susi Moza bermain.
“Padahal Susi Moza baru beberapa hari di rumah. Namun waktu melihat saya menangis, dia langsung mendatangi saya. Dia melihat saya menangis dan langsung menjilat air mata saya. Kepala anjing itu juga diletakkan ke paha saya, sejak itu saya jatuh cinta sekali dengan anjing kintamani meskipun sebelumnya sudah memelihara dan breeding juga,” ucap dia.
Kejadian itu sekitar 2008. Susi Moza semakin dekat dengan Iin dan selalu bersama dia dalam keadaan apapun. Dia pun menginginkan Susi Moza membawa cincin pernikahan dalam perayaan pernikahannya. Namun, pada 2015 Susi Moza mulai sakit-sakitan. Lalu 40 hari sebelum hari pernikahannya, Susi Moza mati. Keinginan Susi Moza untuk membawa cincin pernikahannya itu gagal.
“Istilahnya, Susi Moza hanya menemani saya di masa patah hati. Setelah saya menemukan jodoh saya, Susi Moza mati. Seperti itu, kenapa hubungan emosional kami sangat dekat,” papar dia.
Selain itu karena kisah tersebut, Iin fokus mengembangbiakkan Kintamani kaerna memiliki berbagai keunggulan dan mudah dalam perawatan. Karena ras lokal, tak perlu ada treatmen khusus. Untuk pakan sendiri tak melulu dog food, namun bisa nasi bahkan singkong.
Sebab, didaerah asalnya sana, anjing kintamani memang difungsikan untuk menajaga area perkebunan warga. Sehingga pakan yang diberikan juga hasil perkebunan. Karena merupakan anjing pencaga, kesan gelak melekat. Tapi itu merupakan suatu perwujudan menjaga kawasan teritorialnya.
“Anjing kintamani itu alarm dan alert. Anjing itu tidak mau menyerang, hanya menjaga teritorial. Pernah dulu anjing-anjing tidak berhenti menggonggong tengah malam, Besoknya ada ramai-ramai, ternyata tetangga saya kemalingan itu. Saya sadar gonggongan anjing saya malam sebelumnya adalah peringatan, padahal rumah tertutup tembok tinggi,” papar dia.
Dia menambahkan, anjing dapat dibiakkan dua kali dalam setahun. Namun untuk menjaga kualitas anakan, breeding hanya dilakukan satu kali dalam setahun atau lebih di tempat breeding atau kennel miliknya. Namun sayang sekarang , karena saat ini anjing kintamani digandrungi, banyak breeder cenderung asal-asalan, di mana dikawinkan dengan anjing jenis lain. Seperti tidak mempertahankan ras murni anjing kintamani.
Menurutnya, hal itu untuk menjaga kualitas anakan tetap terjaga seperti kesehatan dan postur anjing. Lalu, agar kualitas bulunya terjaga, salah satu makanan yang jadi pantangan adalah ikan laut. Pakan ikan laut terlalu sering membuat bulu anjing rontok.
Dia menambahkan, harga seekor anjing kintamani bersertifikat atau stambum sekitar Rp. 3 juta. Jika seekor anjing kintamani sering juara kontes harganya bisa berlipat lebih mahal. “Kalau komunitas khusus anjing kintamani di Solo belum ada. Kalau gathering dog lovers beberapa membawa anjing kintamani. Paling sering ya waktu dog show atau kontes anjing,” papar dia.
Menurutnya, dia lebih sering memasarkan anjing kintamani ke luar daerah. Hal itu dikarenakan di wilayah eks Karesidenan Surakarta masih belum memahami seputar kualitas anjing kintamani. Anggapan ras lokal tidak berkualitas masih tinggi di masyarakat.
“Padahal anjing kintamani sudah diakui dunia. Lalu pasar anjing kintamani justru masyarakat menengah. Anjing kintamani sering dianggap anjing kampung, padahal anjing ras luar negeri ya anjing kampung juga di sana,” imbuh dia.
Dia mengaku tidak terlalu memperhatikan omzet dari beternak anjing kintamani. Dia hanya ingin melestarikan anjing kintamani sesuai ras aslinya. Saat ini dia memiliki enam anjing betina dan tiga anjing jantan. Dia mengaku tidak ingin memiliki jumlah anjing banyak namun mengabaikan kualitas. Padahal bisa saja, setiap masa birahi anjing langsung dikawinkan.
Dalam sebuah dog show, kata Iin, penilaian anjing mengacu kategori seperti anatomi anjing. Anatomi wajib memenuhi standarisasi anjing kintamani. Misalnya pada bagian telinga, anjing kintamani harus memiliki bentuk telinga yang berdiri. Sementara pada bagian gigi, harus lengkap dan rata tidak boleh zigzag.
Berikutnya dari warna bulu yang harus sesuai spesifikasi empat warna. Contohnya, kintamani berbulu putih tidak boleh tercampur warna lainnya. Demikian juga kintamani warna hitam, cokelat, dan anggrek, tidak boleh ada campuran warna lain. Ciri fisik lainnya adalah bulu pada leher yang harus lebar, begitu pula buli pada bagian kaki. Ekor harus melengkung 45 derajat sempurna dengan bentuk seperti kipas. Anjing yang sudah memenuhi kriteria itu biasanya menjadi pemenang kontes.
“Jika anjing jantan harus memiliki testis dua, tidak ada kecacatan dan sebagainya. Lalu setelah kriteria terpenuhi mereka bakal diajak berjalan berkeliling. Bagaimana posisi dia jalan dan seterusnya,” papar dia. (*/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra