Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Lenang Manggala, dari Solo Nyalakan Indonesia dengan Literasi

Damianus Bram • Senin, 20 September 2021 | 14:15 WIB
Lenang Manggala, terus berjuang untuk  Nyalakan Indonesia dengan Literasi. (ISTIMEWA)
Lenang Manggala, terus berjuang untuk Nyalakan Indonesia dengan Literasi. (ISTIMEWA)
RADARSOLO.ID - Pernah dicap sebagai anak bandel dan tidak memiliki masa depan. Namun, Lenang Manggala akhirnya segera sadar dan terlecut untuk bangkit. Dia kini berhasil keliling dunia dengan karyanya sebagai penulis dan socialpreneur.

SEPTIAN REFVINDA Solo, Radar Solo

Memegang tiga rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Mendistribusikan lebih dari 10 ribu buku ke seluruh Indonesia. Dan telah membantu 200 ribu lebih akademisi untuk menulis dan menerbitkan buku. Inilah sekilas gambaran sosok Lenang Manggala, founder Nyalanesia.

Nyalanesia merupakan sebuah platform yang menyajikan puluhan program literasi terintegrasi yang memfasilitasi akademisi Indonesia untuk berkarya.  Nyalanesia merupakan singkatan dari “Mari Nyalakan Masa Depan Indonesia”.

Sebelum mencapai pada titik ini, lulusan Universitas Sebelas Maret yang memiliki nama asli Imam Solikhi ini sempat mengalami lika-liku perjuangan hidup cukup panjang.

“Dulu saya itu nakal sekali. Saya pernah mengunci guru di dalam kelas, memecahkan kaca jendela, merobohkan ring basket dan pernah main kartu di kelas. Itu sebabnya banyak guru sering menyebut saya anak nakal dan tidak punya masa depan,” ujar pria kelahiran 13 Maret 1993 ini.

Namun dari beberapa guru itu, ada satu guru yang tetap sabar menghadapi kenakalan Lenang kecil. Guru tersebut percaya bahwa Lenang memiliki potensi dan masa depan yang cemerlang.

Atas motivasi ini dia memiliki kepercayaan diri akan masa depannya. Dan mulai berusaha keras untuk membuktikan kepada guru dan teman-temannya bahwa dia juga bisa menjadi orang sukses.

“Mulai dari situ, saya dibimbing Pak Abi, guru yang memotivasi saya itu untuk belajar menulis. Awalnya ikut lomba mading di sekolah. Saya sampai bisa mewakili sekolah untuk bertanding di tingkat provinsi. Dari situ percayaan diri saya mulai tumbuh,” ujar peraih 1st Winner Bussiness Model Competition dan Top 20 ASEAN Young Socialpreneurs di bidang sosial enterprise.

Berdasarkan pengalaman itulah, Lenang bertekad ingin menciptakan Pak Abi- Pak Abi yang lain. Dia ingin semua guru mampu mendukung dan menggali potensi siswanya. Sebab itu, Lenang berusaha keras mendirikan Nyalanesia sebagai inisiator sekaligus fasilitator bagi seluruh akademisi Indonesia. Dengan berbagai program, dia ingin guru-guru di Indonesia memiliki kompetensi yang unggul dalam bidang literasi.

“Karena di tangan gurulah masa depan Indonesia itu dipegang. Dengan gurulah anak-anak akan tumbuh dan memimpin masa depan bangsa. Sehingga di sini peran guru itu sangat penting,” kata pemecah rekor MURI lomba menulis dengan jumlah peserta terbanyak 40 ribu peserta ini.

Pada awalnya Lenang juga bercita-cita menjadi guru. Namun, setelah dia belajar banyak hal, dia berpikir menjadi guru saja tidak akan cukup untuk membantu pendidikan Indonesia. Meski lulusan sarjana pendidikan, tak menghalangi dia untuk merambah bidang wirausaha dengan senjata literasinya.

“Berkat karya dan portofolio saya, akhirnya ada orang yang menghargai usaha saya. Saya pernah diundang ke istana presiden. Sekarang saya juga mengajar sebagai dosen di salah satu universitas di Solo,” terangnya.

Perjalanan Lenang tak semulus yang dibayangkan. Saat awal merintis usahanya, dia mengaku hampir bangkrut. Dia bahkan pernah menjual barang-barang pribadinya untuk membiayai program Nyalanesia. Pernah juga dia mengambil langkah penuh risiko yakni meminjam uang dari bank.

“Sering saya dulu jual barang pribadi ke teman. Sampai tidak punya uang sepeserpun. Tapi saya bersyukur selalu saja keajaiban dari Allah. Saya mendapatkan hadiah dari bank berupa smartphone. Tapi juga saya jual untuk membiayai program Nyalanesia,” katanya.

Dengan Nyalanesia ini, Lenang kini bisa membantu 280 ribu siswa dan guru. Bekerja sama dengan 1.300 mitra sekolah di 33 provinsi di Indonesia. Mendonasikan 3.000 buku untuk kemajuan pendidikan. Serta bermimpi untuk menghadirkan ekosistem dan program-program literasi yang inovatif dan progresif bagi 100 juta akademisi di seluruh Indonesia.

Lenang percaya bahwa setiap manusia harus dapat mendayagunakan dirinya dan orang lain. Dengan berbagai program ini dia berharap dapat membantu para guru, peserta didik dan seluruh elemen akademi agar mampu berkembang di berbagai bidang literasi.

Pesan Lenang untuk anak muda di seluruh Indonesia, bahwa ilmu pengetahuan tanpa tindakan nyata, hanyalah omong kosong belaka. Tindakan nyata tanpa kontribusi untuk sesama, juga tak berarti apa-apa. Maka dibutuhkan satu paket yang berisi keduanya, yakni semangat berkarya. 

Dengan semangat berkarya, seseorang akan mampu memberikan kontribusi untuk dunia, serta berhasil mencapai kehidupan yang sejahtera dan bermakna” ujarnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Nyalanesia #Lenang Manggala #Mari Nyalakan Masa Depan Indonesia #Kisah Lenang Manggala #Lenang Manggala Penulis dan Socialpreneur