IWAN ADI LUHUNG, Sukoharjo, Radar Solo
Suara riuh tepuk tangan tamu undangan menggema di Ballrom Hotel Best Western Premier Solo Baru Sukoharjo saat buku yang ditulis oleh putra semata wayang Bupati Wonogiri Joko Sutopo ini resmi dirilis Sabtu malam (9/10). Anak itu mantap berdiri di atas panggung bersama sang ayah dan ibudanya Verawati.
Nugrah, sapaan akrabnya, memang merilis buku tulisannya sendiri. Tebalnya 143 halaman, belum termasuk kata pembuka dan sekapur sirih yang juga termuat di dalamnya. Buku itu mulai digarap pada April lalu.
Ada 14 bab di buku bersampul perpaduan warna ungu dan hijau itu. Judul bukunya: Unboxing Me Siapa Bilang Jadi Anak Bupati Selalu Enak? Ceritaku Sebelum 12.
Buku itu tak melulu berisi tulisan saja. Di setiap bab pasti ada gambar yang menunjukkan momentum isi cerita dalam bab itu. Contohnya di bab 5 yang berjudul Piknik yang Tercekik. Terdapat gambar yang menceritakan Nugrah bersama kedua orang tuanya melihat gerhana matahari total di Bangka Belitung.
Dalam buku itu, Nugrah menceritakan kisah-kisahnya sebagai anak bupati. Tak dipungkiri, sebagian orang berpandangan menjadi anak bupati selalu hidup enak. Dan itulah yang diceritakan oleh Nugrah.
"Jujur nggak ada paksaan saat nulis buku ini. Mengalir begitu saja sesuai dengan kenyataan," kata Nugrah saat ditemui usai acara rampung.
Suka dukanya sebagai anak bupati bisa dilihat dari buku itu. Dia juga mengakui, bahwa tak bisa dipungkiri menjadi anak bupati bisa mendapatkan berbagai fasilitas. Nyaris semua keinginannya bisa dipenuhi apalagi saat berada di Wonogiri. Bahkan dia mengakui senang bisa bermain dengan ajudan ayahnya.
Tapi dari buku itu, dapat diketahui bahwa Nugrah juga merasakan saat-saat tidak enak saat menjadi anak bupati. Misalnya kurang memiliki waktu bersama ayahnya Joko Sutopo. Ya, sehari-hari Nugrah memang bersama sang bunda tinggal di Jogjakarta. Dia menempuh pendidikan dasar di Olifant Elementary School Jogjakarta. Saat ini duduk di bangku kelas VI.
Sementara sang ayah lebih banyak berada di Kota Sukses, menjalankan tugasnya sebagai bupat. Tak jarang rasa rindu dengan sang ayah merasuk di dalam benaknya. Nugrah pun hanya bisa melepas rindu lewat panggilan telepon dengan sang ayah.
"Dukanya ya itu, susah ketemu sama ayah. Ketemunya biasanya akhir pekan pulang (ke Jogjakarta). Kalau kangen nunggu aja, kalau enggak ya telepon," kata dia.
Anak 11 tahun ini sebenarnya belum secara khusus menyebutkan cita-citanya. Saat ini, dia lebih memilih untuk mengikuti minatnya yakni melukis, menggambar hingga desain grafis. Apa ingin menjadi bupati seperti ayahnya? "Enggak. Ga punya banyak waktu luang," kata dia sambil sedikit tertawa.
Anak kelahiran Sleman 28 Mei 2010 ini mengaku bahwa selama ini ibunya yang lebih sering menemani dia. Namun Nugrah ingin agar bundanya tak terlalu membatasi dia. Sementara itu harapannya untuk sang ayah sangat sederhana.
"Pengin ayah bisa meluangkan waktu lebih banyak," kata dia.
Sementara itu, Verawati Joko Sutopo mengatakan, putranya pernah mengikuti suatu tes bakat minat. Hasilnya, bakat minat Nugrah ternyata di bidang bahasa dan menulis. Karena itu, dia dan sang suami mencoba lebih menggali potensi yang dimiliki si anak.
"Beberapa tahun lalu saya menulis buku. Nugrah bilang kalau pengin menulis juga. Saya bilang dia harus melakukan sesuatu," kata dia.
Dia menceritakan, Nugrah sempat menulis sejarah Wonogiri hingga membikin komik. Namun, hal itu belum bisa dirampungkan. Akhirnya, Nugrah memilih untuk menulis curhatannya daripada meluapkan emosinya.
Tiba-tiba, Nugrah menyodorkan tulisannya yang sudah dicetak di puluhan lembar kertas HVS. Vera juga sempat kaget dengan tulisan si anak yang lebih banyak berisi protes terhadap kurangnya waktu luang sang ayah terhadap dia. Setelah dirundingkan dengan sang suami, maka mereka mengizinkan sang anak menuangkan itu menjadi sebuah buku. Sebab, itu memang sesuai dengan kenyataan yang dialami Nugrah.
Demi menemani sang anak, bahkan Verawati harus rela resign sebagai PNS di Balai Besar Veteriner Jogjakarta. Ini dilakukan setelah nilai anaknya sempat jeblok di sekolah. Dan setelah ditanya gurunya, Nugrah mengaku sedih karena ayah dan ibundanya selalu sibuk dengan pekerjaan.
"Akhirnya saya berdiskusi dengan suami untuk keluar (dari PNS). Kami coba temani Nugrah menyalurkan bakatnya," terang dia.
Dampak positif lain, setelah membaca draf buku itu, sang suami pun berubah. Misalnya, sebelum membaca tulisan Nugrah saat bertelepon suaminya lebih sering berbincang dengannya. Namun setelah membaca draft itu, suaminya lebih banyak berbincang dengan Nugrah.
Joko Sutopo pun mengaku sempat kaget dengan tulisan yang dibikin oleh Nugrah. Yang banyak memprotes kurangnya waktu dia bersama anaknya. Dia pun sempat merenung saat kali pertama membaca tulisan anaknya. Dia pun menyadari bahwa kondisinya memang sesuai apa yang ditulis.
"Kami akan berdiskusi panjang harapan soal waktu bersama ini. Keluarga kami biasa berdiskusi, kalau bahasa saya dengan Nugrah ini urusan laki-laki. Prinsipnya anak kami sudah bisa menerima bahwa ayahnya menjabat sebagai bupati dengan konsekuensi yang dihadapi," kata pria yang akrab disapa Jekek ini.
Jekek juga sempat teringat dengan masa kecilnya yang lahir dari keluarga yang tidak utuh, bahkan hingga saat ini belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Hal itu pun menyentuh alam bawah sadarnya.
"Saat melihat Nugrah menuangkan kegalauan, ceritanya, dan harapannya pada sebuah buku ini membuat saya merenung. Sedikit merasakan kesedihan waktu kecil. Makanya saya dan istri membuat komitmen dengan Nugrah. Waktu yang dimiliki saat bersama harus dimaksimalkan.," kata dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram