MANNISA ELFIRA, Solo, Radar Solo
Bangga dan haru dirasakan Muhammad Bahrudin dan Aan Rohmad Safrudin begitu berhasil menginjakkan kaki di puncak tertinggi Turki, Gunung Ararat tepat di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus. Di ketinggian 5.137 mdpl ini dua mahasiswa pecinta alam (mapala) tergabung dalam Specta Indonesian International Expedition UIN Raden Mas Said ini berhasil mengibarkan bendera merah putih dan bendera kebesaran kampus mereka.
“Rasanya lega, bangga, haru dan bangga. Semuanya bercampur jadi satu. Akhirnya bisa mencapai puncak (Gunung Ararat). Medannya cukup berat. Apalagi di tengah musim peralihan, dimana cuacanya sangat ekstrem. Anginnya juga berembus kencang. Alhamdulillah kami berhasil sampai puncak dan kini sudah turun,” ujar Bahrudin dihubungi Jawa Pos Radar Solo lewat percakapan WhatsApp, Rabu malam (18/8)
Bahrudin dan Safrudin berangkat dari Solo pada 10 Agustus lalu. Setelah stransit semalam di Jakarta, pada 11 Agustus, terbang dari Bandara Soekarno Hatta via Abu Dhabi. Sampai di Istanbul 12 Agustus pukul 13.00 siang waktu setempat. Pada 13 Agustus perjalanan baru dilanjutkan. Mereka naik pesawat dari Istanbul ke Igdir. Lalu sempat menginap dulu. Baru, 14 Agustus mulai pendakian.
“Kira-kira naik mulai pukul 11.30. Bekal yang kami bawa standar pendakian biasa. Namun yang terpenting itu baju hangat seperti jaket bulu angsa. Celananya juga waterproof. Kemudian untuk tambahan di medan es, ada crampons. Sebetulnya kami bawa ice axe, namun tidak terpakai,” sebutnya.
Tim pendaki dari Indonesia hanya dua orang. Namun kebetulan mereka bertemu pendaki dari Slovenia, Serbia, dan Rusia. Sehingga mereka naik ke puncak gunung Ararat bersama-sama.
Start pendakian terakhir dari Desa Cevirme. Pada 14 Agustus, target mereka ke first camp di ketinggian 3.400 mdpl, selama tujuh jam perjalanan. Kemudian menginap dulu semalam. Esoknya, pada 15 Agustus, mereka naik ke second camp di ketinggian 4.100 mdpl untuk aklimatisasi. Perjalannnya selama empat hingga lima jam.
“Ketika aklimatisasi cukup terengah-engah. Sebab kondisi oksigen mulai menipis. Jadi, kami harus stay sekitar dua hingga tiga jam untuk menyesuaikan kondisi oksigen di sana. Aklimatisasi ini saat siang hari,” ujarnya.
Mereka kemudian turun kembali ke first camp dan menginap semalam. Baru, hari ketiga (16/8) mendaki lagi ke second camp. Sampai di sana, mereka prepare untuk summit pada hari berikutnya. Pada 17 Agutus pukul 01.00-01.30 pagi, mereka mulai summit naik ke puncak.
“Sebelum sampai puncak, di ketinggian 3.900-4.000 kami sudah bertemu medan es. Di situ harus pakai crampons. Memang berat medan ini. Sampai di ketinggian 5.137 itu tepat 17 Agustus pukul 08.00. Namun di puncak tidak boleh terlalu lama. Mungkin sekitar 15 menit. Sebab anginnya cukup kencang,” bebernya.
Inilah momen yang takkan disia-siakan. Keduanya langsung mengibarkan bendera merah putih tepat saat Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-76 Republik Indonesia. Selain itu, mereka juga mengibarkan bendera kebesaran UIN Raden Mas Said dan Specta.
Rasa bangga tidak bisa mereka sembunyikan. Apalagi mengingat perjuangan, tantangan, serta kendala yang dihadapi menuju puncak. Mereka sempat merasakan gejala acute mountain sickness (AMS), seperti pusing dan mual. Namun, 24 jam sebelum summit sudah minum obat. Nah, saat menambah ketinggian, mereka jalan lebih pelan saat merasakan AMS.
“Ditambah cuaca di sana (Turki) itu saat siang panas sekali. Nah, malamnya dingin sekali. Seperti besi yang dipanaskan kemudian dicelupkan air es. Jadi, badan sempat belum menerima. Untungnya kami sudah persiapkan ekspedisi ini selama lima bulan lalu. Seperti latihan fisik dan lainnya,” tambah Aan Rohmad Safrudin.
Pastinya bangga dan melegakan. Sebab, ini merupakan medan es sekaligus tertinggi pertama bagi keduanya. Tapi akhirnya mereka berhasil hingga puncak dan kembali lagi dengan selamat. “Harapannya untuk teman Specta yang lain melanjutkan ekspedisi ini. Dan semoga akan lebih jauh berkembang dari ekspedisi ini,” kata Aan.
Saat ini, mereka berdua masih di Turki. Rencananya, pada 19 Agustus akan ke Noah's Ark (Bahtera Nabi Nuh). Kemudian kembali ke Indonesia pada 23 Agustus. (*/bun) Editor : Damianus Bram