NIKKO AUGLANDY, Solo, Radar Solo
LAGU Indonesia Raya berkumandang di Musashino Forest Sport Plaza Tokyo, Jepang, kemarin. Bersamaan berkibarnya bendera Merah Putih. Setelah pasangan ganda putri Greysia Polli/Apriyani Rahayu meraih medali emas pertama bagi Indonesia. Di partai puncak, menang stright set atas peringkat dua dunia, pasangan Chen Qingchen/Jia Yifan asal Tiongkok (21-19 dan 21-15). Ini jadi kado HUT Kemerdekaan RI Ke-76 yang jatuh pada 17 Agustus mendatang.
Beberapa pihak mengapresiasi keberhasilan ini. Terutama sejumlah kolega yang pernah dekat dengan Eng Hian di Kota Bengawan. Wahyu Nugroho misalnya.
“Eng Hian sosok sangat ulet dalam melatih. Saya lihat pengalamannya saat melatih di Inggris dan Singapura. Sangat berperan dalam membuat catatan sejarah untuk ganda putri Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Karena pengalaman pelatih sangat menentukan keberhasilan pemain,” terang Wahyu yang sering melatih freelance di Boyolali tersebut kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Eng Hian didapuk jadi pelatih Pelatihan Nasional (Pelatnas) Bulu Tangkis Cipayung, Jakarta Timur sejak Maret 2014. Khusus meracik ganda putri. Semasa masih aktif bermain, prestasi terbaik Eng Hian adalah medali perunggu di Olimpiade Athena 2004. Berpasangan dengan Flandy Limpele di sektor ganda putra. Mengalahkan pasangan Jens Eriksen/Martin Lundgaard Hansen dari Denmark, straight set 15-13 dan 15-7).
Menariknya, Flandy Limpele juga terjun di Olimpiade 2020 sebagai pelatih ganda putra Malaysia. Menyumbang perunggu dari pasangan Aaron Chia/Soh Wooi Yik setelah mengalahkan ganda terbaik Indonesia Kevin Sanjaya/Marcus Gideon di babak 16 besar. Termasuk menumbangkan pasangan Hendra Setiawan/M. Ahsan di semifinal.
Wahyu sempat berkumim di PB Tiara Solo bersama Eng Hian, 1985-1987. Sebelum akhirnya Eng Hian direkrut PB Djarum Jakarta. Di ibu kota, karir Eng Hian kian terasah hingga dipercaya masuk pelatnas Cipayung.
“Saat junior, Eng Hian masih main single. Tapi setelah masuk Djarum, langsung fokus ganda putra. Orangnya tekun berlatih dan sudah terlihat potensinya. Selamat buat Eng Hian dan Greysia Polli/Apriyani Rahayu. Ini sejarah, Indonesia meraih emas ganda putri,” imbuh Wahyu.
Periode 2001 dan 2003, Eng Hian/Flandy Limpele sempat membela Inggris. Lalu balik lagi ke Indonesia dan tampil di Olimpiade. Eng Hian memutuskan mundur dari Pelatnas Cipayung pada 1 Februari 2006.
Lepas dari Cipayung, Eng Hian mendarat di Singapura. Meniti karir mulai 2007-2013. Sebelum akhirnya kembali hijrah ke Jakarta. Lalu mendirikan akademi bulu tangkis di Gunung Putri, Bogor, pada 2013. Dan sejak 2014, dia kembali ke Cipayung untuk melatih.
Pelatih PB Champion Klaten Jan Peter menilai Eng Hian merupakan sosok panutan dan inspiratif. “Saya angkatan jauh di bawah dia. Dulu sekitar 2000, pernah ketemu di Pelatnas Cipayung. Saya baru masuk pratama, Koh Eng Hian sudah senior. Seangkatan Candra Wijaya dan Sigit Budiarto. Belum pernah dekat secara personal. Cuma, saya tahu dia itu dulu pemain depan (kunci ganda putra) yang istimewa,” ujar Jan Peter yang pernah mencicipi PB Jaya Raya tersebut.
Sementara itu, apresiasi tinggi terlontar dari mulut Ketua PBSI Solo Susanto. Seingat Susanto, Eng Hian dan kluarga sudah lama menetap di ibu kota.
“Peran pelatih sangat penting di event sekelas Olimpiade. Saya menilai Eng Hian, pelatih asal Solo dengan pengalaman bermain tinggi. Pengalaman melatih di luar negeri sangat besar andilnya dalam menjaga dan mengatasi beban mental Greysia Polli/Apriyani Rahayu. Selamat,” ucapnya. (*/fer/bun) Editor : Damianus Bram