MANNISA ELFIRA, Solo, Radar Solo
Selesai belajar pada mata kuliah cinematography drama, Aldo membuat sebuah film pendek bertema Covid-19. Film ini nantinya akan jadi penilaian akhir semesternya. Akhirnya mahasiswa Jurusan Film dan Televisi, ISI Surakarta ini membuat film berjudul Bahagiaku Datang dari Atas dengan durasi 10 menit 29 detik.
Pada saat itu, para mahasiswa sudah kuliah daring imbas pandemi Covid-19. Karena tidak bisa kemana-mana dan Aldo tak mau merepotkan diri sendiri, rumahnya dan lingkungannya di Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat dipilih jadi lokasi syuting filmnya. Pemeran filmnya dari keluarganya.
Dalam proses pembuatan film itu dia tidak berani mengajak orang lain. Karena kondisi masih Covid. Akhirnya pembuatan film ini sangat terbatas.
“Dari mulai kameramen, sutradara, penulis, dan editor itu saya lakoni semua. Pembuatan filmnya juga dengan alat terbatas. Hanya pakai satu kamera tanpa audio eksternal dan lainnya. Kamera itupun saya pinjam dari teman,” kata mahasiswa kelahiran Bekasi, 24 Agustus 2001 itu kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (12/7).
Aldo menyebutkan, proses pembuatan film dari pencarian ide hingga selesai memakan waktu sebulan. Namun, untuk proses syuting hanya tiga hari. Karena pemainnya keluarga sendiri, sebagai sutradara di film ini dia tidak terlalu sulit mengatur jalannya syuting.
“Karena saya mengambil cerita dari kehidupan keluarga. Saya hanya menyuruh ibu dan adik agar jadi dirinya sendiri. Jadi memerankannya tidak susah. Namun, karena mereka baru pertama kali syuting, ada beberapa yang harus diulang. Tapi semuanya lancar-lancar saja,” ungkapnya.
Terkait kendala, Aldo hanya merasa kelelahan. Untungnya, saat itu dia miliki banyak waktu luang. Jadi dia menikmati proses syuting. Meski terbilang lancar, pembuatan film ini sangat menantang. Karena semua prosesnya dilakukan sendiri. Apalagi di film tersebut ada scene di atas genteng rumah. Dia dan adiknya naik ke genteng. Itulah tantangannya.
“Sinopsis filmnya itu Gian (Adik Aldo) merasa sangat bosan dengan rutinitasnya di rumah selama masa pandemi. Untuk menghilangkan sedikit kebosanannya, Gian biasa pergi ke atas rumah untuk melihat dunia lebih luas,” bebernya.
Setelah filmnya sudah selesai dan dilakukan penilaian akhir semester ke dosen, Aldo mencoba mendaftarkan filmnya ke lomba film Brawijaya Creative 2020 pada Agustus tahun lalu. Tak disangka dia menang dan dapatkan juara I.
Karena ini, Aldo percaya filmnya bisa diterima. Dia sempat daftarkan ke beberapa lomba lagi, di antaranya Class of 2020 Semester Pendek Kolektif Film, Finalis Festival Film Mahasiswa Indonesia 2020, dan Sinema Akhir Tahun 2020.
“Meski belum dapat penghargaan lagi, saya senang film saya ditayangkan beberapa kali,” imbuhnya.
Saat ini Aldo temannya sedang memegang program PHP2D (program holistik pembinaan dan pemberdayaan desa). Program pemberdayaan Desa Karang, Karangpandan, Karanganyar tersebut akan dibawa dengan tema desa perfilman.
“Kami diberi hibah dana yang nantinya digunakan untuk memberdayakan desa. Kegiatan ini nantinya berjalan selama lima bulan. Mulai Juli sampai November,” tuturnya. (*/bun)
Editor : Damianus Bram