SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo
Di Kota Bengawan dan kota-kota besar lainnya, alat pengukur suhu tubuh dan handsanitizer contactless (tanpa sentuh) dan otomatis sudah banyak digunakan. Biasanya alat-alat tersebut produksi pabrikan. Sehingga bisa dibeli di toko-toko alat kesehatan. Namun lain cerita jika di kota-kota kecil lainnya. Alat pengukur suhu dan handsanitizer masih menggunakan cara konvensional. Artinya, masih ada kontak antara pengguna dengan alat tersebut.
Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Sebelas Maret (UNS) Bakasrian Fericoari kemudian membuat sendiri alat pendeteksi suhu contactless yang digabungkan dengan sistem handsanitizer otomatis. Ini dia lakukan saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Talangsari, Lampung Timur.
"Alat ini dapat mendeteksi suhu seseorang tanpa harus ada yang memegangnya. Orang yang ingin mengecek suhu, cukup mendekatkan bagian tubuh yang ingin dicek suhunya secara mandiri. Sistem kerjanya menggunakan mikrokontroler arduino dengan sensor ultrasonik," beber Brian kepada Jawa Pos Radar Solo baru-baru ini.
Tak hanya membuat, Brian juga sekaligus mengedukasi proses pembuatan alat ke warga desa setempat. Pembuatan alat dimulai dari pemotongan akrilik sebagai bodi alat yang dipotong sesuai bentuk desain. Kemudian merakit bagian kelistrikan. Dan dilanjutkan dengan pemprograman untuk arduino.
Inspirasi alat tersebut Brian dapatkan saat melihat alat pendeteksi suhu serupa di pusat perbelanjaan. Dia kemudian langsung mencari informasi alat tersebut di internet yang ternyata harganya tidak murah. Akhirnya, Brian berinisiatif membuat alat ini sendiri berdasarkan referensi di internet dan menggabungkannya dengan sistem hand sanitizer otomatis.
"Karena harganya mahal tidak mungkin alat semacam ini digunakan oleh warga desa. Ditambah lagi kesadaran akan protokol kesehatan Covid-19 di desa tersebut masih minim. Itu yang mendorong saya untuk mengedukasi warga, khususnya pemuda karang taruna. Hasil program edukasi ini, berupa tiga alat yang dihibahkan ke desa," ungkapnya.
Alat tersebut nantinya ditempatkan pada tempat yang ramai berkegiatan. Seperti masjid desa, di mana kegiatan keagamaan sangat ramai. Satu alat diletakkan di balai desa, dan satu lagi akan diletakkan di tempat perkumpulan di desa.
"Respons warga setempat sangat positif. Mereka mendukung pengadaan alat ini. Apalagi hal ini merupakan kali pertama di desa tersebut," sambungnya.
Dalam pelaksanaannya Brian bekerja sama dengan pemuda karang taruna setempat bermodalkan dana KKN dari UNS. Dia mengaku sangat senang dapat menyalurkan ilmu yang didapat di UNS untuk kebermanfaatan warga desa.
"Mereka jadi antusias dan sadar akan menjaga kebersihan tangan setelah atau sebelum kegiatan," pungkasnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram