ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Seekor ikan bercorak gelap dengan bercak hijau di bagian sisiknya bergerak tenang sambil dikelilingi ikan nila merah di kolam berukuran 2 x 1 meter di depan rumah milik Aris Sarwanto. Panjang ikan itu 80 cm.
Ketika ikan itu digoda dengan sapu lantai langsung berubah menjadi ikan predator yang buas. Dia adalah ikan jenis green toman yang ditemukan Aris bersama teman-temannya saat mencari ikan di embung Desa Sabrang Lor, Kecamatan Trucuk dua pekan lalu. Ikan itu seberat 7 kg itu akhirnya dirawat di kolam depan rumahnya.
Jawa Pos Radar Solo sempat meminta Aris untuk membopong ikan toman tersebut. Tetapi dia tidak berani karena khawatir justru jarinya yang terkena gigitan ikan yang terkenal buas itu. Apalagi sang ikan buas itu memiliki gigi yang bergerigi.
Cerita bermula saat Aris bersama puluhan temannya mencoba mencari ikan di embung yang hendak direvitalisasi menjadi wisata pemancingan dan kuliner di Trucuk. Padahal dia seringnya mencari ikan di sejumlah sungai sekitar rumahnya. Biasanya Aris mencari ikan dengan cara menyetrum menggunakan aki sepeda motor berkekuatan 12 volt.
Dia tidak menyangka, baru kali pertama mencari ikan di embung itu bisa mendapatkan ikan toman. Padahal biasanya hanya mendapatkan ikan wader dan kutuk. Saat ditemukan ikan toman ini dalam kondisi lemas usai terkena sengatan setrum dari pancingnya yang dicelupkan ke sungai.
“Saya langsung masukan ikan ini ke akuarium selama 10 menit. Tetapi tidak ditemukan tanda-tanda hidup. Saya pikir waktu itu airnya kurang dingin lalu saya pindah ke kolam alam dan tak lama kemudian ikan ini bisa hidup,” jelas Aris saat ditemui di rumahnya di Desa Jogosetran, Kecamatan Kalikotes, Senin (6/9).
Aris akan memelihara ikan yang biasanya hidup di sungai dan rawa di Kalimantan ini. Apalagi ikan jenis tersebut cukup langka bisa ditemukan di Klaten. Tidak ada niatan untuk menjual ikan toman temuannya itu.
Dia mengaku tidak tahu siap yang mengunggah foto ikannya itu di media sosial sehingga banyak menyedot perhatian. Bahkan sampai ada yang menawar Rp 5 juta hingga Rp 17 juta.
“Kalau tawaran itu benar tidak akan saya lepas. Saya memilih ikan saya biar sampai mati di kolam saja,” ucap pria yang sehari-harinya bekerja sebagai jual beli sepeda motor ini
Sejak awal dia mengetahui jika jenis ikan toman tersebut termasuk mahal. Apalagi yang jenis green toman dengan panjang 30 cm bisa dihargai Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Sedangkan ikan miliknya memiliki panjang 80 cm sehingga untuk harga jualnya sebenarnya jauh pebih tinggi. Tetapi tidak ada niatan untuk menjualnya.
“Tetap saya pelihara, apalagi saya juga telah menyiapkan kolam yang lebih besar lagi. Ini kan cukup langka. Apalagi saya berharap ikan ini bisa membawa keberuntungan bagi saya,” ucapnya.
Ikan toman milik Aris cukup manja, karena tidak mau makan apabila tidak disodorkan alias disuapi. Sekalipun di sekelilingnya terdapat ikan nila tetapi tidak memakannya. Ikan ini lebih memilih memakan ikan nila berukuran tiga jari yang dipegang oleh Aris sebelumnya.
“Untuk saat ini, saya berikan makan dua ekor ikan nila. Dalam satu hari saya berikan dua kali. Kalau mau kasih makan ya harus disodorkan dulu, kalau tidak ya tidak mau makan,” ujarnya sambil tersenyum.
Aris tidak tahu, kenapa ikan toman ini bisa berada di embung Desa Sabrang Lor. Apalagi usai ditemukan ikan toman tersebut juga ditemukan bulus dalam kondisi mati di lokasi yang sama pada Senin (6/9) dini hari. (*/bun) Editor : Damianus Bram