Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Dimasa Rekaman Digital, Kaset Pita Dilirik Lagi: Slank pun Kesengsem

Damianus Bram • Senin, 30 Agustus 2021 | 13:15 WIB
TETAP DIJAGA: Proses memproduksi dan menggandakan kaset pita menggunakan mesin otari cassette duplikator di Studio Musik Lokananta. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
TETAP DIJAGA: Proses memproduksi dan menggandakan kaset pita menggunakan mesin otari cassette duplikator di Studio Musik Lokananta. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SETELAH menghilang karena tergeser hadirnya alat perekam modern pada pertengahan 2000-an, kaset pita kini kembali bergeliat meski produksinya tidak sebanyak di era kejayaan 1970 silam. Seperti apa kaset pita ini ke depan?

Industri kaset pita saat ini sudah sulit ditemukan, mengingat kini sudah masuk ke era digital. Dengan menghadirkan segala kecanggihan sangat memudahkan para seniman maupun produser musik untuk memasarkan karya-karyanya dengan jangkauan lebih luas.

Uniknya, metode rekaman yang menghilang selama satu dekade pada 2005 lalu itu belakangan mulai populer kembali. Momentum kebangkitannya pun tercatat sejak 2012 hingga hari ini. Sekaliupun produksinya tidak seramai pada masa kejayaannya pada rentang 1970-1990.

“Tren produksi musik di Indonesia dimulai dengan silinder wax (era kolonial), kemudian muncul piringan hitam dengan gramofon pada era 1930-1940. Dilanjutkan piringan hitam dengan tunetable pada era 1950-1960. Untuk kaset pita mulai marak di Indonesia pada 1970, dan bertahan hingga pertengahan 2000,” jelas Anggit Wicaksono, marketing studio musik legendaris Lokananta Surakarta.

Produksi kaset pita juga mewarnai perjalanan Lokananta sebagai label industri musik resmi milik negara. Awalnya Lokananta berdiri di era piringan hitam diproduksi masal di 1956 untuk memproduksi lagu nasional dan lagu daerah. Tujuan saat itu untuk membendung musik-musik dari barat. Kemunculan era kaset pita di Lokananta mulai terlihat pada 1971-1972 dengan format konversi dari piringan hitan ke kaset pita maupun rekaman langsung dengan kaset pita.

“Produksi terakhir Lokananta dimulai awal dekade 70-an itu mulai berakhir sekitar 1995. Koleksi kaset pita di Lokananta ACD (arsip casette daerah/kode untuk kaset daerah) 297 koleksi, dan ACI (arsip casette Indonesia/kode untuk kaset nasional) 80 koleksi. Total koleksi ACD/ACI sekitar 350 kaset. Setelah 1995 itu produksi di Lokananta hanya berupa kerja sama dengan label lain,” papar dia.

Dari 1995 hingga 2005 Lokananta masih bekerja sama dengan label lain hingga akhirnya berhenti pada beberapa tahun terakhir. Pemanfaatan kaset pita sebagai strategi produksi mulai kembali dilakukan oleh sejumlah band-band indie pada 2012 dengan format mastering dari materi asli untuk dikonversi ke kaset pita.

Meski demikian, ada juga sejumlah band nasional yang melakukan perekaman sekaligus memproduksi kaset pita langsung di Lokananta. Salah satunya Slank dengan album Slank In Forever pada 2019 lalu.

“Permintaan dari sejumlah band atau rumah produksi itu ada yang hanya penggadaan kaset pitanya saja. Jadi mereka mengirimkan materi via email, kemudian dikonversi ke kaset pita. Tapi ada juga yang langsung rekaman dengan format kaset pita. Ini berlangsung sampai saat ini meski jumlahnya tidak sebanyak saat sebelum pandemi dulu,” terang Anggit.

Anggit mengklaim, proses produksi kaset pita di Lokananta salah satu yang terbaik di Indonesia. Kala rumah produksi kaset pita di berbagai penjuru Indonesia mulai kolap di pertengahan dekade 2000, Lokananta masih mempertahankan mesin produksi kaset pita buatan 1980. Hebatnya, mesin duplikator kaset pita di Lokananta ini bisa menghasilkan tiga kaset dalam sekali produksi.

“Mesin duplikator awal sekitar 1970 dulu itu prosesnya harus satu satu. Jadi menduplikasi side A baru kemudian side B. Nah, mesin duplikator di Lokananta ini langsung bisa menduplikasi side A dan side B secara bersamaan jadi lebih praktis. Kalau dirata-rata, sehari bisa memproduksi 100-150 kaset untuk satu mesin saja. Kebetulan di sini masih ada empat mesin duplikator yang masih sehat,” terang dia.

Kelebihan lainnya adalah bisa menyesuaikan durasi kaset yang diinginkan. Di Lokananta, produksi kaset pita tidak perlu menyesuaikan keberadaan bahan C60 ataupun C90 sehingga servis yang diberikan sangat penguntungkan bagi band, seniman, maupun rumah produksi yang melakukan produksi kaset pita di Lokananta.

“Kami ada alat untuk mengisi pita, jadi bisa disesuaikan lebih panjang atau lebih pendek. Jadi bahan kaset kosong itu ada C60 (durasi 60 menit) atau C90 (durasi 90 menit). Misalnya, master yang diberikan hanya 25 menit, kalau pakai C60 kan kepanjangan, jadi bisa kami potong sehingga kaset itu bisa berdurasi 25 menit. Begitu juga kalau menggunakan C90,” beber Anggit.

Produksi kaset pita semacam ini belakangan kian marak jelang berlangsungnya sejumlah event internasional. Salah satunya pada record store day (di Indonesia dimulai 2012 lalu, Red) setiap pekan kedua April maupun cassette store day pada pekan kedua Oktober. Ini event internasional untuk memperingati hari rilisan fisik sedunia.

“Di Solo, record store day maupun cassette store day dimulai 2014. Nah, pada momen-momen seperti ini biasanya sudah banyak permintaan yang akan masuk, baik band baru maupun band-band yang sudah punya nama besar. Kebanyakan alasan mereka mulai merilis kembali kaset pita karena ingin menggunakan itu sebagai merchandise saat rilis karya baru. Jadi digitalnya tetap jalan, namun juga masih mempertahankan rilisan secara fisiknya,” tutup dia. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Studio Musik legendaris Lokananta Surakarta #Rekaman dengan Kaset Pita Mulai Dilirik #Slank pun Kesengsem Kaset Pita #Kaset Pita Dilirik Lagi