“Konsepnya hanya sebagai pengingat saja dengan nilai-nilai tambah dari segi kelangkaannya saja. Untuk mengembalikan kaset pita ske era kejayaan seperti pada dekade 70-90 an itu akan sulit dilakukan. Apalagi mesin pemutar kaset pita itu saat ini sudah jarang dimiliki oleh masyarakat,” ujar Aris Setiawan, pengamat musik dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Adapun seorang atau kelompok seniman yang kembali melakukan proses produksi dengan kaset pita itu hanya dipandang sebagai merchandise saja. Tiga puluh tahun tahun lalu kaset itu ditempatkan sebagai sebuah karya musik dari seorang atau sekelompok seniman. Namun untuk era sekarang hanya dipandang sebagai barang yang memiliki nilai lebih karena kemewahan atau keantikannya.
“Kalau zaman dulu orang beli musik lewat kaset. Kalau zaman sekarang kaset hanya bonus. Konsepnya seperti ini, zaman dulu Anda membeli karya musik lewat kaset pita, kalau saat ini kamu beli karya musik dapat kasetnya. Pola berpikir seperti ini yang diubah,” jelas Aris.
Menimbang kelangkaan produksi kaset pita maupun mesin pemutarnya pada masa-masa sekarang ini, kaset pita di pasaran tentunya dipandang sebagai barang antik. Akhirnya kaset pita menjadi sebuah barang mewah yang dicari bukan karena siapa artisnya namun lebih ke keberadaan kaset pita itu sendiri yang sudah menjadi cukup langka di pasaran.
“Artis yang memproduksi karya lewat kaset pita bahkan lewat piringan hitam lebih dipandang sebagai sebuah kepuasan tersendiri bagi si seniman maupun rumah produksinya. Saya kira era kaset pita tidak akan kembali ke era kejayaannya dulu, namun jika tumbuh sebagai barang antik yang menjadi kebanggaan itu mungkin saja,” ucap dia.
Di luar itu semua, Kota Bengawan harusnya bangga dengan keberadaan Lokananta sebagai salah satu industri musik yang masih memproduksi kaset pita bahkan piringan hitam hingga saat ini. Menimbang unsur kesejarahan dan kebudayaan yang ada di sana, semua pihak harus sadar bahwa wajib hukumnya untuk terus merawat dan mempertahankan kebedaan Lokananta yang lahir bukan hanya sebagai tempat industri music, namun juga menjadi museum hidup musik Indonesia.
“Kita harus melihat Lokananta bukan hanya sebagai industri saja, namun juga sebagai simbol pergerakan, sejarah, dan budayaan masa lalu yang masih eksis sampai sekarang. Pemerintah wajib menjaga itu agar masih bisa dinikmati oleh generasi di masa mendatang,” tutur Aris. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram